LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

IHSG Rebound 20%, Tapi Bull Market Belum Terkonfirmasi

IHSG sudah rebound ~20% dari low Juni, Rupiah memimpin penguatan EM 4 hari berturut-turut. Tapi dengan YTD -25%, ini baru babak awal.


Angka 20% itu menarik perhatian. Dari titik terendah awal Juni, IHSG sudah rebound hampir 20% — secara teknikal mendekati definisi bull market. Intraday 10 Agustus, indeks naik 0,8% lagi, didorong BBCA dan MDKA. Rupiah memimpin penguatan di antara mata uang emerging markets selama empat hari berturut-turut. MSCI EM Equity naik 0,7%. Semuanya bergerak searah.

Tapi konteksnya penting: IHSG masih minus 25% secara YTD, dan masih ~30% di bawah level puncak tertingginya. Rupiah, meski sedang jadi top performer di EM beberapa hari terakhir, secara kumulatif masih termasuk mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Jadi ini bukan bull market — ini rebound yang sedang mencari konfirmasi.

Penggerak utamanya datang dari luar. Data payrolls AS yang lebih lemah dari ekspektasi memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed, menekan DXY turun 0,4% ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Ketika dolar melemah, modal mengalir ke aset EM — dan itulah yang sedang terjadi. Indonesia kebetulan berada di posisi yang lebih siap menerima arus masuk itu dibanding sebelumnya.

Kenapa Indonesia? Ada beberapa hal yang berubah sejak awal tahun. BI sudah menaikkan suku bunga total 100 bps di Mei dan Juni, memberikan yield buffer yang lebih menarik bagi investor asing. GDP Q2 tumbuh di atas ekspektasi, inflasi melandai, dan earnings emiten secara umum melampaui estimasi. Di sisi struktural, ada reformasi pasar modal yang sedang berjalan — peningkatan syarat minimum free float, penunjukan CEO BEI baru Jeffrey Hendrik, dan rencana demutualisasi bursa. Ini bukan katalis instan, tapi memberikan narasi jangka menengah yang lebih solid.

Yang menentukan apakah rebound ini berlanjut jadi sesuatu yang lebih besar adalah data US CPI pekan ini. Jika inflasi AS kembali melandai, ekspektasi Fed pivot menguat, dolar bisa lanjut melemah — dan itu membuka ruang lebih jauh untuk EM rally. Sebaliknya, jika CPI mengejutkan ke atas, seluruh narasi ini bisa berbalik cepat.

Selain itu, perlu dilihat apakah capital inflow ke Indonesia bersifat berkelanjutan atau sekadar rotasi taktis jangka pendek. Foreign flow yang konsisten, dikombinasikan dengan Rupiah yang stabil dan earnings yang terjaga, adalah kombinasi yang dibutuhkan untuk mengkonfirmasi bahwa ini bukan sekadar bear market rally.

The rebound is real. The bull market is not confirmed yet. That distinction is where the opportunity lies.