Rilis data makroekonomi Indonesia untuk periode Juli 2026 menunjukkan kombinasi yang sangat menguntungkan bagi pasar keuangan: inflasi yang melambat diiringi dengan kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup solid di tengah ketidakpastian global.
Consumer Price Index (CPI) tahunan tercatat tumbuh 2,88% YoY, melambat dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,34% dan berada di bawah konsensus pasar yang memperkirakan angka 3,20%. Secara bulanan (MoM), Indonesia mengalami deflasi sebesar -0,14%, berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni 2026. Penurunan ini didorong oleh koreksi harga pada kelompok volatile foods, dengan bawang merah menyumbang andil deflasi sebesar -0,11%, disusul emas perhiasan (-0,08%), serta cabai merah dan cabai rawit masing-masing -0,06%.
Sementara itu, Core CPI stabil di level 2,76% YoY, sedikit di bawah ekspektasi konsensus sebesar 2,79%. Angka inflasi inti yang terjaga ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih relatif stabil tanpa adanya tekanan demand-pull inflation yang berlebihan. Secara Year-to-Date (YTD), inflasi kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026 berada di level 1,65%.
Kabar positif lainnya datang dari sektor riil, di mana S&P Global Manufacturing PMI Indonesia melonjak kembali ke level 50,2 dari posisi 46,9 pada bulan Juni. Angka di atas ambang batas 50 ini menandakan bahwa sektor manufaktur kembali masuk ke zona ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi singkat pada bulan sebelumnya.
Melambatnya inflasi yang disertai dengan ekspansi PMI memberikan ruang kebijakan (policy space) yang lebih fleksibel bagi Bank Indonesia (BI). Dengan inflasi yang terkendali di dalam kisaran target, BI tidak memiliki tekanan mendesak untuk memperketat kebijakan moneter, memberikan kepastian lebih bagi pasar obligasi domestik karena ekspektasi stabilitas yield yang terjaga.
Bagi pasar saham (IHSG), rilis data yang lebih baik dari ekspektasi ini berpotensi memicu sentimen positif, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan, properti, barang konsumen, dan infrastruktur. Di pasar valuta asing, stabilitas makroekonomi ini juga berpotensi memberikan support tambahan bagi pergerakan nilai tukar Rupiah.