Sektor perunggasan kembali menghadapi ujian berat. Malindo Feedmill Indonesia (MAIN) mencatatkan net loss sebesar Rp24 miliar pada 2Q26. Angka ini berbanding terbalik dengan pencapaian 1Q26 yang membukukan net profit Rp123 miliar, meskipun jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year), performa ini masih lebih baik daripada rugi bersih Rp36 miliar pada 2Q25.
Secara kumulatif, laba bersih 1H26 mencapai Rp99 miliar. Angka ini memang tumbuh signifikan dibanding basis rendah tahun lalu, namun hanya memenuhi sekitar 23% dari proyeksi setahun penuh. Mengapa earnings miss ini bisa terjadi?
Biang kerok utamanya adalah tekanan hebat pada feed margin dan pelemahan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) di segmen livebird (ayam hidup). Meskipun pendapatan konsolidasi relatif stabil di Rp4,4 triliun (-1% qoq), gross operating margin turun ke teritori negatif sebesar -0,4% akibat lonjakan harga bahan baku yang tidak diimbangi oleh kenaikan harga jual ke konsumen (limited ASP pass-through).
Segmen pakan (feed), yang biasanya menjadi penopang utama, mencatatkan margin operasional terendah secara historis di level 0,9% (turun 467 bps secara kuartalan). Di saat yang sama, segmen livebird mencatat rugi operasional sebesar Rp56 miliar dengan margin operasional anjlok ke -4,5% dari sebelumnya +3,3% di kuartal pertama. Hanya segmen DOC (anak ayam usia sehari) yang masih mampu bertahan di zona hijau dengan operating profit margin (OPM) sebesar 4,1%, meski kinerjanya juga ikut melandai.
Merespons realitas baru ini, kami merevisi asumsi harga bahan baku global. Proyeksi harga jagung (corn) dinaikkan sebesar 2% dan bungkil kedelai (soybean meal) naik 3% untuk tahun ini. Dampaknya, estimasi EBITDA dan net profit MAIN untuk FY26 dipangkas masing-masing sebesar 27% dan 44%.
Dengan pemangkasan proyeksi keuangan tersebut, target harga (TP) saham MAIN disesuaikan menjadi Rp900 per lembar (dari sebelumnya Rp1.700). Target baru ini merefleksikan valuasi EV/EBITDA sebesar 4,5x, setara dengan rata-rata historis 5 tahun.
Meskipun menghadapi downside risk dari fluktuasi harga bahan baku impor, kami mempertahankan rating Buy untuk jangka panjang. Secara taktikal untuk 3 bulan ke depan, ada peluang pemulihan (rebound) harga livebird dan DOC seiring normalisasi permintaan setelah fase pelemahan musiman di kuartal kedua berakhir. Di harga saat ini, valuasi MAIN tergolong menarik bagi investor yang bersedia menoleransi volatilitas jangka pendek demi potensi pemulihan margin di paruh kedua.