Angka laba bersih ACES yang naik 33,3% YoY di 1H26 menjadi Rp390 miliar memang langsung menarik perhatian. Tapi sebelum terlalu excited, ada satu detail yang perlu dibedah lebih dalam: dari total laba itu, Rp122 miliar berasal dari keuntungan selisih kurs investasi jangka pendek — komponen yang sifatnya non-recurring. Artinya, core operating profit yang sesungguhnya jauh lebih moderat dari headline number yang terlihat.
Itu bukan berarti kinerjanya buruk. Revenue tumbuh 6,3% YoY ke Rp4,46 triliun, dan yang lebih menarik, gross profit margin naik ke 49,5% di 2Q26 — didorong kenaikan harga jual rata-rata sekitar 10% sejak kuartal kedua. Ini sinyal positif bahwa ACES punya pricing power yang cukup solid, setidaknya untuk saat ini. Pertanyaannya: sampai sejauh mana konsumen masih toleran terhadap kenaikan harga lebih lanjut?
Dari sisi segmen, home improvement products jadi penopang utama dengan pertumbuhan 14% YoY ke Rp2,46 triliun — permintaan untuk produk brankas, kipas, dan air treatment tercatat tinggi. Toys segment juga cukup mengejutkan, tumbuh 19,8% ke Rp187 miliar. Satu segmen yang perlu diperhatikan adalah lifestyle products yang justru turun 3,7% ke Rp1,82 triliun — segmen ini cukup besar dan pelemahannya bisa menjadi drag kalau tidak segera berbalik.
SSSG-nya menarik. Angka 43% di Jawa luar Jakarta dan 39% di luar Jawa mengindikasikan penetrasi ke pasar tier 2-3 berjalan dengan baik. Jakarta sendiri hanya tumbuh 18% — konsisten dengan tren bahwa pertumbuhan ritel modern kini lebih banyak datang dari luar pusat kota besar. Ini sebenarnya mendukung narasi ekspansi gerai yang sedang dijalankan manajemen.
Soal ekspansi — inilah bagian yang perlu dicermati. Di 1H26, ACES sudah membuka 10 gerai AZKO baru. Dan di 2H26, targetnya lebih agresif lagi: minimal 15 gerai AZKO tambahan plus 20 gerai NEKA baru. Total itu bukan angka kecil. Capex dan biaya operasional pasti akan naik, dan pertanyaan kritisnya adalah seberapa cepat gerai-gerai baru ini bisa ramp-up hingga break-even — karena kalau gerai baru terlalu lama di fase pre-profitability, margin keseluruhan bisa tertekan di 2H26.
Yang membuat situasi ini menarik secara valuasi: ACES saat ini diperdagangkan di PER 7,49x dan PBV 0,97x — keduanya jauh di bawah rata-rata sektor yang berada di 12,42x dan 1,41x. Diskon sebesar ini untuk emiten dengan SSSG kuat dan GPM yang membaik terasa cukup dalam. Pasar tampaknya belum sepenuhnya memangkinkan pemulihan pendapatan dan potensi re-rating dari ekspansi gerai yang sedang berjalan.
Inventory days yang mulai kembali normal seiring normalisasi supply chain juga jadi sinyal positif untuk efisiensi operasional ke depan. Manajemen memperkirakan SSSG masih bisa tumbuh 2–4% di 2H26 — angka yang lebih konservatif dibanding 1H26, tapi masih positif.
Intinya: ACES menawarkan kombinasi valuasi murah dan momentum operasional yang solid, tapi dua hal perlu terus dipantau — seberapa besar kontribusi non-recurring ke bottom line jika kurs berbalik, dan apakah ekspansi agresif 2H26 bisa dieksekusi tanpa mengorbankan margin yang baru saja membaik.