Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pada bulan Juni, dengan angka defisit yang menyempit menjadi $0,45 miliar. Angka tersebut berada jauh di bawah estimasi konsensus para ekonom yang memproyeksikan defisit sebesar $0,78 miliar.
Kinerja ekspor menjadi pendorong utama di balik rilis data yang lebih solid ini. Ekspor Indonesia membukukan pertumbuhan sebesar 8,84% y/y menjadi $25,46 miliar, membalikkan proyeksi pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 1,15%. Dari sisi sektoral, kenaikan ekspor ditopang oleh sektor pertambangan yang tumbuh 10,92% y/y serta sektor manufaktur yang naik 9,86% y/y. Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 11,36% y/y.
Rentang estimasi para ekonom untuk neraca perdagangan Juni memang cukup lebar, berkisar antara defisit $2,00 miliar hingga surplus $4,30 miliar. Hal ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar terhadap arah pergerakan harga komoditas global dan volume perdagangan bilateral.
Di sisi lain, impor mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 34,27% y/y menjadi $25,91 miliar. Realisasi ini melampaui estimasi konsensus yang memprediksi pertumbuhan impor di level 23,30%. Akselerasi impor yang cukup agresif ini mengindikasikan aktivitas manufaktur domestik yang ekspansif serta permintaan bahan baku yang kuat, meskipun di sisi lain menekan neraca perdagangan tetap berada di zona defisit.
Untuk kinerja komoditas utama sepanjang semester pertama (1H), ekspor CPO (palm oil) tercatat sebesar 11,28 juta ton, tumbuh tipis 2,5% y/y. Sementara itu, volume ekspor batu bara (coal) mengalami penurunan sebesar 6,37% y/y menjadi 172,45 juta ton, merefleksikan normalisasi permintaan dari negara-negara importir utama serta volatilitas harga energi global.
Secara keseluruhan, meskipun Indonesia masih mencatatkan trade deficit, realisasi yang lebih rendah dari perkiraan ini memberikan sentimen positif bagi stabilitas nilai tukar Rupiah. Kuatnya pertumbuhan ekspor di sektor pertambangan dan manufaktur diharapkan mampu menopang ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.