LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

JCI Murah di P/E 8,8x: Kenapa Asing Hanya Borong BBCA?

Pasar saham domestik akhirnya mencatatkan performa bulanan positif pertama tahun ini dengan kenaikan JCI sebesar 10,5% sepanjang Juli. Rebound ini memangkas penurunan secara year-to-date menjadi 27,9%. Menariknya, terlepas dari pemulihan harga ini, valuasi pasar secara agregat masih tergolong sangat murah. JCI saat ini ditransaksikan pada level 8,8x 1-year forward P/E, posisi yang berada 2,3 standard deviation di bawah rata-rata historis lima tahun.

Meskipun diskon valuasi ini menawarkan entry point yang menarik, arah aliran dana asing (foreign flows) menunjukkan adanya selektivitas yang sangat ketat. Tekanan jual investor asing memang mereda dengan net outflow bulanan yang menyusut menjadi USD 393 juta. Namun, jika dibedah lebih rinci, terjadi divergensi yang mencolok di sektor perbankan.

Saham BBCA menjadi primadona dengan mencatatkan net foreign buy sebesar USD 79 juta di tengah momentum rebound saham-saham big cap. Sebaliknya, dua bank pelat merah utama, BBRI dan BMRI, justru terus dilepas asing dengan net sell masing-masing mencapai USD 69 juta dan USD 42 juta. Aksi jual juga melanda sektor industrials yang dipimpin oleh ASII dengan outflow USD 77 juta, serta sektor consumer cyclicals di mana saham MAPI mencatatkan penjualan bersih USD 65 juta.

Divergensi aliran dana ini terjadi di tengah rilis laporan keuangan kuartal kedua (2Q26) yang secara umum melampaui ekspektasi. Dari emiten yang dipantau, 38% berhasil mencatatkan kinerja di atas estimasi consensus, sementara tingkat kegagalan (miss rate) turun ke level 23%—terendah dalam tiga tahun terakhir. Secara agregat, net profit tumbuh 5,3% yoy, ditopang oleh sektor pertambangan mineral, telekomunikasi, dan finansial. Pertumbuhan top-line atau revenue growth juga terakselerasi ke level 6,3% yoy meskipun emiten masih menghadapi margin pressure.

Dari sisi makroekonomi, keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 5,75% memberikan kepastian jangka pendek, meskipun pasar sempat dikejutkan oleh pengunduran diri Perry Warjiyo yang digantikan sementara oleh Destry Damayanti. Di sisi lain, diversifikasi pembiayaan negara menunjukkan langkah progresif melalui debut penerbitan Panda Bonds senilai CNY 7 miliar dengan yield kompetitif di kisaran 1,90% hingga 2,19%.

Dengan fundamental korporasi yang solid dan valuasi JCI yang berada di area jenuh jual secara historis, downside risk untuk pasar saham domestik relatif terbatas. Namun, selama ketidakpastian makro global dan volatilitas nilai tukar rupiah membayangi, investor asing tampaknya akan tetap defensif dengan mengutamakan saham berkarakteristik high-quality earnings seperti BBCA, sembari menunggu re-rating valuasi pada saham bank BUMN dan sektor siklikal lainnya.