LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Laba Korporat +35% YoY, Tapi Ada yang Janggal

Angkanya memang impresif. Revenue agregat ~230 emiten JCI tumbuh +13% y-y ke IDR858 triliun di 2Q26, sementara net profit after tax melesat +35% y-y ke IDR108 triliun — pertumbuhan terkuat sejak 4Q22. Margin pun ikut mengembang: GPM naik 80bps, OPM +160bps, NPM +170bps secara tahunan. Sekilas, ini adalah corporate health check yang sangat solid.

Tapi berhenti sebentar di situ.

Di balik angka-angka yang mengilap itu, ada satu pattern yang sulit diabaikan: korporasi Indonesia tidak mau belanja. Capex hanya tumbuh +1% y-y setelah empat kuartal berturut-turut kontraksi — dan itu pun rebound dari base yang sangat rendah. Headcount formal turun 0,3% y-y, menjadikan ini kuartal keenam berturut-turut di mana lapangan kerja formal menyusut. Sementara itu, cash di neraca justru mencapai record high IDR470 triliun (+11% y-y), dengan corporate stamina — cash dibagi monthly cash expense — di level 2,4x, jauh di atas pre-COVID ~2,0x.

Artinya: uang ada, ruang utang masih lebar (ICR 6,0x, tertinggi sejak 2022; net debt-to-EBITDA turun ke 5,2x dari 5,6x setahun lalu), tapi ekspansi tidak terjadi. Ini bukan ketidakmampuan — ini adalah ketidakmauan. Dan itu sinyal yang jauh lebih penting untuk dibaca ketimbang headline profit growth-nya.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan masih sangat terkonsentrasi di komoditas. Mining revenue tumbuh +61% y-y, O&G +52%, coal +19%. Non-commodity memang tetap positif (+11% revenue, +28% NPAT), tapi jauh tertinggal. Property bahkan masih negatif (-4% revenue), banks hanya +3%, retailers +8%. Jadi kalau ada yang bilang "ekonomi Indonesia sedang bagus secara broad-based" — angka ini tidak mendukung narasi itu.

Yang juga perlu dicermati adalah kondisi wallet size pekerja formal. Salary expense tumbuh +6% y-y di 2Q26, membaik dari +2% di 1Q26 yang merupakan salah satu yang terendah dalam satu dekade. Tapi pertumbuhan itu murni dari kenaikan gaji per kepala (+6,2% y-y), bukan dari penambahan jumlah pekerja. Employment justru turun. Hiring hanya terjadi di banks, retailers, dan healthcare — sementara FMCG, CPO, dan coal memangkas headcount.

Working capital naik ke IDR558 triliun (record high nominal), tapi intensitasnya turun — OWC sebagai % of sales turun ke 74% dari peak 81% di 3Q25. Satu hal yang menarik: inventori mulai naik, yang bisa dibaca sebagai demand anticipation oleh korporasi. Apakah ini sinyal bahwa mereka mulai confident dengan permintaan ke depan? Atau sekadar normalisasi cycle? Masih terlalu dini untuk disimpulkan.

Dalam konteks ini, pendekatan bottom-up lebih masuk akal dibanding broad sector call. Dispersi antar sektor dan antar emiten masih sangat tinggi. Nama-nama di non-commodity yang valuasinya sudah tertekan tapi fundamental-nya masih solid — seperti BBCA, BBRI, KLBF, ICBP, AMRT, AKRA — menawarkan risk-reward yang lebih menarik dibanding sekadar ikut momentum komoditas yang sudah banyak di-price-in. Di sisi commodity, AMMN, AADI, MEDC, dan TAPG masih punya ruang jika siklus harga komoditas bertahan.

Bottom line-nya: 2Q26 adalah kuartal yang secara finansial kuat, tapi secara sinyal forward-looking masih sangat hati-hati. Korporasi Indonesia sedang duduk di atas tumpukan cash sambil menunggu — entah menunggu apa.