Indosat naik 14% setelah umumkan platform AI Zankore. Kapasitas 1 GW, investasi $5,5 miliar — apakah ini game changer atau risiko leverage yang berlebihan?
Saham Indosat (ISAT) melonjak 14% dalam satu sesi — jauh melampaui IHSG yang hanya naik 1% di hari yang sama — setelah perseroan mengumumkan platform infrastruktur AI bernama Zankore. Reaksi pasar ini cukup agresif, dan wajar untuk mempertanyakan apakah kenaikan tersebut sudah mencerminkan fundamentalnya, atau justru berlari lebih jauh dari datanya.
Zankore adalah joint venture antara ISAT, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Target kapasitasnya ambisius: hingga 1 Gigawatt infrastruktur AI, dengan fase pertama sebesar ~200 MW ditargetkan beroperasi pada 1H27. Hardware-nya menggunakan NVIDIA GB300 NVL72, yang saat ini berada di ujung tertinggi dari spektrum GPU data center.
Masalahnya ada di angka-angkanya. Berdasarkan benchmark capex NVIDIA sekitar $650 juta per 22 MW, membangun 200 MW pertama saja membutuhkan dana di kisaran $5,5 – $6,0 miliar. Ooredoo berkomitmen $800 juta dengan porsi kepemilikan 49%, sehingga total ekuitas awal diestimasi sekitar $1,6 miliar — sisanya harus datang dari utang, sekitar $4 miliar. Implikasinya: debt-to-equity ratio ISAT bisa menyentuh 2,4x – 2,5x, angka yang tidak ringan untuk emiten telko yang juga masih dalam siklus belanja 5G.
Dalam bull case, dengan asumsi kepemilikan ISAT di Zankore sebesar 15% dan unlevered IRR di atas 20%, ada potensi EPS accretion sekitar ~20% terhadap estimasi net income 2027E sebesar IDR 7,5 triliun. Angka ini menarik — jika utilisasi kapasitas berjalan sesuai rencana dan pricing GPU tetap terjaga.
Di sinilah bear case-nya masuk dengan argumen yang sama kuatnya. IRR >20% di bisnis AI infrastructure justru akan menarik gelombang modal baru ke kawasan — dari Malaysia, Thailand, hingga pemain regional seperti CoreWeave dan Firmus. Jika supply infrastruktur AI di Asia Tenggara meledak dalam 18–24 bulan ke depan, pricing compression GPU hampir pasti terjadi, dan utilisasi 200 MW dalam waktu kurang dari setahun menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.
Ada juga pertanyaan soal bagaimana ISAT mendanai semua ini secara bersamaan. Selain Zankore, perseroan masih punya komitmen capex untuk neocloud internal dan rollout 5G. Salah satu opsi yang beredar adalah menjual piutang neocloud yang sudah terkontrak — sebuah langkah yang masuk akal secara struktural, tapi menambah kompleksitas pada neraca yang sudah akan lebih padat.
Pada harga Rp2.170, dengan price target Rp3.200 untuk horizon Juni 2027, upside yang tersisa masih sekitar 47%. Tapi perlu diingat bahwa sebagian besar dari upside itu kini bergantung pada eksekusi Zankore — sebuah venture yang belum pernah diuji, di pasar yang belum terbentuk, dengan timeline yang sangat agresif. Bagi investor yang masuk sekarang, ini bukan lagi sekadar taruhan pada bisnis telko defensif ISAT — ini adalah taruhan pada kemampuan manajemen mengeksekusi proyek infrastruktur AI terbesar di Indonesia, tepat waktu dan dalam anggaran.