Performa pasar saham Indonesia semakin tertinggal dibandingkan beberapa bursa utama Asia. Rasio apresiasi indeks terhadap market capitalization MSCI Indonesia tercatat sekitar -34,7%, terendah dalam perbandingan regional ini. MSCI Filipina juga berada di wilayah negatif sebesar -27,1%, sedangkan MSCI Jepang naik 21,7% dan MSCI Singapura mencapai 54,7%. Vietnam memimpin jauh dengan kenaikan sekitar 111,1%.
Indonesia sempat bergerak mengikuti trajectory Vietnam hingga 2024. Divergensi mulai terbentuk pada 2025 ketika Vietnam melanjutkan rally, sementara Indonesia kehilangan momentum dan kemudian mengalami sell-off tajam. Pola tersebut menunjukkan bahwa besarnya ekonomi atau populasi tidak otomatis menghasilkan equity market performance yang superior. Foreign fund flow, kualitas emiten, market liquidity, stabilitas kebijakan, dan perlindungan investor tetap menentukan valuation multiple yang bersedia dibayar pasar.
Kapitalisasi Jakarta Composite kini berada di kisaran US$600 miliar, sedikit di bawah pasar saham Singapura. Posisi ini cukup kontras karena ukuran ekonomi Indonesia jauh lebih besar. Artinya, masih terdapat monetization gap antara aktivitas ekonomi domestik dan nilai perusahaan yang tercatat di bursa. Rendahnya free float pada sejumlah saham besar, konsentrasi indeks, serta corporate governance discount dapat menahan rerating meskipun pertumbuhan ekonomi tetap positif.
Tekanan rupiah turut memperburuk return bagi investor global. Pelemahan rupiah memiliki kemiripan dengan yen karena kedua negara sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Namun, performa Nikkei 225 yang jauh lebih kuat membuktikan bahwa currency weakness tidak selalu berakhir pada pelemahan saham. Reformasi tata kelola Jepang, peningkatan shareholder return, share buyback, dan dorongan terhadap efisiensi modal berhasil menarik kembali dana global.
Skala pasar juga memperlihatkan ruang ekspansi ASEAN. Gabungan market cap enam ekonomi terbesar Asia Tenggara sekitar US$1,7 triliun, masih jauh dari Jepang yang mencapai US$6,4 triliun. Gap tersebut tidak hanya mencerminkan perbedaan ukuran korporasi, tetapi juga kedalaman pasar dan kepercayaan terhadap institusi.
Model trading houses Jepang seperti Itochu, Mitsubishi, Mitsui, Sumitomo, dan Marubeni menawarkan referensi menarik. Konglomerasi tersebut mampu mengubah portofolio bisnis yang luas menjadi disciplined capital allocation dan recurring cash flow, sehingga mendapatkan perhatian investor jangka panjang seperti Warren Buffett. Pendekatan serupa dapat menjadi benchmark bagi konglomerasi ASEAN.
Bagi Indonesia, katalis rerating tidak cukup hanya berasal dari earnings growth. Perbaikan disclosure, peningkatan free float, konsistensi regulasi, dan kebijakan yang lebih pro-shareholder dibutuhkan untuk memperkecil governance discount. Tanpa perubahan struktural, valuasi murah dapat bertahan lama dan gagal berubah menjadi sustainable rally.