LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Jamie Dimon: Dolar AS Bisa Kehilangan Status Reserve Currency

Jamie Dimon memperingatkan Dolar AS bisa kehilangan status reserve currency dalam 25 tahun. Apa implikasinya terhadap harga emas ke depan?


Jamie Dimon bukan tipe orang yang bicara sembarangan. Sebagai CEO JPMorgan Chase — bank terbesar di Amerika Serikat — setiap pernyataannya punya bobot yang diperhatikan serius oleh pasar. Dan peringatan terbarunya cukup keras: Dolar AS berpotensi kehilangan statusnya sebagai reserve currency global dalam kurun waktu 25 tahun.

Ini bukan sekadar spekulasi pinggiran. Reserve currency status adalah fondasi dari dominasi ekonomi Amerika selama lebih dari tujuh dekade pasca-Bretton Woods. Ketika dolar dipakai sebagai denominasi utama transaksi perdagangan internasional, komoditas, hingga cadangan devisa bank sentral di seluruh dunia, Amerika mendapatkan keistimewaan luar biasa — kemampuan mencetak utang dengan bunga murah karena permintaan terhadap dolar selalu ada. Kehilangan status ini bukan hanya masalah simbolik; ini akan mengubah struktur keuangan global secara fundamental.

Peringatan Dimon muncul di tengah berbagai tekanan struktural yang memang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. De-dolarisasi bukan lagi wacana — beberapa negara secara aktif mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dalam transaksi bilateral mereka. Ditambah dengan defisit fiskal Amerika yang terus membengkak dan polarisasi geopolitik yang semakin tajam, pertanyaan soal keberlanjutan dominasi dolar memang semakin relevan untuk didiskusikan.

Yang menarik adalah keterkaitan langsung antara narasi ini dengan arah harga emas. Secara historis, emas dan dolar bergerak berlawanan arah — ketika kepercayaan terhadap dolar melemah, emas menjadi safe haven pilihan. Jika skenario pelemahan status dolar mulai diprice-in oleh pasar, bahkan secara gradual, tekanan beli terhadap emas bisa tetap terjaga dalam jangka menengah hingga panjang.

Tentu 25 tahun adalah horison yang sangat jauh untuk dijadikan basis keputusan investasi jangka pendek. Tapi pasar tidak selalu menunggu sebuah skenario benar-benar terjadi untuk mulai bereaksi — ekspektasi dan repositioning portofolio bisa dimulai jauh lebih awal. Pernyataan seorang Dimon yang menyebut angka konkret seperti ini, bagaimanapun, akan menjadi bagian dari narasi yang terus diulang di forum-forum investasi global.

Bagi investor yang memiliki eksposur ke aset berbasis dolar atau sedang mempertimbangkan alokasi ke emas, ini adalah momen yang tepat untuk memikirkan ulang asumsi jangka panjang dalam portofolio — bukan karena panik, tapi karena risiko geopolitik dan struktural seperti ini memang layak masuk dalam kalkulasi.