LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Laba PGEO Tumbuh, Tapi Kenapa Marginnya Menyusut?

Kinerja keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sepanjang semester pertama tahun ini menunjukkan dualitas yang menarik. Di satu sisi, bottom-line perseroan masih mencatatkan pertumbuhan yang solid. Namun di sisi lain, mulai tampak adanya margin pressure yang patut dicermati oleh para pelaku pasar.

PGEO membukukan laba bersih sebesar USD 80 juta di 1H26, tumbuh 15,5% secara YoY. Pencapaian ini ditopang oleh top-line yang kuat, di mana revenue naik 14,7% YoY menjadi USD 235 juta. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan produksi listrik dari operasional sendiri serta adanya windfall dari forex income sebesar USD 18,5 juta akibat apresiasi mata uang Yen terhadap USD.

Namun jika membedah hasil kuartalan di 2Q26 saja, net profit PGEO sebenarnya turun 18,7% secara QoQ menjadi USD 36 juta. Penurunan ini sejalan dengan menyusutnya gross margin menjadi 53,1%, dibandingkan 58,0% pada kuartal sebelumnya. Tekanan pada profitabilitas ini bukan disebabkan oleh kemunduran operasional, melainkan karena konsekuensi akuntansi dari asset capitalization untuk proyek Lumut Balai Unit 2 dan aset selesai lainnya, yang otomatis mendongkrak beban penyusutan (depreciation).

Dari sisi operasional, performa PGEO sebenarnya masih sangat andal. Total produksi listrik konsolidasian naik 13,6% YoY menjadi 2.745 GWh di 1H26. Angka ini setara dengan 52,5% dari target setahun penuh. Kenaikan volume ini juga diiringi oleh peningkatan blended ASP menjadi US¢ 8,28/kWh, mencerminkan tingginya permintaan energi panas bumi serta optimalisasi load factor di area Kamojang dan Lahendong.

Untuk jangka menengah, expansion pipeline PGEO masih berada di jalur yang tepat. Perseroan mengalokasikan capex sebesar USD 23,8 juta di paruh pertama tahun ini, dengan porsi terbesar untuk pengembangan bisnis seperti eksplorasi Gunung Tiga dan infrastruktur Lumut Balai Unit 3. Tambahan kapasitas sebesar 51 MW di 2027 dan 210 MW di 2028 akan menjadi katalis utama untuk mencapai target kapasitas terpasang 1 GW pada 2028.

Dengan posisi balance sheet yang kokoh—memiliki cash equivalent sekitar USD 650 juta—PGEO memiliki fleksibilitas pendanaan yang sangat longgar untuk mengeksekusi proyek-proyeknya. Pada harga pasar saat ini, valuasi saham PGEO tergolong atraktif. Target harga teoritis berada di level Rp1.200 per saham, yang mencerminkan EV/EBITDA sebesar 7,8x untuk proyeksi 2027. Risiko utama yang perlu diwaspadai investor tetap berkisar pada potensi keterlambatan eksekusi proyek dan ketidakpastian kapasitas reservoir panas bumi.