LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MDKA & INCO Top Pick, Emas Temukan Floor?

Harga emas tampaknya sedang menemukan lantainya di kisaran US$4.000/oz. Dua katalis terbaru — potensi deal AS-Iran yang kembali mencuat dan data ADP jobs yang lemah — berhasil menekan ekspektasi inflasi, yang secara historis menjadi angin segar bagi gold price. Di sisi lain, pembelian bank sentral, terutama dari China, terus memberikan support struktural. China gold imports naik +7% mom ke 173kt di Juni 2026, sementara total 1H26 imports melonjak +89% yoy ke 865kt. Angka-angka ini bukan sekadar noise — ini sinyal demand yang konsisten dan terorganisir.

Untuk gold miners, dua nama yang menarik adalah ANTM dan EMAS. ANTM diuntungkan dari potensi kenaikan volume trading emas seiring ASP yang lebih tinggi, sementara EMAS punya katalis tambahan yang cukup unik: probabilitas tinggi masuk ke dalam VanEck Global Gold Miners ETF (GDX), yang bisa mendatangkan potential inflow hingga sekitar US$100 juta — setara 11–12x ADTV tiga bulan EMAS. Kalau ini terealisasi, efeknya ke likuiditas dan harga saham bisa cukup signifikan.

Di sisi nikel, ceritanya lebih kompleks. Downstream products seperti NPI dan FeNi relatif stabil sepanjang Juli 2026, dengan NPI trading di US$14,6k/t. Battery-grade products — MHP, nickel matte, nickel sulphate — juga flat secara mom meski LME nickel sempat naik +6% mom ke US$17k/t. Tapi di level ore, tekanan sudah terlihat nyata. Saprolite ore (grade 1,6%) turun ke US$66/wmt, minus 13% mom, dengan premium yang compressing dari US$5,5/wmt menjadi hanya US$2,7/wmt.

Dan tekanan ini kemungkinan belum selesai. Ada tiga faktor yang bakal terus menekan nickel ore price ke depan:

  • Cuaca yang membaik, yang memperlancar aktivitas penambangan dan supply
  • Approval RKAB tambahan — termasuk kabar WBN yang mendapat kuota tambahan ~25 juta wmt di atas kuota existing 12 juta wmt
  • Gangguan ekspor terkait kandungan rare-earth yang masih jadi isu regulasi

LME nickel sudah merespons dengan turun ke US$16,7k/t (-3%) setelah berita RKAB tambahan tersebut. Ini menunjukkan pasar sensitif terhadap supply signal dari Indonesia.

Dari sisi hasil 2Q26, mayoritas emiten miners belum merilis angka final — Adaro/Alamtri dan Merdeka Group masih dalam limited review. Yang menarik, INCO, NCKL, dan HRUM masing-masing naik +6%, +4%, dan +6% di hari setelah rilis hasil, meski hasilnya in-line saja. Ini menunjukkan bahwa market expectation memang sudah sangat rendah — sehingga hasil yang "biasa" pun sudah cukup untuk mendorong rebound. Net profit ketiganya juga naik secara qoq, yang menambah sentimen positif jangka pendek.

Untuk ANTM, ada potensi sedikit negative reaction pada rilis 2Q26 karena net profit kemungkinan turun secara qoq, meski angka 1H26 secara keseluruhan diperkirakan masih di atas konsensus.

Top pick saat ini tetap MDKA dan INCO. MDKA punya re-rating catalyst dari seleksi JV partner untuk proyek TB Copper yang akan datang — ini bisa jadi event yang mengubah persepsi pasar terhadap pipeline growth perusahaan. INCO di sisi lain didorong oleh penambahan kuota RKAB dan ramp-up volume ore yang masih berlangsung. Dari sisi valuation, keduanya masih terlihat menarik — INCO di EV/EBITDA 4,5x untuk 2027F dan turun ke 3,2x di 2028F, sementara MDKA compressing dari 4,7x ke 2,8x di periode yang sama.

Satu hal yang perlu dicatat: gold proxies saat ini masih underappreciated dibanding nickel miners, meski secara fundamental momentum emas lebih solid. Ini bisa jadi opportunity yang belum sepenuhnya dipricing oleh pasar.