LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Konsumen Kelas Menengah AS: Masih Kuat atau Mulai Retak?

Kelas menengah Amerika Serikat sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi — dan angkanya memang mendukung klaim itu. Spending dari middle-income households menyumbang hampir 23% dari total US GDP di 2024. Ini bukan angka kecil. Untuk konteks, share mereka terhadap total consumer expenditures juga relatif proporsional dengan share populasi mereka — berbeda dengan lower-income households yang spending-nya jauh lebih kecil dibanding porsi populasinya.

Yang menarik adalah bagaimana cohort ini berperilaku di tengah tekanan inflasi yang mulai meruncing di pertengahan 2026. Data kartu kredit dan debit menunjukkan bahwa spending growth kelas menengah sebetulnya masih resilient sejak pertengahan 2024 — bahkan di sisi discretionary spending, mereka masih tumbuh lebih cepat dibanding lower-income households. Ini penting karena discretionary spending adalah indikator yang lebih sensitif terhadap confidence konsumen dibanding spending pada kebutuhan pokok.

Secara kategori, kelas menengah mendominasi beberapa segmen yang secara langsung relevan bagi banyak sektor bisnis:

  • Sekitar sepertiga dari total spending di grocery stores, hobby shops, dan general merchandise retailers
  • Hampir sepertiga dari revenue restoran
  • Kontribusi yang meaningful — meski lebih kecil — di kategori high-ticket seperti airlines, furniture, dan jewelry

Di Q2 2026, spending growth kelas menengah justru akselerasi di airlines dan clothing dibanding Q1. Jewelry dan general merchandise melambat, tapi masih positif. Yang agak mengkhawatirkan: spending di grocery stores flat, dan turun tipis di furniture serta department stores. Ini bisa jadi sinyal awal trade-down behavior, atau sekadar normalisasi pasca-lonjakan.

Soal inflasi — ini bagian yang perlu dicermati lebih hati-hati. Per Juni 2026, CPI inflation sudah melampaui after-tax wage growth untuk kelas menengah. Artinya secara riil, purchasing power mereka sedang tergerus. Tapi ada nuansa penting: hampir sepertiga dari inflasi tersebut datang dari lonjakan harga bensin. Dan ketika dibandingkan secara absolut, kenaikan after-tax wages masih lima kali lebih besar dari kenaikan pengeluaran bensin per rumah tangga. Jadi tekanannya ada, tapi belum sampai titik yang mengubah perilaku spending secara fundamental.

Ada juga buffer yang belum banyak dipakai. Hanya sekitar 20% dari grocery spending kelas menengah saat ini dilakukan di value grocers — jauh di bawah porsi lower-income households. Artinya masih ada ruang untuk trade-down jika tekanan semakin besar, tanpa harus langsung memangkas volume konsumsi secara keseluruhan.

Implikasi untuk pasar? Sektor yang paling exposed ke middle-income consumer — consumer discretionary, airlines, apparel retail, dan food & beverage — masih punya demand support yang cukup solid di paruh pertama 2026. Tapi trajectory inflasi vs. wage growth perlu terus dipantau. Jika gap ini melebar tanpa diimbangi kenaikan upah, maka spending deceleration bisa datang lebih cepat dari yang saat ini dipriced oleh market.