Indosat (ISAT) sedang bergerak ke arah yang tidak banyak diantisipasi pasar — bukan sekadar operator telekomunikasi, tapi serius masuk ke bisnis AI compute infrastructure. Dan angka-angkanya cukup besar untuk tidak diabaikan.
Di level harga sekitar Rp2.560, ISAT diperdagangkan di 9.4x FY26F P/E dan 8.9x FY27F P/E — dengan earnings CAGR FY25–27 hampir 20%. PEG ratio-nya di bawah 0.5x. Untuk sektor telko yang biasanya dihargai flat karena subscriber growth yang stagnan, ini anomali yang menarik. Pelanggan seluler memang hampir tidak bergerak di kisaran 95–100 juta, tapi ARPU terus naik melewati Rp45.000 dan data traffic sudah tembus 5.000 PB per kuartal. Artinya monetisasi jaringan yang ada masih jalan, bahkan tanpa pertumbuhan subscriber.
Tapi tesis utamanya bukan di situ. Ada dua layer AI yang sedang dibangun ISAT, dan keduanya berpotensi mengubah business mix secara fundamental.
Layer pertama: Neo Cloud via Lintasarta. ISAT — lewat kepemilikan 72% di Lintasarta — sudah mengamankan kontrak Neo Cloud senilai US$300 juta per tahun dengan EBITDA margin sekitar 80%. Capex yang dikeluarkan sekitar US$650 juta, dengan GPU cluster berbasis NVIDIA Grace Blackwell yang dijadwalkan operasional Oktober 2026. Project IRR-nya diestimasi sekitar 20%. Kalau angka ini terealisasi, kontribusi intrinsik ke ISAT sekitar Rp330 per saham — dan ini yang sebetulnya sudah mulai di-price in pasar saat ini.
Layer kedua: Zankore, yang jauh lebih spekulatif tapi juga jauh lebih besar. Zankore adalah joint venture antara Ooredoo (induk ISAT, pegang 49% setelah equity injection US$800 juta), ISAT, Nokia, dan NVIDIA — menargetkan kapasitas 1GW AI compute, dengan 200MW pertama sudah ter-contract. Potensi revenue-nya bisa mencapai US$13 miliar per tahun, EBITDA di atas US$9 miliar per tahun. Total intrinsic value Zankore diestimasi sekitar US$12.8 miliar. Kalau ISAT dapat 20% stake, itu setara ~Rp1.400 per saham tambahan ke equity value.
Masalahnya: stake ISAT di Zankore belum dikonfirmasi secara resmi. Asumsi 20% adalah proyeksi, bukan fakta. Disclosure diharapkan muncul sekitar earnings NVIDIA Agustus 2026. Ini risiko material yang tidak bisa diabaikan — kalau stake-nya lebih kecil, atau struktur deal-nya berbeda, angka target price Rp5.030 perlu direvisi signifikan.
Kalau kedua layer ini berjalan sesuai proyeksi, business mix ISAT akan berubah drastis dalam 10 tahun ke depan:
- AI revenue berkontribusi ~37.7% dari total revenue Rp138.5 triliun
- AI EBITDA berkontribusi ~46.9% dari total EBITDA Rp79 triliun
- Telko menjadi legacy business, Neo Cloud jadi core
Dari sisi balance sheet, capex FY26 melonjak ke Rp28.9 triliun — hampir dua kali lipat tahun lalu — karena investasi infrastruktur AI. Net gearing naik ke 0.4x, tapi masih manageable. Cash flow from operations juga solid di Rp24 triliun untuk FY26F, naik dari Rp19.9 triliun di FY25. Dividend yield pun menarik: 6.4% untuk FY26F dan berpotensi naik ke 9.5% di FY28F seiring earnings growth.
Satu hal yang perlu dicatat: estimasi EPS internal untuk FY26–28 berada 14–24% di atas konsensus. Ini bisa jadi dua hal — either conviction yang kuat berbasis channel check dan model yang lebih agresif, atau risiko disappointment kalau Zankore tidak terealisasi sesuai asumsi. Pasar saat ini tampaknya masih belum fully price in skenario Zankore, yang artinya ada asymmetric upside — tapi juga downside yang cukup tajam kalau deal gagal atau tertunda.