Laporan keuangan semester pertama UNTR memang terlihat mengerikan. Revenue IDR58tn, turun 15% y-y; reported net profit cuma IDR956bn, minus 88% y-y. Tapi kalau lihat lebih dalam, angka headline itu dibebani impairment Rp3,3 triliun atas stake di Supreme Geothermal. Setelah dipisahkan, core profit sebenarnya IDR4.3tn (-48% y-y). Masih turun, tapi tidak separah yang terlihat.
Parahnya memang di kuartal kedua: net profit IDR314bn, -93% y-y. Namun di level core, 2Q26 malah sekitar IDR3.6tn, jauh lebih baik daripada 1Q26 yang hanya IDR0.6tn. Artinya penurunan headline lebih banyak karena 'kitchen-sinking' — manajemen sekaligus membersihkan neraca. Ada risiko write-down lanjutan karena review aset masih berjalan, tapi dari angka kuartalan, operasional dasar mulai pulih.
Pemicu berikutnya adalah revisi RKAB yang diajukan Juli, dengan target approval akhir Agustus. Kalau disetujui, asumsi UNTR untuk FY26: coal sales 9.5Mt, mining contracts 950mn BCM, heavy equipment 4,000 units, gold 80koz, nickel ore 1.3mn wmt. Martabe sudah balik profit di 2Q26 dan harusnya berlanjut di 2H26. Jadi jangan lihat headline; lihat saja apakah RKAB keluar dan bagaimana eksekusi segmen kontraktor tambang.
Segmen mining contracting sekarang menyumbang sekitar 57% dari core profit segmen dan tumbuh organik. Heavy equipment masih tahan di level dasar. Nickel build-out dan aset emas Doup (produksi 2028) menjadi cerita jangka menengah-panjang. Di sisi pemegang saham, UNTR juga sedang buyback tranche keempat sampai Rp2 triliun (Juli-September 2026) plus payout ratio 40-50%, estimasi yield 4.2%. Bagi yang cari total shareholder return, ini tetap menarik.
Valuasi di 9.2x FY26F P/E (EPS normal IDR2,608) tidak murah tapi tidak mahal, terutama kalau RKAB disetujui. Target harga turun dari IDR39,200 ke IDR27,000, implied upside 12.5% dari harga IDR24,000. Saya tetap memandangnya netral: franchise-nya masih compounding, tapi risiko commodity price, regulasi, dan eksekusi bisnis baru (gold/nickel) cukup nyata. Kalau harga komoditas jatuh atau RKAB molor, downside masih terbuka. Sebaliknya, operational recovery yang lebih cepat bisa jadi katalis. Intinya: wait and see, tapi jangan buru-buru jual hanya karena headline laba jelek.