Kinerja keuangan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sepanjang paruh pertama tahun ini meleset jauh dari ekspektasi pasar. Emiten tambang emas ini membukukan net profit sebesar US$12,9 juta di 1H26, anjlok 44% secara year-on-year (y-y). Tekanan paling berat terasa di kuartal kedua, di mana BRMS harus mencatatkan net loss hingga US$4,6 juta akibat penurunan volume produksi dan kendala penjualan di pasar domestik.
Pemicu utama dari rapor merah ini adalah aktivitas operasional di tambang River Reef yang mengalami penundaan (pushback). Hal ini memaksa perusahaan menambang bijih dengan kadar emas (head grade) yang lebih rendah, yakni hanya 0,90g/t di 2Q26 dibandingkan 1,42g/t pada kuartal sebelumnya. Akibatnya, produksi emas merosot tajam sebesar 57,4% quarter-on-quarter (q-q) menjadi hanya 6,3koz, diperparah oleh penurunan gold ASP sebesar 8,3% q-q menjadi US$4,138/oz.
Meski jangka pendek terlihat suram, operasional BRMS tampaknya telah melewati titik terendah (operational trough). Proses pushback di River Reef telah rampung pada Juli lalu, membuka jalan bagi pemulihan head grade dan volume produksi di paruh kedua. Dari sisi pemasaran, risiko penyerapan produk juga berhasil dimitigasi melalui kesepakatan gold offtake dengan ANTM untuk membeli hingga 120 kg emas per bulan hingga Juni 2028. Langkah ini mengamankan sekitar 60% hingga 80% dari volume produksi bulanan normal perusahaan.
Namun, target produksi manajemen untuk tahun penuh sebesar 70-75koz kini terlihat terlalu agresif mengingat realisasi semester pertama baru mencapai 21,1koz. Kami memangkas asumsi produksi emas untuk tahun ini menjadi 60,9koz, yang berujung pada pemotongan proyeksi net profit jangka pendek dan revisi target price (TP) berbasis SOTP menjadi Rp700 per saham.
Walau ada pemangkasan target price, kami menilai pelemahan harga saham belakangan ini telah merefleksikan (priced in) sentimen negatif tersebut. Prospek pertumbuhan jangka menengah BRMS tetap solid, ditopang oleh rencana ekspansi pabrik CIL berkapasitas 2.000 tpd serta dimulainya penambangan bawah tanah (underground mining) dengan kadar tinggi berkisar 3,5 hingga 4,9g/t pada paruh kedua tahun depan.