Hasil operasional Merdeka Battery Materials (MBMA) pada 2Q26 menunjukkan kinerja yang terdivergensi di sepanjang value chain perusahaan. Implementasi formula harga patokan mineral (HPM) nikel domestik yang baru menjadi katalis utama yang mendorong profitabilitas segmen hulu (upstream mining), namun di sisi lain memicu margin compression di segmen hilir (downstream smelting).
Upstream Mining: SCM Tambah Amunisi dari Formula HPM Baru
Tambang SCM (Sulawesi Cahaya Mineral) menjadi motor penggerak utama kinerja kuartal ini. Saprolite cash margin melesat signifikan menjadi US$26.7/wmt dari hanya US$4.0/wmt pada kuartal sebelumnya. Ekspansi margin yang masif ini terjadi meskipun perusahaan menghadapi kenaikan biaya royalti dan bahan bakar. Pendorong utamanya adalah saprolite ASP yang melonjak +107% qoq menjadi US$58.9/wmt akibat penyesuaian formula harga HPM.
Dari sisi volume, produksi saprolite tumbuh +26% qoq (+142% yoy) mencapai 2.9 juta wmt berkat peningkatan produktivitas armada tambang dan efisiensi hauling. Sementara itu, limonite cash margin juga merangkak naik ke level US$10.4/wmt dengan ASP meningkat +29% qoq. Penurunan volume penjualan limonite sebesar -31% qoq menjadi 3.3 juta wmt dinilai wajar karena adanya moderasi terencana untuk mendukung kebutuhan proyek HPAL (High-Pressure Acid Leach) di masa depan.
Downstream Smelting: Tertekan Tingginya Ore Transfer Price
Kontras dengan kinerja hulu, segmen hilir MBMA harus menghadapi tantangan berat akibat naiknya harga bahan baku bijih nikel. NPI cash margin terpangkas hingga setengahnya secara qoq menjadi US$1,981/tNi. Tekanan lebih berat dirasakan oleh smelter HGNM yang mencatatkan margin negatif pada kuartal ini.
Meskipun profitabilitas tertekan, volume produksi NPI relatif resilient di angka 19,505tNi, hanya turun tipis -2% qoq namun masih tumbuh +16% yoy. Manajemen memperkirakan tingkat recovery logam akan membaik pada 2H26 seiring dengan penyesuaian parameter tungku pembakaran.
Prospek 2H26 dan Target Price
Memasuki paruh kedua tahun 2026, perhatian pasar akan tertuju pada commissioning proyek SLNC untuk memproduksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) pertama, serta pencapaian nameplate capacity proyek ESG yang ditargetkan rampung pada bulan Agustus. Kemampuan MBMA dalam mengoptimalkan biaya downstream di tengah tingginya harga sulfur dan rezim HPM baru akan menjadi kunci penentu pergerakan saham ke depan.
Rekomendasi Buy dipertahankan untuk MBMA dengan target price di level Rp1,000 per lembar saham, mencerminkan ekspektasi recovery dan integrasi rantai nilai yang lebih solid di masa depan.