Ada satu pola yang sulit diabaikan di pasar komoditas saat ini: pergerakannya di 2026 mulai terlihat seperti replay dari 2008 — pump di awal tahun, lalu dump tajam yang dipimpin oleh sektor energi. Bloomberg Commodity Spot Index sudah menunjukkan pola serupa, meski titik awal pelemahannya berasal dari plateau yang lebih rendah dibanding 2008, khususnya pada crude oil dan US natural gas.
Pada 2008, siklus itu berakhir brutal. BCOM jatuh ke kisaran -29 dari baseline normalisasi akhir 2007 — sebuah deflasi komoditas yang masif, bukan sekadar koreksi teknikal. Pertanyaannya sekarang: apakah 2H 2026 akan berjalan ho-hum, atau kita sedang menuju skenario deflationary yang lebih serius?
Gold menarik untuk dicermati secara khusus. Sepanjang 2025, precious metals menjadi leader yang jelas — outperform hampir semua aset. Tapi momentum itu mulai berbalik. Gain di Q1 sudah terkikis habis, dan posisi gold spot kini mendekati flat dari titik acuan. Ini bukan sinyal bullish. Ketika safe haven seperti gold mulai kehilangan traksi, biasanya ada repricing yang lebih besar sedang terjadi di bawah permukaan.
Yang membuat outlook ini lebih kompleks adalah kondisi di pasar obligasi. US Treasury 30-year yield kini berada di level tertinggi sejak 2001 — sebuah angka yang bukan sekadar statistik historis, tapi punya implikasi nyata. Yield panjang yang tinggi secara struktural menjadi headwind bagi hampir semua risk assets: equities, komoditas, bahkan Bitcoin yang selama ini sering dikaitkan dengan narasi inflasi. Ketika cost of capital naik di ujung kurva yang paling jauh, valuasi di seluruh spektrum aset perlu di-reprice.
Konteks makro memperumit gambaran ini lebih jauh. Perbandingan S&P 500 terhadap GDP dan public debt menunjukkan pola yang rhyming dengan dua periode paling destruktif dalam sejarah pasar modern: 1929 dan 2000. Ini bukan prediksi crash, tapi sinyal bahwa margin of safety di pasar equities saat ini tipis — dan dalam environment yield tinggi, tidak banyak ruang untuk kesalahan.
Untuk komoditas secara spesifik, skenario yang perlu diantisipasi adalah divergensi antara energi dan precious metals. Jika crude oil dan natural gas terus melemah mengikuti pola 2008, tekanan deflasi bisa menyebar ke broader commodity complex. Sementara gold, yang idealnya menjadi hedge dalam skenario ini, justru sedang kehilangan momentum — sebuah kombinasi yang tidak memberikan banyak tempat untuk bersembunyi.
Semester kedua 2026 akan menjadi ujian nyata: apakah ini koreksi siklus biasa, atau awal dari sesuatu yang lebih struktural.