LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Konflik Iran Bikin Investor Galau, Tapi Earnings Meroket

Lima bulan sejak konflik AS-Iran memanas dan Selat Hormuz ditutup, banyak yang mengira pasar bakal kolaps. Nyatanya, corporate earnings justru membukukan salah satu kuartal terkuat di luar periode pemulihan resesi. Median earnings growth untuk perusahaan-perusahaan dalam MSCI All-Country World Index mencapai 16,5% YoY di Q2 2026, naik dari 14,7% di Q1. Sektor energi bahkan lebih ekstrem — earnings growth-nya melonjak 86% di Q2, hampir tiga kali lipat dari kuartal sebelumnya.

Tapi jangan langsung euforia. Ada juxtaposition yang aneh di sini: di satu sisi, corporate earnings luar biasa kuat. Di sisi lain, gangguan geopolitik ini masih jauh dari selesai, dan stockpile releases yang selama ini menjadi buffer tidak bisa bertahan selamanya. Begitu buffer itu habis, tekanan riil baru akan terasa.

Yang menarik adalah bagaimana investor merespons situasi ini secara emosional dan portofolio. Berdasarkan survei yang dilakukan pada April–Mei 2026 terhadap investor di AS dan UK, tema energi — baik dari sisi harga maupun transisi — kini menjadi salah satu dari dua tema investasi paling dominan tahun ini, bersanding dengan artificial intelligence. Dan ini bukan sekadar tema yang dibicarakan: investor sudah mulai bertindak. Energi dan geopolitik menjadi dua alasan terbesar yang mendorong rencana perubahan portofolio dalam 12 bulan ke depan.

Yang unik, energi adalah tema dengan tingkat keyakinan tinggi di kedua arah sekaligus — optimisme dan pesimisme sama-sama tinggi. Tidak banyak tema investasi yang memiliki karakteristik seperti ini. Biasanya kalau satu sisi dominan, sisi lain melemah. Tapi untuk energi, polarisasi ini sangat nyata. Artinya, ada dua kelompok investor dengan conviction kuat yang sedang berhadapan di pasar.

Dari perspektif jangka menengah, ada argumen yang cukup kuat bahwa shock energi seperti ini — meski menyakitkan jangka pendek — justru bersifat net positive untuk ekonomi global. Pola ini bukan baru. Krisis minyak 1970-an adalah preseden yang relevan: setelah OPEC menaikkan harga dan revolusi Iran mengguncang suplai, konsumsi minyak global yang tadinya tumbuh 7,8% per tahun sebelum 1973 anjlok ke 2,2% pa, bahkan sempat kontraksi setelah shock kedua. Tapi yang terjadi berikutnya adalah akselerasi efisiensi energi yang masif — energy intensity of GDP turun 3,3% hanya dalam 1980, rekor terbesar dalam data historis. Sejak saat itu, energy intensity of GDP sudah turun sekitar setengahnya.

Dinamika serupa mulai terlihat sekarang. Pembeli dari Eropa dan Asia sudah beralih ke crude dari AS, Guyana, dan Afrika Barat sejak Selat Hormuz ditutup. Beberapa pemerintah G20 mempercepat perjanjian suplai non-Gulf. Urgensi terhadap critical minerals dan energy security meningkat tajam. Semua ini adalah persis jenis diversifikasi yang — berdasarkan model megatrend jangka panjang yang menggunakan hampir 100 data series sejak 1957 — secara historis berkorelasi positif dengan pasar dan ekonomi dalam jangka menengah.

Implikasinya untuk alokasi portofolio cukup jelas: capital flows ke energy security dan supply diversification kemungkinan akan terus berlanjut terlepas dari arah harga minyak jangka pendek. Beneficiary-nya menyebar di sepanjang value chain — LNG infrastructure, non-Gulf production, renewables, strategic reserves, hingga grid resilience. Near-term path untuk harga energi memang volatile, tapi medium-term thesis-nya justru solid.