IHSG akhirnya memutus tren pelemahan enam bulan berturut-turut dengan mencatatkan rebound 10,5% MoM ke level 6.236 pada Juli lalu. Di permukaan, data foreign flow juga terlihat manis dengan mencatatkan net buy sebesar US$88,5 juta. Namun, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa modal asing telah sepenuhnya kembali.
Jika kita mengeluarkan transaksi block trade jumbo pada saham MAPI senilai US$515 juta dari perhitungan, pasar saham domestik sebenarnya mengalami net outflow riil sebesar US$426 juta. Angka ini menegaskan bahwa minat beli asing secara organik masih sangat selektif dan cenderung defensif.
Di tengah rotasi dana yang belum merata ini, investor institusi lokal maupun asing terlihat bermain aman dengan mempertebal posisi pada saham-saham large caps berfundamental kokoh seperti TLKM, BBCA, dan AMRT. Meski begitu, terdapat divergensi menarik dalam aktivitas transaksi bulanan:
- Investor Asing: Terpantau aktif mengoleksi ANTM, GGRM, dan ICBP, sembari mengurangi porsi kepemilikan di MAPA dan SMGR.
- Investor Domestik: Justru menampung saham MAPA dan ASII yang dilepas asing, namun melakukan aksi jual pada MTEL dan ANTM.
Untuk kasus MAPI, penurunan kepemilikan institusi terjadi seiring dengan proses mandatory tender offer oleh Pacific Universal dan CVC Capital Partners. Di sisi lain, laju indeks pada Juli banyak ditopang oleh lonjakan saham komoditas seperti AMMN (+32,3%) dan INCO (+28%), sementara sektor konsumer seperti CPIN dan KLBF justru menjadi pemberat (laggards).
Dari sisi makroekonomi, indikator domestik menunjukkan performa yang bervariasi. Kabar baik datang dari sektor riil di mana Manufacturing PMI kembali ke zona ekspansi di level 50,2 pada Juli, naik dari 46,9 pada Juni. Inflasi Juli pun melandai ke level 2,88% YoY.
Namun, tekanan pada external account belum sepenuhnya mereda. Defisit neraca perdagangan Juni tercatat sebesar US$450 juta karena pertumbuhan impor (+34,3% YoY) masih jauh melampaui kinerja ekspor (+8,8% YoY).
Agar momentum pemulihan pasar saham ini bisa bertahan lama, investor membutuhkan kepastian arah kebijakan fiskal yang lebih kredibel. Fokus pasar kini tertuju pada pembacaan RAPBN 2027 pada pertengahan Agustus serta penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru. Di tengah valuasi pasar yang mulai menarik namun masih dibayangi risiko ketidakpastian global, strategi selektif pada saham-saham dengan balance sheet kuat seperti BBCA, TLKM, dan ASII tetap menjadi pilihan paling rasional.