LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

JCI di Bawah -2SD: Murah, Tapi Kapan Rebound?

JCI saat ini diperdagangkan di bawah -2 standard deviation dari rata-rata PE 10 tahunnya. Bukan sekadar murah secara historis — ini adalah level yang terakhir terlihat saat panic selling "Liberation Day" 2025. Earnings yield ekuitas Indonesia kini sudah double-digit, jauh di atas yield obligasi pemerintah maupun instrumen SRBI yang saat ini menawarkan sekitar 7,6%. Spread selebar ini belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.

Ironisnya, justru SRBI itulah yang menjadi kompetitor utama ekuitas saat ini. Investor domestik memilih parkir di instrumen fixed income berbunga tinggi ketimbang masuk ke saham, sehingga likuiditas di pasar ekuitas tetap tipis dan re-rating valuasi tertahan. Ini bukan soal fundamental yang runtuh — ini soal risk-off sentiment yang belum mereda.

S&P Global Ratings sudah mengkonfirmasi ulang sovereign rating Indonesia di level investment-grade dengan outlook stabil, yang secara teknis menghapus salah satu tail risk terbesar bagi pasar. Tapi konfirmasi rating itu tidak serta-merta mengubah lanskap suku bunga global. US inflation masih stickier dari yang diharapkan, Fed easing kemungkinan besar tertunda, dan DXY tetap firm. Rupiah diperkirakan masih akan bergerak di kisaran IDR18.000/USD hingga akhir tahun. Dalam kondisi ini, ruang bagi Bank Indonesia untuk easing agresif sangat terbatas.

Target JCI year-end dipertahankan di 8.000 — mengimplikasikan FY26F PE 13,6x, di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,5x. Ini bukan target bullish; ini adalah base case yang sudah memperhitungkan Brent crude di USD100/bbl, USD/IDR di 18.000, dan risiko kehilangan status MSCI EM. Bull case 9.500 hanya bisa tercapai jika Indonesia tetap di MSCI EM, rating S&P terjaga, dan rupiah menguat ke 16.500. Bear case 5.200 mengimplikasikan pasar pricing in skenario resesi 2027 dengan PE 8x — sebuah level yang, jika tercapai, sudah melampaui rasionalitas fundamental.

Dari sisi arus modal asing, net foreign outflow YTD per Juli 2026 mencapai USD4,2 miliar — sedikit membaik dari USD4,25 miliar di Juni. Stabilisasi ini, dikombinasikan dengan hasil 2Q26 yang lebih resilient dari ekspektasi, menjadi sinyal awal bahwa momentum terburuk mungkin sudah terlewati. Secara historis, re-entry dari investor dengan mandat investment-grade-only terjadi dengan lag 1-2 kuartal setelah konfirmasi rating — artinya potensi inflow bisa mulai terasa di 3Q-4Q26.

IDX juga melakukan reformasi struktural yang patut diapresiasi: metodologi Highly Shareholding Concentration (HSC) kini mencakup 51 perusahaan, naik drastis dari 9 nama awal. Ini penting untuk eligibilitas indeks dan aksesibilitas pasar, meski dampaknya ke MSCI EM status masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Untuk stock picking, ada tiga tema utama yang relevan di 2H26:

  • Rate play: BBCA (BUY, TP IDR8.000) adalah pilihan utama. CASA mix 85% memberikan structural advantage dalam funding cost — bank ini tidak perlu mengejar deposit atau mengorbankan yield untuk mempertahankan loan growth guidance 8-10%. Berbeda dengan beberapa bank BUMN yang margin dan buffer provisinya sudah mulai tertekan. ISAT (BUY, TP IDR3.250) juga masuk tema ini — ARPU terus naik, dan potensi kontribusi Neo-Cloud sekitar USD240 juta EBITDA mulai FY27 bisa menjadi upside surprise yang belum fully priced in.
  • Export beneficiaries: MYOR (BUY, TP IDR2.300) dengan ~40% revenue dari ekspor mendapat natural hedge dari pelemahan rupiah. Valuasi saat ini di ~12x FY26F PE, sekitar 1,5 SD di bawah rata-rata lima tahun — terlalu murah untuk earnings recovery story yang sedang berjalan. ASII (BUY, TP IDR7.500) mendapat tailwind dari divisi heavy equipment UNTR seiring kenaikan kuota produksi batu bara, meski margin manufaktur otomotif masih menghadapi tekanan dari FX dan raw material cost di 2H26.
  • Mining & commodity exposure: MDKA (BUY, TP IDR4.400) menjadi pilihan baru menggantikan MEDC setelah outperformance MEDC bulan lalu. MDKA menawarkan exposure langsung ke gold, copper, dan nickel dalam satu vehicle — dengan upgrade net profit FY26F sebesar 221% ke USD165 juta, didorong produksi perdana Pani Gold. Saat ini diperdagangkan di 6,8x forward EV/EBITDA, diskon 66% terhadap rata-rata historis 5 tahunnya. ADRO (BUY, TP IDR3.200) tetap menarik dengan katalis aluminium smelter yang mulai berproduksi, sementara AKRA (BUY, TP IDR1.600) diuntungkan dari kenaikan aktivitas industri — gross profit industrial estate hampir dua kali lipat q/q di 2Q26. LSIP (BUY, TP IDR2.000) mendapat dukungan dari program B50 biodiesel dan potensi supply disruption CPO akibat El Niño yang mulai terbentuk.

Dari hasil 2Q26, universe yang dipantau mencatat earnings growth 13% y/y di 1H26 — sedikit melambat dari 14,4% di 1Q26, tapi masih solid mengingat backdrop geopolitik Iran-AS dan absennya demand musiman Lebaran. Sektor perbankan tumbuh 13% y/y, consumer 9,5% y/y, dan TMT rebound kuat 35% y/y didorong ARPU expansion. Yang perlu diwaspadai ke depan: margin pressure perbankan kemungkinan berlanjut hingga 3Q26 sebelum potensi stabilisasi di 4Q26, sementara credit cost yang selama ini menjadi cushion earnings mulai menyempit ruangnya.

Proyeksi earnings growth FY26 untuk universe ini berada di 6,4% y/y, diikuti akselerasi ke 8,3% di FY27. Angka ini sudah mempertimbangkan revisi konservatif pada ASII terkait divisi heavy equipment dan mining. Dalam kondisi market yang sudah terdiskon sedalam ini, earnings delivery — bukan passive flow — yang akan jadi primary driver re-rating ke depan.