BOJ mulai kurangi pembelian JGB sejak 2024. Yield melonjak ke level tertinggi dalam dekade. Jepang kini melirik investor ritel untuk isi kekosongan permintaan.
Selama beberapa dekade, pasar obligasi pemerintah Jepang (JGBs) berjalan di atas satu fondasi besar: Bank of Japan. Dengan porsi kepemilikan sekitar 50%, BOJ bukan sekadar peserta pasar — ia adalah pasar itu sendiri. Tapi sejak 2024, dinamika itu mulai bergeser. BOJ perlahan mengurangi pembelian obligasi, dan pertanyaan yang muncul sangat mendasar: siapa yang akan mengisi kekosongan itu?
Struktur kepemilikan JGB saat ini tidak memberikan banyak ruang untuk optimisme jangka pendek. Bank dan institusi keuangan menguasai sekitar 40% sisanya, sementara rumah tangga Jepang — dengan populasi yang dikenal gemar menabung — hanya memegang 2%. Ketimpangan ini bukan kebetulan; selama bertahun-tahun, investor ritel tidak punya insentif nyata untuk masuk ke pasar obligasi pemerintah ketika yield-nya hampir nol.
Sekarang situasinya berbeda. Yield obligasi jangka panjang Jepang sudah bergerak ke level yang belum terlihat dalam beberapa dekade terakhir. Ini secara teknikal membuat JGB lebih menarik dibanding sebelumnya — tapi kenaikan yield juga berarti harga obligasi lama jatuh, dan bank-bank yang memegang posisi besar menanggung tekanan mark-to-market yang tidak kecil.
Di sinilah pemerintah Tokyo mulai bergerak. Kementerian Keuangan Jepang dilaporkan tengah mengkaji kemungkinan memasukkan obligasi pemerintah ke dalam program New NISA — skema investasi bebas pajak yang selama ini lebih dikenal sebagai jalur masuk ke pasar saham dan reksa dana. Jika ini terealisasi pada reformasi pajak fiskal 2027, ini akan menjadi perubahan struktural yang signifikan: untuk pertama kalinya, ada mekanisme fiskal yang secara eksplisit mendorong rumah tangga Jepang untuk menyerap utang negara sendiri.
Selain itu, sejumlah anggota parlemen juga mendorong insentif pajak warisan untuk pembelian JGB — pendekatan yang menyasar segmen demografis Jepang yang paling kaya aset: generasi tua dengan akumulasi wealth besar yang selama ini parkir di deposito atau aset fisik.
Dari sudut pandang makro, ini adalah upaya rebalancing yang sangat ambisius. Menggeser basis pembeli dari bank sentral ke investor ritel domestik bukan hal yang bisa dilakukan dalam satu atau dua kuartal. Demand gap yang ditinggalkan BOJ nyata dan besar. Sementara itu, Jepang tetap harus menerbitkan utang dalam jumlah masif untuk mendanai defisit fiskal yang sudah berlangsung lama.
Apakah insentif pajak cukup untuk mengubah perilaku 2% menjadi angka yang bermakna? Itu yang perlu diuji. Tapi arah kebijakannya jelas: Tokyo ingin pasar JGB tidak lagi bergantung pada satu buyer of last resort. Transisi ini — berhasil atau tidak — akan menjadi salah satu eksperimen kebijakan paling menarik di pasar obligasi global dalam beberapa tahun ke depan.