LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Komoditas yang Diuntungkan Boom Infrastruktur AI

Infrastruktur AI mendorong permintaan komoditas tertentu secara struktural. Ini komoditas yang paling diuntungkan dari tren belanja capex AI global.


Di balik gelombang investasi infrastruktur AI yang terus membesar — dari data center, chip fabrikasi, hingga jaringan transmisi daya — ada satu segmen yang sering luput dari perhatian investor saham: komoditas.

Ketika perusahaan teknologi besar mengalokasikan ratusan miliar dolar untuk membangun kapasitas komputasi, permintaan terhadap beberapa komoditas tertentu ikut terdorong secara struktural, bukan hanya siklikal.

Tembaga adalah yang paling jelas. Data center modern membutuhkan kabel tembaga dalam jumlah masif — mulai dari wiring internal, busbar, hingga koneksi ke grid listrik. Semakin besar kapasitas GPU cluster yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan tembaga per unit. Ini berbeda dari demand tembaga konvensional yang lebih terikat ke siklus properti dan manufaktur.

Aluminium juga masuk dalam kategori ini. Struktur pendingin (heat sink), housing server, dan komponen enclosure data center banyak menggunakan aluminium karena ringan dan konduktif. Ekspansi kapasitas data center secara masif otomatis menarik demand aluminium ke atas.

Uranium dan energi nuklir menjadi narasi yang semakin relevan. Data center butuh pasokan listrik yang stabil dan besar — dan nuklir mulai dilirik sebagai solusi baseload yang bersih. Beberapa hyperscaler sudah menandatangani power purchase agreement dengan operator nuklir. Ini bukan lagi spekulasi; ini kontrak nyata yang mendorong outlook uranium jangka menengah.

Gas alam juga ikut diuntungkan dalam jangka transisi. Sebelum kapasitas nuklir dan renewable benar-benar memadai, gas alam tetap menjadi backbone pembangkit listrik yang menyuplai data center — terutama di Amerika Utara.

Yang menarik dari tren ini adalah sifatnya yang demand-driven dari sisi capex, bukan dari sisi konsumsi akhir biasa. Artinya, meski ekonomi global melambat, belanja infrastruktur AI dari Big Tech cenderung tetap berjalan — karena sudah di-commit sebagai prioritas strategis, bukan discretionary spending.

Untuk investor pasar modal Indonesia, eksposur ke tren ini bisa melalui saham emiten tembaga, aluminium, atau emiten yang terlibat dalam rantai pasok energi. Momentum earnings dari komoditas-komoditas ini berpotensi lebih tahan banting dibanding komoditas yang murni tergantung siklus ekonomi konvensional.