Net profit ITMG turun 6% q/q di 2Q26 meski ASP naik 7%. Cost pressure dari diesel dan DMO cap jadi penghambat utama margin.
Hasil keuangan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) kuartal kedua 2026 menyimpan cerita yang lebih kompleks dari sekadar angka headline. Net profit tercatat US$51 juta — turun 6% q/q, meski secara tahunan melonjak 157% y/y. Penyebabnya bukan dari sisi harga, melainkan cost yang bergerak sama cepatnya.
Blended ASP ITMG naik 7% q/q ke US$84/ton. Angka ini memang positif secara absolut, tapi jauh tertinggal dari benchmark Indonesian ICI2 yang naik 18% q/q di periode yang sama. Gap ini bukan anomali — ini konsekuensi langsung dari porsi DMO yang lebih besar di 2Q26. Penjualan ke PLN dibatasi di US$70/ton, sehingga ketika harga pasar ekspor melambung, ITMG tidak bisa sepenuhnya menikmati upside tersebut.
Di sisi biaya, implied cash cost naik sekitar 7% q/q atau sekitar US$5/ton — hampir identik dengan kenaikan ASP secara sekuensial. Artinya, margin expansion yang seharusnya terjadi dari pricing upside praktis terkikis habis oleh cost inflation. Pendorong utamanya adalah pass-through harga diesel dari kontraktor tambang, yang tampaknya belum ada tanda-tanda mereda. EBITDA per ton hanya tumbuh US$0,6/ton menjadi US$17/ton, padahal ASP naik US$5/ton q/q — rasio yang mencerminkan betapa tipisnya leverage operasional di kuartal ini.
Satu-satunya bright spot yang cukup berarti adalah volume. Produksi 2Q26 mencapai 6 juta ton, naik 11% q/q dan 2% y/y. Pencapaian ini cukup solid mengingat ITMG menghadapi pemotongan kuota RKAB 2026 sebesar sekitar 30%. Masalahnya, justru di sinilah risiko terbesar muncul: dengan laju produksi saat ini, kuota RKAB bisa habis sebelum September jika revisi tidak disetujui pemerintah pada Agustus. Jika itu terjadi, volume 2H26 akan terpukul signifikan.
Ke depan, cost diperkirakan tetap sticky di 3Q26 selama harga diesel belum turun. Harga batubara sendiri relatif flat quarter-to-date, dan ada potensi tekanan lebih lanjut ke 2027 jika RKAB secara industri dinaikkan secara agresif — supply tambahan dari produsen domestik bisa menekan harga acuan.
Dengan harga saham di Rp24.900 dan price target Rp32.100 (upside sekitar 29%), rating Overweight masih dipertahankan. Tapi dengan rilis data 2Q26 yang di bawah ekspektasi ini, revisi negatif pada konsensus hampir pasti terjadi — dan harga saham kemungkinan akan merespons terlebih dahulu sebelum pasar mencerna ulang valuasinya. Bagi investor yang sudah hold, pertanyaan kuncinya adalah apakah revisi RKAB Agustus bisa menjadi katalis positif yang cukup untuk mengimbangi tekanan margin yang sedang berlangsung.