Analisis mendalam konflik AS-Iran yang berpotensi menjadi forever war: eskalasi taktik, blokade Selat Hormuz, peran China, dan implikasinya bagi ekonomi global.
Ada satu pertanyaan yang semakin sulit untuk dihindari setelah berbulan-bulan bom dan rudal dipertukarkan antara Amerika Serikat dan Iran: apakah ini sedang menuju forever war? Bukan sekadar konflik yang berlarut, melainkan siklus permusuhan yang tidak memiliki titik akhir yang jelas — dan yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada pihak yang tampaknya memiliki strategi untuk mengakhirinya secara definitif.
Bukan Konflik Baru, Melainkan Kelanjutan Siklus Lama
Penting untuk memahami bahwa apa yang terjadi saat ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Konflik ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari siklus rivalitas yang jauh lebih panjang — yang secara konkret mulai memanas ketika Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada 2025. Serangan itu bukan titik awal konflik, melainkan eskalasi dari permusuhan yang sudah berjalan selama puluhan tahun.
Inilah yang membuat konflik ini struktural, bukan situasional. Artinya, bahkan jika ada gencatan senjata hari ini, itu hanya memberikan waktu bagi kedua pihak untuk rebuild, reload, dan bersiap untuk putaran berikutnya. Pola ini sudah terlihat berulang kali dalam sejarah konflik berkepanjangan — dari Vietnam hingga Afghanistan — dan AS secara historis tidak memiliki rekam jejak yang baik dalam war termination.
Masalah Tujuan yang Bergeser
Salah satu akar masalah terbesar dalam konflik ini adalah tidak adanya tujuan yang konsisten dan terukur dari pihak AS. Di awal, narasi yang dominan adalah regime change di Tehran. Kemudian bergeser ke degradasi basis industri pertahanan Iran. Kini, fokus resminya adalah denuklirisasi — namun secara operasional, sebagian besar tekanan justru diarahkan ke Selat Hormuz.
Ini adalah masalah klasik dalam protracted wars: ketika tujuan politik terus berubah, jalur diplomatik menjadi semakin sempit. Sementara itu, Iran memiliki tujuan yang jauh lebih sederhana dan konsisten: survival. Negara yang berjuang untuk bertahan hidup memiliki kohesi strategis yang jauh lebih kuat dibandingkan negara yang terus mendefinisikan ulang apa yang ingin dicapainya.
Adaptasi, Bukan Sekadar Eskalasi
Yang perlu dipahami adalah bahwa konflik ini tidak akan berkembang dalam bentuk eskalasi tajam yang mudah diidentifikasi. Yang lebih mungkin terjadi adalah adaptation — kedua pihak terus belajar dari taktik satu sama lain dan menyesuaikan pendekatannya. Ini persis seperti yang terjadi di Ukraina, di mana Rusia dan Ukraina terus berinovasi secara taktis hingga menciptakan stalemate yang mahal bagi kedua belah pihak.
Dalam konteks AS-Iran, kita sudah melihat pergeseran ini: fokus geografis berpindah dari daratan ke laut, dari serangan langsung ke blokade ekonomi, dari kinetic action ke tekanan finansial. Setiap pergeseran taktis ini bisa dibaca sebagai eskalasi oleh pihak lawan, yang kemudian memicu respons baru — dan siklus pun berlanjut.
Blokade Selat Hormuz dan Beban Jangka Panjang
Strategi ekonomi AS saat ini bertumpu pada dua pilar: sanksi finansial dan blokade Selat Hormuz. Secara teori, kombinasi ini bisa menjadi stranglehold yang efektif terhadap ekonomi Iran. Namun dalam praktiknya, ada biaya tersembunyi yang besar.
Kapal-kapal perang AS telah berada di laut selama berbulan-bulan. Isu readiness militer — termasuk kesehatan mental para pelaut — mulai muncul ke permukaan. Jika blokade harus dipertahankan dalam jangka panjang, AS akan menghadapi tekanan operasional yang signifikan. Pertukaran USS Abraham Lincoln dengan USS George Washington, serta penempatan bomber di Inggris dan penambahan pesawat pengisi bahan bakar udara, bisa dibaca sebagai steady state operations — namun dalam konteks konflik aktif, sulit untuk tidak melihatnya sebagai persiapan untuk eskalasi lebih lanjut.
Dimensi China: Variabel yang Paling Kritis
Tidak ada analisis konflik AS-Iran yang lengkap tanpa membahas peran China. Beijing dilaporkan menyediakan material tertentu yang membantu Iran melanjutkan konflik. Jika AS benar-benar ingin memaksimalkan tekanan ekonomi terhadap Iran — termasuk memotong jalur ekspor minyak Iran yang sebagian besar mengalir ke China — maka pada titik tertentu, AS harus berhadapan langsung dengan Beijing.
Ini adalah dilema geopolitik yang sangat kompleks. Di satu sisi, AS tidak bisa membiarkan China menjadi lifeline bagi Iran tanpa konsekuensi. Di sisi lain, Trump tengah mempersiapkan pertemuan dengan Xi Jinping dan memiliki kepentingan untuk menjaga level detente yang relatif stabil dengan China selama masa kepresidenannya. Menekan China terlalu keras berisiko menggagalkan agenda diplomatik yang lebih besar.
Inilah yang membuat skenario ekspansi konflik — baik secara geografis maupun dalam jumlah aktor yang terlibat — menjadi semakin relevan. Blokade sudah meluas ke Laut Merah dan bahkan Samudra Hindia. Jika tekanan ekonomi terhadap minyak Iran harus diperkuat, cakupan blokade bisa terus melebar — dan itu artinya semakin banyak titik gesekan potensial dengan aktor-aktor lain di kawasan.
Apakah Diplomasi Masih Relevan?
Sejauh ini, AS dan Iran lebih memilih komunikasi melalui pihak ketiga — baik untuk negosiasi gencatan senjata maupun pengaturan interim lainnya. Pendekatan ini mungkin cukup untuk mengelola eskalasi jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang lebih fundamental.
Konflik-konflik berkepanjangan dalam sejarah — dari Korea hingga Kamboja — menunjukkan bahwa resolusi yang bermakna hampir selalu membutuhkan direct talks antara pihak-pihak utama yang bertikai. Tanpa itu, yang bisa dicapai hanyalah pause, bukan peace.
Ada juga skenario lain yang tidak bisa diabaikan: AS yang akhirnya memilih untuk walk away. Sejarah menunjukkan bahwa AS lebih sering menarik diri dari konflik bukan karena kalah, melainkan karena kelelahan politik dan publik. Namun bahkan skenario penarikan diri pun tidak akan menyelesaikan akar masalah — dan justru bisa menciptakan kekosongan yang memperburuk instabilitas regional.
Yang jelas, pendekatan bombing into submission tidak akan berhasil. Sejarah tidak menunjukkan satu pun kasus di mana tekanan militer murni berhasil mengubah kalkulasi strategis negara yang berjuang untuk bertahan hidup. Dan semakin lama konflik ini berlanjut, semakin besar dampaknya — bukan hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global yang sudah cukup rapuh.