US 10-year Treasury yield bertahan di level tinggi bukan hanya karena kebijakan moneter — risk premia dan erosi fungsi safe haven obligasi jadi faktor kunci.
Sejak 2022, US 10-year Treasury yield melesat dari hampir nol hingga ke kisaran 350–400 basis points — dan yang menarik, yield tersebut tidak banyak turun meski siklus kenaikan Fed Funds Rate sudah melewati puncaknya. Ini bukan sekadar cerita tentang kebijakan moneter yang agresif.
Dekomposisi yield menggunakan pendekatan Structural Vector Autoregression mengungkap sesuatu yang lebih struktural: porsi monetary policy memang sempat menjadi pendorong dominan pada 2022–2023, mencapai sekitar 250 bps dari total kenaikan. Tapi sejak 2024, kontribusinya mulai termoderasi. Yang justru membesar adalah hedging premium — premi yang mencerminkan seberapa besar investor bersedia membayar untuk obligasi sebagai lindung nilai terhadap risiko penurunan aset berisiko.
Kenaikan hedging premium ini bukan sinyal positif. Ini mengindikasikan bahwa pasar semakin mempertanyakan peran obligasi sebagai safe haven dalam portofolio. Ketika saham jatuh, obligasi idealnya naik — itulah dasar dari konstruksi portofolio 60/40 selama beberapa dekade. Tapi korelasi positif antara saham dan obligasi yang muncul sejak 2022 merusak logika itu. Investor kini meminta kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi, justru karena fungsi perlindungannya tidak lagi bisa diandalkan seperti dulu.
Common premium — yang mencerminkan risk appetite umum di seluruh kelas aset — sempat mendorong yield ke puncaknya di akhir 2022 hingga awal 2023, lalu sedikit menyusut. Tapi kontribusinya kembali positif menuju 2025–2026, menandakan bahwa persepsi risiko struktural di pasar belum mereda.
Faktor growth sendiri kontribusinya relatif kecil dan stabil di kisaran 25–50 bps sepanjang periode — artinya ekspektasi pertumbuhan bukan driver utama dari persistensi yield ini.
Implikasinya cukup serius untuk alokasi aset. Jika hedging premium terus membesar, artinya biaya untuk mempertahankan obligasi sebagai komponen defensif portofolio semakin mahal. Duration risk menjadi lebih asimetris — potensi kerugian dari kenaikan yield lebih besar dibandingkan gain yang didapat saat risk-off. Untuk pasar seperti Indonesia, yield US Treasury yang sticky di level tinggi juga menjaga tekanan pada rupiah dan membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan secara agresif, meski inflasi domestik sudah terkendali.
Selama korelasi saham-obligasi belum kembali ke pola historis yang negatif, yield panjang AS kemungkinan akan terus bertahan di level elevated — bukan karena Fed belum cukup dovish, tapi karena pasar sedang me-reprice ulang nilai fundamental dari obligasi itu sendiri.