Kinerja keuangan LSIP pada paruh pertama 2026 (1H26) terlihat impresif di permukaan dengan laba bersih yang tumbuh 24,7% YoY menjadi Rp891 miliar. Namun, jika dibedah lebih dalam, pertumbuhan ini menyimpan cerita yang kontradiktif di level operasional. Kenaikan bottom-line tersebut rupanya bukan disokong oleh kinerja inti, melainkan oleh faktor eksternal.
Dari sisi top-line, LSIP sebenarnya mencatat pertumbuhan pendapatan yang solid sebesar 15,9% YoY menjadi Rp2,69 triliun. Kinerja ini didorong oleh kenaikan average selling price (ASP) CPO sebesar 4,1% YoY menjadi Rp14.760/kg dan ASP Palm Kernel (PK) yang melonjak 9,5% YoY. Sayangnya, kenaikan harga jual ini gagal meredam margin pressure akibat lonjakan biaya produksi. Gross profit LSIP menyusut 6,9% YoY dengan gross margin yang tertekan ke level 32,1% dibanding 39,9% pada periode yang sama tahun lalu. Imbasnya, operating profit turun 10,3% YoY.
Lantas, apa yang menyelamatkan laba bersih LSIP? Jawabannya ada pada pos non-operasional. Perusahaan membukukan forex gain yang melonjak drastis menjadi Rp110,6 miliar (dibandingkan hanya Rp7,1 miliar di 1H25) serta kenaikan pendapatan non-operasional lainnya. Ini adalah kualitas pertumbuhan yang rapuh karena sangat bergantung pada fluktuasi kurs dan pos satu waktu (one-off gains).
Dari aspek volume, produksi mulai menunjukkan pemulihan di kuartal kedua (2Q26). Total produksi fresh fruit bunch (FFB) naik 10,3% QoQ, didukung oleh peningkatan oil extraction rate (OER) ke level 22,4%. Kendati demikian, risiko cuaca berupa kemarau panjang (dry spell) berpotensi menahan laju produktivitas di sisa tahun ini. Ekspektasi produksi FFB untuk setahun penuh diperkirakan hanya tumbuh moderat sebesar 0,7% YoY.
Di sisi lain, katalis sektoral masih cukup suportif. Harga CPO global diproyeksikan bertahan di level tinggi, ditopang oleh rencana implementasi mandat biodiesel B50 di Indonesia yang akan memperketat suplai ekspor. Ditambah dengan posisi neraca keuangan yang sangat sehat tanpa utang (net cash), LSIP tetap memiliki bantalan fundamental yang kuat.
Meski target harga disesuaikan lebih rendah ke Rp2.170 per saham (dari sebelumnya Rp2.190) untuk merefleksikan aksi jual di sektor perkebunan baru-baru ini, valuasi LSIP di 8,6x P/E FY26F masih menawarkan ruang diskon yang atraktif dibanding rata-rata historisnya.