Ada satu narasi yang terus dijual ke investor: bahwa ekonomi Amerika sudah pulih merata, bahwa era K-shaped economy sudah berlalu. Data berkata sebaliknya.
K-shaped economy, secara sederhana, menggambarkan situasi di mana kelompok atas terus naik sementara kelompok bawah stagnan atau bahkan turun. Bukan sekadar retorika politik — ini tergambar jelas di data wage growth. Dalam beberapa tahun terakhir, wage growth untuk bottom 25% earners mulai melambat lebih cepat dibanding top 25%. Gap yang sempat menyempit kini mulai terbuka kembali, dan yang lebih mengkhawatirkan: semua wage growth sedang melambat secara bersamaan. Artinya, kelompok bawah tidak hanya tertinggal — mereka kehilangan momentum di tengah inflasi yang belum sepenuhnya jinak.
Soal wealth concentration, angkanya bahkan lebih ekstrem. Sejak 1989, top 0.1% mencatat kenaikan share kekayaan sekitar +6%, sementara kelompok 50–90% justru kehilangan sekitar 6.1% share-nya. Bottom 50%? Turun 1%. Ini bukan distribusi yang sehat untuk ekonomi berbasis konsumsi.
Yang membuat situasi ini relevan bagi investor adalah satu fakta kritis: hampir separuh aset milik top 1% ada di corporate equities dan mutual funds. Mereka adalah penerima manfaat terbesar dari rally S&P 500 dan Nasdaq yang sudah berlipat ganda sejak post-GFC. Ketika pasar naik, wealth effect-nya sangat terkonsentrasi di atas — bukan tersebar ke bawah.
Dan di sinilah disconnect-nya menjadi berbahaya. Consumer confidence, yang diukur year-over-year, sedang melemah. Tapi S&P 500 forward EPS justru terus menguat. Wall Street dan Main Street sedang berjalan ke arah yang berlawanan. Dalam jangka pendek, pasar bisa mengabaikan ini. Tapi dalam jangka menengah, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari.
Bottom 90% income earners menyumbang sekitar 80% dari total consumer spending di AS. Dan consumption sendiri adalah ~68% dari GDP. Artinya, earnings growth korporasi — yang selama ini menjadi driver utama equity returns — pada akhirnya bergantung pada kemampuan belanja kelompok yang justru sedang paling tertekan.
Real wage growth sudah berbalik negatif. Nominal wages memang masih tumbuh, tapi ketika dibandingkan dengan headline CPI, daya beli riil sudah terkikis. Konsumen selama ini memang luar biasa resilient — tapi ada batasnya. Savings rate sudah rendah, credit card delinquency mulai merayap naik, dan sekarang real wages pun negatif.
Implikasinya bagi equity market cukup straightforward: jika consumption melambat signifikan, retail sales akan ikut turun, dan itu akan menekan NTM EPS. Historis menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara retail sales growth dan S&P 500 forward earnings. Pasar yang saat ini masih pricing-in earnings growth yang solid akan menghadapi revisi ke bawah jika consumer spending akhirnya menyerah.
K-shaped economy bukan hanya isu sosial. Ini adalah structural risk yang sedang terakumulasi di bawah permukaan pasar yang terlihat tenang.