LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Laba Sawit Rebound 68%: Membedah Prospek TAPG, DSNG, & AALI

Sektor perkebunan sawit mencatat pemulihan kinerja yang signifikan pada kuartal kedua 2026. Laba bersih gabungan melonjak 68% secara kuartalan (qoq) menjadi Rp2,6 triliun. Namun, jika dibedah lebih dalam, kualitas pertumbuhan ini cukup bervariasi dan sangat bergantung pada peningkatan efisiensi pabrik kelapa sawit, bukan dari kenaikan produksi TBS secara masif.

Sepanjang semester pertama 2026, produksi fresh fruit bunch (FFB) dari emiten seperti TAPG dan DSNG sebenarnya turun sekitar 2% secara tahunan (yoy). Beruntung, penurunan ini berhasil dikompensasi oleh kenaikan oil extraction rate (OER) rata-rata ke level 23,7%. Artinya, produktivitas pabrik yang lebih efisien menyelamatkan top-line emiten di tengah volume panen yang cenderung flat.

Di antara pemain utama, TAPG dan DSNG menjadi pilihan paling menarik. TAPG mencatatkan kenaikan volume penjualan CPO sebesar 26% qoq pada kuartal kedua dengan ASP yang kokoh di Rp15.278/kg. Dengan neraca net cash yang kuat, TAPG menawarkan dividend yield yang sangat menggiurkan di kisaran 10,1% untuk proyeksi tahun buku ini. Sementara itu, DSNG menjadi emiten dengan valuasi termurah di sektor ini, ditransaksikan pada P/E ratio hanya 6,6x untuk proyeksi penuh tahun ini. Kinerja DSNG didukung oleh proses deleveraging yang konsisten serta profil ESG terbaik di kelasnya dengan skor SPOTT mencapai 91%.

Sebaliknya, lonjakan laba bersih AALI sebesar 94% qoq patut dicermati dengan hati-hati. Kinerja bottom-line AALI yang tampak luar biasa ini sebagian besar dipicu oleh faktor timing akuntansi. Adanya penumpukan inventori senilai Rp672 miliar menunda pengakuan COGS, sehingga mempercantik margin kuartal kedua secara semu. Tanpa rilis data operasional yang transparan, keberlanjutan margin AALI masih dipertanyakan, membuat saham ini lebih aman di posisi Hold.

Memasuki paruh kedua tahun ini, katalis utama sektor ini akan bergeser pada realisasi volume panen musiman dan implementasi kebijakan biodiesel B50. Meskipun sentimen El Niño berpotensi menjaga harga CPO tetap solid di tingkat global, pelaku pasar juga harus mewaspadai ketidakpastian regulasi ekspor baru di bawah Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Secara keseluruhan, sikap netral tetap realistis dengan fokus selektif pada emiten yang memiliki produktivitas tinggi dan efisiensi biaya yang teruji.