LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MBMA, EMAS, MDKA: Mana yang Layak Dibeli?

Perbandingan mendalam MBMA, EMAS, dan MDKA dari ekosistem Merdeka — valuasi, growth outlook, dan risiko masing-masing saham hingga 2028.


Ekosistem Merdeka kini terdiri dari tiga entitas publik yang masing-masing menawarkan profil risiko-return sangat berbeda: MBMA (nikel), EMAS (emas), dan MDKA sebagai induk. Tapi jangan salah — ketiganya bukan sekadar versi berbeda dari satu cerita yang sama.

MBMA: Growth story yang paling konkret

Dari ketiga entitas, MBMA punya earnings trajectory paling jelas. Revenue diproyeksikan tumbuh 46,8% di 2026E menjadi US$2,1 miliar, setelah drop 22% di 2025A. Yang lebih menarik, EPS adjusted diperkirakan loncat hampir 703% di 2026E — meski dari base yang sangat rendah. EBIT margin juga membaik signifikan: dari 9,1% di 2025A ke 20,9% di 2026E.

Valuasi di 7,4x EV/EBITDA untuk 2026E dan 6,4x untuk 2027E tergolong wajar untuk mining growth story dengan eksposur nikel murni. PER 2026E turun ke 14x dari 112x di 2025A — kompresi valuasi yang cukup dramatis jika earnings delivery sesuai proyeksi.

Risikonya jelas: harga nikel yang masih tertekan (saat ini jauh di bawah US$18.000/ton) dan ramp-up HPAL yang belum tentu on-schedule. Tapi untuk investor yang mau taruhan pada rotasi dari safe-haven ke industrial metals, MBMA adalah kendaraan paling direct di ruang ini.

EMAS: Valuasi sudah berlari terlalu jauh

Saham EMAS naik lebih dari 160% sejak IPO September 2025 — jauh melampaui kenaikan harga emas itu sendiri (+15%) maupun JCI yang justru turun 21% di periode yang sama. Performa ini mencerminkan antusiasme pasar terhadap cadangan emas besar Indonesia dengan cash cost rendah.

Tapi angkanya sulit diabaikan: EMAS diperdagangkan di sekitar 10x EV/EBITDA hingga 2028E, sementara peers global dengan struktur biaya serupa rata-rata hanya di 5–6x. P/BV 2026E masih di 10,9x, ROE memang tinggi (40,8% di 2026E), tapi premium ini sudah sangat besar untuk sebuah saham yang baru IPO kurang dari setahun.

Upside masih ada jika harga emas terus naik di atas asumsi jangka panjang atau produksi melebihi ekspektasi. Tapi dari perspektif risk-reward saat ini, entry point saat ini menempatkan investor pada posisi yang kurang menguntungkan dibanding membeli langsung exposure emas melalui instrumen lain.

MDKA: Holding discount yang sulit di-unlock

MDKA adalah yang paling kompleks. Sebagai induk, nilainya seharusnya mencerminkan gabungan MBMA dan EMAS — tapi aset MDKA sendiri (terutama Wetar Copper yang produksinya menurun) hanya berkontribusi sekitar 3,5% dari NAV di 2027E. Sisanya adalah function dari valuasi anak perusahaan yang sudah listed secara terpisah.

Bottom line MDKA diproyeksikan near-breakeven sepanjang 2026E–2028E, bahkan kembali rugi di 2028E (reported profit -US$64 juta). PER 2026E di 425x dan EV/EBITDA 23x — angka yang sulit dijustifikasi tanpa narrative yang sangat bullish pada kedua anak perusahaannya sekaligus.

EBITDA growth ~28% per tahun 2026–2028E memang solid, tapi jika profit tidak mengalir ke bottom line, investor essentially membayar mahal untuk sebuah struktur holding yang value creation-nya sudah ter-capture di level anak perusahaan.

Dari ketiga nama ini, MBMA menawarkan kombinasi growth visibility dan valuasi yang paling masuk akal — dengan catatan investor nyaman dengan risiko harga nikel dan eksekusi operasional. EMAS menarik secara fundamental tapi sudah terlalu di-price-in oleh pasar. MDKA, tanpa katalis spesifik di level induk, sulit menjadi pilihan utama di antara ketiganya.