Kinerja keuangan Telkom Indonesia (TLKM) di kuartal kedua 2026 (2Q26) menunjukkan sinyal pemulihan yang cukup solid. Laba bersih dilaporkan mencapai Rp6,3 triliun, melonjak 22% secara YoY dan tumbuh 45% secara QoQ. Meskipun kinerja akumulatif selama paruh pertama tahun ini (1H26) masih terkoreksi tipis 3% YoY ke angka Rp10,6 triliun, pencapaian ini melampaui estimasi awal pasar, mencerminkan earnings momentum yang mulai kembali ke jalur yang tepat.
Satu katalis positif yang paling dinantikan adalah stabilisasi lini bisnis broadband. ARPU (Average Revenue Per User) IndiHome B2C akhirnya mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,4% QoQ menjadi Rp211 ribu, mematahkan tren penurunan beruntun selama sepuluh kuartal terakhir. Di sisi seluler, Telkomsel juga menunjukkan performa tangguh dengan ARPU naik 2% QoQ ke level Rp46 ribu di tengah basis pelanggan yang stabil di angka 153,5 juta. Ditambah lagi, pendapatan non-Telkomsel tumbuh kuat sebesar 11% QoQ, memperkuat diversifikasi top-line perusahaan.
Namun, di balik perbaikan profitabilitas ini, ada beberapa catatan penting yang perlu dicermati. Pemulihan ARPU IndiHome harus dibayar dengan penurunan jumlah pelanggan sebesar 7,9% QoQ menjadi 9,5 juta. Kehilangan pelanggan dalam jumlah cukup besar ini mengindikasikan adanya tantangan retensi di tengah kompetisi pasar yang ketat. Di sisi lain, Free Cash Flow to Equity (FCFE) menyusut 11% YoY, terutama dipicu oleh aktivitas pembayaran utang. Meskipun pembayaran utang ini berdampak positif pada penurunan rasio net debt to EBITDA menjadi 0,34x yang memperkuat balance sheet, hal ini membatasi fleksibilitas kas jangka pendek.
Menariknya, pasca-lelang spektrum 5G, manajemen tidak mengubah panduan capex untuk tahun 2026, yang tetap dipertahankan pada kisaran 17-19% dari revenue. Dengan valuasi saat ini, daya tarik utama TLKM terletak pada disiplin pembagian dividen melalui kerangka strategis TLKM30. Proyeksi dividend yield yang berkisar di angka 8,4% untuk tahun 2026 memberikan downside buffer yang kuat bagi investor jangka panjang, melindungi portofolio dari potensi risiko perang tarif seluler atau beban integrasi portofolio yang belum sepenuhnya mereda.