LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Nasib Saham Nikel 2026: 3 Skenario EV Global yang Wajib Kamu Tahu

Ada momen ketika sebuah tren besar mulai memperlihatkan wajah aslinya — bukan lagi hype, bukan lagi mimpi, tapi realita yang penuh nuansa dan kontradiksi. Pasar kendaraan listrik global di tahun 2026 sedang berada tepat di titik infleksi itu. Pertumbuhan masih ada, tapi bukan lagi pertumbuhan yang membabi buta. Adopsi terus berjalan, tapi mengikuti pola S-curve yang jauh lebih tenang dari narasi eksponensial yang selama ini dijual ke investor. Dan di sinilah letak peluang sesungguhnya bagi mereka yang mau membaca data dengan kepala dingin.

Artikel ini adalah upaya saya untuk memetakan lanskap EV global 2026 secara menyeluruh — dari data aktual semester pertama, tiga skenario proyeksi hingga 2035, hingga implikasinya terhadap mineral kritis dan emiten Indonesia yang paling terdampak. Ini bukan artikel pendek. Tapi jika Anda serius berinvestasi di sektor ini, setiap paragrafnya layak dibaca.

S-Curve: Mengapa Pertumbuhan EV Melambat Bukan Berarti Gagal

Sebelum masuk ke angka, kita perlu meluruskan satu kesalahan konseptual yang sering membuat investor panik atau salah baca sinyal. Ketika pertumbuhan EV melambat dari 30–40% per tahun menjadi 6–7%, banyak yang langsung menyimpulkan bahwa tren ini sedang "mati". Itu keliru secara fundamental.

Adopsi teknologi baru hampir selalu mengikuti pola S-curve — bukan kurva eksponensial yang terus mendaki tanpa henti. Fase awal adalah pertumbuhan cepat karena early adopters masuk. Fase tengah adalah pertumbuhan yang melambat secara alami karena pasar mulai jenuh di segmen premium dan beralih ke segmen massal yang lebih price-sensitive. Fase akhir adalah saturasi di mana penetrasi mendekati batas atas.

Mobil listrik global saat ini sedang memasuki fase tengah S-curve. Pertumbuhan 6–7% per tahun pada basis penjualan 34 juta unit per tahun adalah angka yang sangat besar secara absolut. Ini bukan kegagalan — ini adalah kedewasaan pasar. Dan kedewasaan pasar inilah yang justru membuat proyeksi mineral menjadi lebih bisa diandalkan, karena demand-nya lebih predictable.

"The most dangerous phrase in investing is: this time it's different. Tapi frasa paling mahal kedua adalah: growth melambat berarti tren sudah berakhir."

Dengan kerangka pikir ini, mari kita bedah data aktual yang tersedia.

Data 1H 2026: Membaca Peta yang Sebenarnya

Paruh pertama 2026 memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks dari headline yang beredar. Total penjualan EV global mencapai 9,6 juta unit — naik 7% secara year-on-year. Dari total penjualan otomotif global sebesar 95,7 juta unit, EV kini menyumbang penetrasi 36%. Angka ini luar biasa jika kita ingat bahwa lima tahun lalu penetrasi EV masih di bawah 5%.

Namun di balik angka agregat ini, terdapat dinamika regional yang sangat berbeda — dan memahami perbedaan ini adalah kunci untuk membaca ke mana demand mineral akan mengalir.

China: Raksasa yang Sedang Menarik Napas

China, yang selama bertahun-tahun menjadi mesin pertumbuhan EV dunia, mencatat penjualan 4,8 juta unit di 1H26 — turun 11% year-on-year. Ini bukan sinyal bahwa China berbalik arah dari EV. Ini adalah konsekuensi langsung dari kebijakan pajak baru yang diimplementasikan pemerintah, yang mengurangi subsidi dan menambah beban fiskal bagi pembeli kendaraan tertentu.

Penting untuk dipahami: China masih menyumbang 50% dari total penjualan EV global. Penurunan 11% di China bisa dengan mudah menenggelamkan pertumbuhan di kawasan lain. Fakta bahwa angka global tetap positif +7% justru membuktikan betapa kuatnya momentum di luar China.

Eropa: Kebangkitan yang Nyata

Uni Eropa mencatat pertumbuhan paling impresif: 2,5 juta unit, naik 27% year-on-year. Ini didorong oleh kombinasi regulasi emisi yang semakin ketat, insentif fiskal yang dipertahankan di Jerman dan Prancis, serta membanjirnya model EV terjangkau dari produsen Eropa dan China yang masuk dengan harga kompetitif.

Eropa menjadi bukti bahwa ketika regulasi serius dan infrastruktur charging memadai, adopsi EV bisa berakselerasi dengan cepat bahkan di pasar yang sudah mature.

Amerika Serikat: Tekanan Politik Bertemu Realita Pasar

AS mencatat 0,8 juta unit, turun 11% year-on-year. Ini adalah dampak langsung dari ketidakpastian kebijakan — pengurangan atau penghapusan kredit pajak EV dalam paket fiskal terbaru, ditambah sentimen politik yang membuat sebagian konsumen menunda keputusan pembelian.

Meski demikian, penurunan di AS tidak mengejutkan bagi mereka yang mengikuti dinamika politik Washington. Yang menarik adalah seberapa cepat pasar lain mengkompensasi kelemahan ini.

Rest of World: Surprise Terbesar

Kawasan Rest of World — yang mencakup Asia Tenggara, India, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika — mencatat penjualan 1,35 juta unit, atau dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini adalah pertumbuhan yang paling underappreciated di seluruh data EV global.

India dengan skema subsidi FAME-III, Thailand dengan kebijakan EV Hub, dan beberapa negara Amerika Latin yang mulai serius membangun ekosistem EV — semuanya berkontribusi pada lonjakan ini. Kawasan ini akan menjadi driver pertumbuhan EV yang dominan dalam satu dekade ke depan.

Komposisi BEV vs PHEV

Dari total 9,6 juta unit, 65% adalah BEV (Battery Electric Vehicle) murni dan 35% adalah PHEV (Plug-in Hybrid). Proporsi PHEV yang masih besar ini relevan untuk proyeksi mineral — PHEV menggunakan baterai yang lebih kecil, sehingga demand per unit untuk litium dan nikel lebih rendah dibandingkan BEV.

Proyeksi full year 2026 diperkirakan mencapai 34,7 juta unit total, tumbuh sekitar 6% year-on-year. Ini adalah angka yang solid dan konsisten dengan pola S-curve yang sudah dibahas.

Tiga Skenario 2026–2035: Peta Jalan Mineral Kritis

Dengan baseline data yang sudah kita pahami, mari masuk ke bagian paling krusial: proyeksi tiga skenario hingga 2035 dan implikasinya terhadap demand mineral. Tiga skenario ini — Base, Bull, dan Bear — bukan sekadar angka optimis dan pesimis. Masing-masing mencerminkan asumsi yang berbeda tentang kebijakan, teknologi baterai, dan adopsi konsumen.

Parameter 🐻 Bear Case 📊 Base Case 🐂 Bull Case
EV Sales 2035 44 juta unit 47 juta unit 53 juta unit
Penetrasi EV 2035 38% 43% 48%
Demand Tembaga ~3.000 kt 3.443 kt 3.854 kt
Demand Nikel ~270 kt 313 kt 350 kt
Demand Litium ~1.150 kt LCE 1.328 kt LCE 1.487 kt LCE
Asumsi Utama Kebijakan mundur, LFP dominan, adopsi lambat Tren saat ini berlanjut moderat Regulasi agresif, penurunan harga EV cepat

Beberapa observasi penting dari tabel ini:

Pertama, bahkan dalam skenario Bear, demand mineral untuk EV di 2035 masih jauh lebih tinggi dari level 2024. Ini menegaskan bahwa pertanyaannya bukan "apakah demand akan tumbuh" tapi "seberapa cepat dan seberapa besar".

Kedua, spread antara Bull dan Bear untuk Litium sangat lebar — hampir 30% perbedaan. Ini mencerminkan betapa sensitifnya demand litium terhadap perubahan chemistry baterai. Jika LFP (Lithium Iron Phosphate) terus mendominasi atas NMC (Nickel Manganese Cobalt), demand litium per kWh memang lebih tinggi karena energy density lebih rendah, tapi nikel lebih rendah. Sebaliknya jika NMC atau bahkan solid-state battery mengambil alih, dinamikanya berubah signifikan.

Ketiga, spread untuk Tembaga relatif lebih sempit secara persentase — ini karena tembaga tidak terlalu tergantung pada chemistry baterai. Tembaga digunakan di motor, wiring, charging infrastructure, dan inverter — komponen yang ada di semua jenis EV apapun teknologi baterainya.

Pemenang Mineral: Siapa yang Paling Diuntungkan?

Tidak semua mineral kritis mendapat berkah yang sama dari revolusi EV. Memahami posisi relatif masing-masing mineral adalah kunci untuk membuat keputusan investasi yang tepat.

Tembaga: Pemenang Terbesar yang Paling Underrated

Jika saya harus memilih satu mineral yang paling menarik dari perspektif investasi jangka panjang dalam konteks EV, jawaban saya adalah tembaga — dan ini mungkin mengejutkan banyak orang yang lebih familiar dengan litium atau nikel sebagai "mineral EV".

Data menunjukkan bahwa share EV dalam total demand tembaga global melonjak dari hanya 3% di 2020 menjadi proyeksi 13% di 2035. Ini adalah pertumbuhan share yang paling dramatis di antara semua mineral. Mengapa?

  • Setiap EV membutuhkan 3–4x lebih banyak tembaga dibandingkan kendaraan ICE konvensional — untuk motor listrik, sistem wiring tegangan tinggi, dan baterai
  • Charging infrastructure membutuhkan tembaga dalam jumlah masif — dari kabel distribusi hingga charger itu sendiri
  • Grid modernisasi yang diperlukan untuk mendukung EV scale-up juga sangat copper-intensive
  • Supply constraint tembaga jauh lebih rigid — tambang tembaga besar butuh 10–15 tahun dari eksplorasi ke produksi

Kombinasi demand yang tumbuh dari multiple sources (EV + grid + renewable energy) dengan supply yang sulit ditambah dengan cepat menciptakan setup yang sangat menarik untuk harga tembaga jangka panjang.

Nikel: Stabil, Bukan Spektakuler

Nikel adalah mineral yang paling sering disalahpahami dalam konteks EV. Banyak investor berasumsi bahwa nikel adalah "mineral baterai" yang akan meledak seiring adopsi EV. Kenyataannya lebih bernuansa.

Share EV dalam demand nikel global diproyeksikan stagnan di kisaran 7–8% sepanjang periode 2026–2035. Mengapa tidak lebih tinggi? Karena nikel terutama digunakan dalam baterai NMC — dan tren global justru bergerak ke arah LFP yang tidak menggunakan nikel sama sekali. China, yang mendominasi produksi baterai global, sudah sangat condong ke LFP.

Ini tidak berarti demand nikel untuk EV tidak tumbuh dalam nilai absolut — dari Base Case 313 kt di 2035 dibandingkan level saat ini yang jauh lebih rendah, pertumbuhannya tetap signifikan. Tapi jangan mengharapkan nikel menjadi "next lithium" dalam hal price spike yang dramatis semata karena EV.

Nikel tetap menarik, tapi dengan narasi yang berbeda: demand stabil yang bisa diprediksi, bukan growth dramatis yang spekulatif.

Litium: Paling Volatile, Paling Tergantung Teknologi

Litium adalah mineral EV dengan profil risiko paling tinggi — dalam arti positif maupun negatif. Spread antara Bull dan Bear case untuk litium adalah yang terlebar di antara semua mineral, mencerminkan ketidakpastian yang genuine tentang arah teknologi baterai.

Skenario Bull untuk litium bergantung pada: BEV terus mendominasi atas PHEV, solid-state battery berbasis litium menjadi mainstream, dan tidak ada terobosan teknologi alternatif yang menggantikan litium sama sekali. Skenario Bear bergantung pada: LFP terus mendominasi (yang paradoksnya justru butuh lebih banyak litium per kWh tapi menekan margin karena harga litium lebih rendah), atau ada shift ke sodium-ion battery yang signifikan.

Untuk investor, litium adalah taruhan pada arah teknologi — bukan sekadar taruhan pada pertumbuhan EV.

Kobalt: Stabil di Pinggiran

Kobalt mempertahankan share yang relatif stabil di 66–68% dari demand yang berasal dari baterai EV. Tapi karena total demand kobalt tidak tumbuh dramatis dan ada kekhawatiran supply chain dari Kongo, kobalt bukan mineral yang paling menarik untuk dibicarakan dalam konteks investasi Indonesia — karena Indonesia tidak memiliki cadangan kobalt yang signifikan.

Implikasi untuk Emiten Indonesia: Siapa yang Paling Terdampak?

Inilah bagian yang paling relevan bagi investor Indonesia. Mari kita petakan emiten-emiten yang posisinya paling langsung terpengaruh oleh skenario EV global ini.

Segmen Tembaga: AMMN dan MDKA

Dengan tembaga sebagai pemenang terbesar dalam narasi EV mineral, dua emiten Indonesia yang paling relevan adalah AMMN (Amman Mineral Internasional) dan MDKA (Merdeka Copper Gold).

AMMN memiliki cadangan tembaga yang sangat besar di Nusa Tenggara Barat. Perusahaan ini sedang dalam fase ekspansi signifikan dengan pembangunan smelter tembaga yang akan meningkatkan value-added dari produksi mereka. Dalam skenario Base hingga Bull untuk tembaga, AMMN adalah salah satu beneficiary paling langsung di pasar Indonesia.

Yang menarik adalah bahwa tembaga AMMN tidak hanya terekspos ke demand EV, tapi juga ke demand infrastruktur grid dan renewable energy — yang semuanya bergerak dalam arah yang sama. Ini adalah multiple tailwind yang jarang dimiliki satu emiten sekaligus.

MDKA memiliki profil yang lebih kompleks — eksposur ke tembaga, emas, dan melalui anak usahanya juga ke nikel. Diversifikasi ini memberikan resiliensi tapi juga membuat analisisnya lebih berlapis. Proyek tembaga MDKA di Sulawesi Tengah memiliki potensi besar, meski masih dalam tahap pengembangan yang membutuhkan capital expenditure signifikan.

Segmen Nikel: Ekosistem yang Kaya tapi Perlu Selektif

Indonesia adalah pemain dominan dalam nikel global — menyumbang lebih dari 40% produksi nikel dunia. Ekosistem emiten nikel di bursa Indonesia pun cukup beragam, masing-masing dengan positioning yang berbeda.

MBMA (Merdeka Battery Materials) adalah emiten yang paling eksplisit memposisikan diri dalam rantai nilai baterai EV. MBMA fokus pada produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan produk nikel intermediat lainnya yang menjadi bahan baku baterai. Dalam konteks skenario EV, MBMA adalah yang paling langsung terekspos ke demand nikel untuk baterai.

NCKL (Trimegah Bangun Persada) adalah salah satu produsen nikel terbesar yang listing relatif baru. Dengan cadangan nikel laterit yang besar dan fasilitas HPAL (High Pressure Acid Leach) yang sedang dikembangkan, NCKL memiliki ambisi untuk menjadi pemain kelas dunia dalam nikel untuk baterai.

HRUM (Harum Energy) melakukan transformasi menarik dari perusahaan batu bara menjadi pemain nikel. Akuisisi aset nikel dan investasi dalam teknologi pemrosesan membuat HRUM menjadi taruhan pada transisi energi dengan cara yang tidak banyak perusahaan batu bara lain lakukan.

ANTM (Aneka Tambang) adalah BUMN dengan diversifikasi mineral yang luas — nikel, emas, bauksit, dan lainnya. Sebagai BUMN, ANTM memiliki akses ke kebijakan pemerintah dan sering menjadi mitra strategis dalam proyek-proyek nasional. Eksposur nikelnya signifikan, meski skala operasinya tidak seagresif pemain swasta.

INCO (Vale Indonesia) adalah anak usaha Vale Brasil yang memproduksi nikel matte di Sulawesi. INCO adalah produsen nikel dengan track record panjang, tapi model bisnisnya yang fokus pada nickel matte (bukan produk baterai) membuat eksposurnya ke EV demand lebih tidak langsung dibandingkan MBMA atau NCKL.

Segmen Timah: TINS dalam Cerita yang Berbeda

TINS (Timah) adalah satu-satunya produsen timah besar yang listed di Indonesia. Timah memiliki peran dalam elektronik dan solder, termasuk dalam komponen baterai dan elektronik EV, tapi bukan mineral yang paling disorot dalam narasi EV. TINS lebih merupakan taruhan pada recovery harga timah global dan perbaikan operasional perusahaan daripada pure-play EV story.

Satu Celah Besar: Indonesia Tidak Punya Litium

Ini adalah fakta yang perlu digarisbawahi dengan tebal: Indonesia tidak memiliki cadangan litium yang signifikan. Dalam skenario di mana litium menjadi mineral paling kritis untuk EV, Indonesia berada di luar permainan di sisi hulu.

Namun ada peluang di sisi hilir. Jika Indonesia berhasil membangun ekosistem pemrosesan nikel yang terintegrasi — dari ore ke MHP ke prekursor katoda ke sel baterai — maka Indonesia bisa menjadi bagian penting dari rantai nilai baterai global meskipun tanpa litium. Ambisi ini sudah terlihat dari kebijakan hilirisasi pemerintah dan investasi masif dari produsen baterai China di Indonesia.

Peluang sesungguhnya bagi Indonesia adalah menjadi processing hub untuk nikel baterai — bukan hanya eksportir ore mentah. Dan ini adalah taruhan jangka panjang yang, jika berhasil, akan menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari sekadar menjual bijih nikel.

Matriks Eksposur Emiten vs Skenario EV

Emiten Mineral Utama Eksposur EV Bear Case Impact Bull Case Impact
AMMN Tembaga, Emas Tinggi (Tembaga) Moderat negatif Sangat positif
MDKA Tembaga, Emas, Nikel Tinggi (Diversified) Moderat negatif Sangat positif
MBMA Nikel (MHP/baterai) Sangat Tinggi Negatif signifikan Sangat positif
NCKL Nikel (HPAL) Tinggi Negatif Positif
HRUM Nikel, Batu Bara Sedang Mixed Positif
ANTM Nikel, Emas, Bauksit Sedang Moderat negatif Moderat positif
INCO Nikel (Matte) Sedang-Rendah Moderat negatif Moderat positif
TINS Timah Rendah-Sedang Minimal Minimal

Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan

Analisis yang jujur harus mencakup risiko — bukan hanya peluang. Berikut adalah risiko-risiko utama yang bisa mengubah skenario secara signifikan:

Risiko Teknologi Baterai

Solid-state battery yang sudah lama dijanjikan akhirnya bisa menjadi mainstream lebih cepat dari perkiraan — atau justru lebih lambat. Sodium-ion battery bisa mengambil segmen entry-level yang signifikan, mengurangi demand litium dan nikel. Setiap perubahan chemistry baterai yang signifikan akan mengubah seluruh proyeksi mineral secara dramatis.

Risiko Kebijakan Global

Pembalikan kebijakan EV di negara-negara kunci — seperti yang sudah terlihat di AS — bisa memperlambat adopsi secara signifikan. Di sisi lain, kebijakan yang lebih agresif di Eropa atau China bisa mengakselerasi. Ketidakpastian regulasi adalah salah satu risiko terbesar dalam investasi mineral EV.

Risiko Oversupply Nikel Indonesia

Ekspansi produksi nikel Indonesia yang masif dalam beberapa tahun terakhir sudah menciptakan tekanan harga yang signifikan. Harga nikel LME yang rendah menekan margin produsen dan bisa membuat proyek-proyek baru tidak ekonomis. Ini adalah risiko yang sangat spesifik dan nyata bagi emiten nikel Indonesia.

Risiko Geopolitik dan Trade War

Ketegangan antara China dan Barat dalam rantai nilai baterai EV bisa menciptakan fragmentasi pasar. Jika Barat berhasil membangun rantai nilai baterai yang independen dari China, Indonesia perlu memposisikan diri dengan hati-hati — karena saat ini sebagian besar investasi hilir nikel di Indonesia datang dari China.

Risiko Hilirisasi yang Terlalu Ambisius

Ambisi Indonesia untuk membangun ekosistem baterai terintegrasi adalah narasi yang menarik, tapi eksekusinya penuh tantangan. Teknologi HPAL yang kompleks, kebutuhan modal yang besar, dan persaingan dari negara lain membuat target ini tidak mudah dicapai sesuai timeline yang diharapkan.

Sintesis: Membaca Peluang di Antara Kompleksitas

Setelah menelusuri semua data dan analisis ini, apa kesimpulan yang bisa kita ambil?

Pertama, EV adoption adalah tren struktural yang tidak bisa dibalik — tapi kecepatannya akan bervariasi dan tidak linear. Investor yang berharap pertumbuhan eksponensial berkelanjutan akan kecewa; investor yang memahami S-curve akan lebih tenang menghadapi volatilitas jangka pendek.

Kedua, tembaga adalah mineral yang paling menarik dalam konteks EV untuk investor Indonesia — karena demand-nya didorong oleh multiple sources, supply-nya rigid, dan Indonesia memiliki aset tembaga kelas dunia melalui AMMN dan MDKA.

Ketiga, nikel Indonesia perlu narasi yang lebih nuanced. Potensinya besar, tapi oversupply jangka pendek adalah realita yang menekan harga. Investasi di emiten nikel Indonesia adalah taruhan jangka panjang pada hilirisasi — bukan taruhan jangka pendek pada harga nikel.

Keempat, litium adalah blind spot Indonesia yang perlu diakui. Peluang ada di processing, bukan di mining. Dan membangun kapabilitas processing yang kompetitif membutuhkan waktu, modal, dan teknologi yang tidak bisa datang dalam semalam.

Kelima, diversifikasi dalam portofolio mineral EV adalah pendekatan yang lebih bijak daripada all-in pada satu mineral. Setiap mineral memiliki profil risiko-return yang berbeda, dan kombinasi yang tepat tergantung pada toleransi risiko dan horizon investasi masing-masing individu.

Penutup: Investasi di Era Transisi Energi Butuh Kesabaran dan Kejernihan

Revolusi EV adalah salah satu mega-tren paling pasti dalam dekade ini. Tapi seperti semua mega-tren, jalannya tidak lurus dan tidak semua pemain menang dengan cara yang sama. Data 1H26 mengkonfirmasi bahwa adopsi EV terus berjalan — hanya dengan tempo yang lebih dewasa dan pola yang lebih kompleks dari narasi sederhana yang sering beredar.

Bagi investor Indonesia, peluangnya nyata dan signifikan. Indonesia duduk di atas cadangan mineral yang menjadi fondasi revolusi EV global. Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan diuntungkan, tapi seberapa besar dan melalui emiten mana keuntungan itu akan terwujud.

Jawaban atas pertanyaan itu membutuhkan analisis yang terus diperbarui seiring data baru masuk, skenario yang selalu dikalibrasi ulang, dan — yang paling penting — kesabaran untuk tidak terbawa euforia atau panik berlebihan di tengah volatilitas harga mineral jangka pendek.

Tren jangka panjang ada di pihak kita. Yang kita butuhkan adalah kejernihan untuk membacanya dengan benar.

Catatan penting: Seluruh konten artikel ini bersifat edukatif dan merupakan opini analitis penulis berdasarkan data publik yang tersedia. Artikel ini bukan merupakan rekomendasi investasi, ajakan membeli atau menjual efek apapun, atau saran keuangan dalam bentuk apapun. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab penuh pembaca dan sebaiknya dikonsultasikan dengan penasihat keuangan yang memiliki lisensi. Investasi di pasar modal mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal yang diinvestasikan.