Pertumbuhan laba bersih BBCA pada paruh pertama tahun 2026 (6M26) yang hanya naik tipis 1,8% YoY menjadi Rp29,55 triliun mungkin terlihat kurang bergairah bagi sebagian pelaku pasar. Namun, di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan dan tren normalisasi suku bunga, pencapaian ini justru menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan profil risiko paling defensif di tanah air.
Perlambatan pertumbuhan laba ini utamanya dipicu oleh Net Interest Income (NII) yang relatif stagnan (-0,1% YoY). Meskipun pendapatan bunga masih tumbuh positif 1,0% YoY menjadi Rp49,86 triliun, kenaikan beban bunga (interest expense) yang mencapai 7,8% YoY menjadi penekan utama. Beruntung, BBCA didukung oleh struktur pendanaan yang sangat kuat. Rasio dana murah (CASA) meningkat menjadi 85,2% dengan pertumbuhan CASA mencapai 10,2% YoY. Dominasi dana murah inilah yang menjadi penyelamat Net Interest Margin (NIM) BBCA sehingga mampu bertahan di level 5,3%.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit tumbuh sehat sebesar 8,0% YoY menjadi Rp1.036 triliun. Menariknya, pertumbuhan ini ditopang secara merata baik dari segmen korporasi, komersial, maupun konsumer. Kualitas aset pun tetap menjadi yang terbaik di kelasnya dengan rasio NPL Gross terjaga di level 1,9% dan Cost of Credit (CoC) yang sangat rendah di kisaran 0,4%. Dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang merangkak naik ke level 78,7%, BBCA sebenarnya masih memiliki ruang likuiditas yang sangat longgar untuk memacu ekspansi kredit ke depan.
Melihat proyeksi pertumbuhan kredit yang cenderung lebih moderat ke depan, estimasi laba bersih untuk setahun penuh disesuaikan menjadi Rp59,11 triliun (+2,7% YoY) untuk FY26. Hal ini berimplikasi pada revisi target harga (target price) BBCA menjadi Rp7.800 per saham. Meski target harga diturunkan, valuasi BBCA saat ini tergolong sangat menarik karena ditransaksikan pada P/B di kisaran 2,8x, berada di bawah rata-rata historis lima tahunnya. Penurunan harga saham belakangan ini justru membuka peluang akumulasi dengan downside risk yang relatif terbatas. Risiko utama yang perlu diwaspadai ke depan hanyalah potensi tekanan margin yang lebih dalam serta kenaikan credit cost jika kondisi makroekonomi memburuk.