Trimegah Bangun Persada (NCKL) membukukan 2Q26 yang solid — revenue Rp10,3 triliun, tumbuh +47,7% y-y dan +51,1% q-q. Net profit Rp3,1 triliun, naik +26,9% y-y. Secara kumulatif, 1H26 revenue mencapai Rp17,1 triliun dengan net profit Rp5,8 triliun, atau sekitar 53–54% dari full-year estimate. Angka ini broadly in line, tidak ada kejutan besar ke atas maupun ke bawah.
Mesin pertumbuhan 2Q26 jelas dari segmen mining. Revenue nickel ore melonjak +101% q-q dan +142% y-y, didorong tambahan lini produksi KPS dan ASP ore yang lebih kuat. Saprolite dan limonite masing-masing naik 67,7% dan 34,2% y-y secara volume di 1H26. Sementara nickel processing — yang mencakup RKEF (NPI) dan HPAL — tumbuh lebih moderat, bahkan revenue 1H26-nya turun 6% akibat scheduled overhaul HGF di 1Q26 dan shipment HPAL yang tertunda.
Gross margin 2Q26 recover ke 27,8% dari 20,1% di 1Q26, tapi secara 1H26 turun ke 24,7% dibanding 33,6% di periode yang sama tahun lalu. Tekanan datang dari tiga arah: royalti yang lebih tinggi, biaya energi (diesel), dan biaya processing terutama sulfur. Ini bukan isu sementara — inventory buffer sulfur sedang menipis, artinya cost pressure dari sisi ini akan semakin terasa di 2H26.
Narasi ke depan bertumpu pada dua hal: ramp-up KPS Phase 3 menuju target ~150kt contained Ni untuk FY26, dan normalisasi volume HPAL. Ada 1–2 vessel shipment dari 2Q26 yang carry over ke 3Q26, yang bisa jadi volume uplift di kuartal ini. Higher HPM formula juga mulai memberikan full-quarter benefit ke mining margins dari 3Q26. Tapi perlu dicatat — ini lebih ke cerita volume recovery dan associate earnings, bukan broad-based margin expansion.
Revisi estimasi dilakukan dengan menaikkan saprolite ASP sebesar 23,8% ke US$42,8/t dan NPI sales volume FY26 naik 5,8% ke 251,6kt. Di sisi lain, asumsi LME nickel price dipangkas ke US$17.500/t (dari US$18.500/t), NPI price turun ke US$12.600/t, dan NPI cash cost naik ke US$10.000/t — kombinasi yang menggerus sebagian potensi earnings. Hasilnya, FY26F net profit naik 2,7% ke Rp11,0 triliun, dan FY27F naik 8,0% ke Rp12,3 triliun.
Dari sisi valuation, NCKL saat ini diperdagangkan di 5,2x P/E FY26F — murah secara absolut maupun relatif terhadap peers global. Target price Rp1.300 (dari harga sekarang Rp915) menyiratkan upside +42%, dengan valuasi berbasis SOTP di 2026F P/E 7,4x (mean 3 tahun). Angka ini menarik, tapi ada tiga risiko yang perlu diperhatikan:
- Project execution risk — KPS Phase 3 masih dalam proses ramp-up, dan setiap delay akan langsung memukul volume guidance.
- Sulfur cost — tekanan biaya ini belum selesai dan akan semakin terasa seiring menipisnya buffer inventory.
- RKAB uncertainty — kuota produksi tambang masih menjadi variabel yang sulit diprediksi dan bisa membatasi upside mining volume.
Free float NCKL hanya 13,8%, dengan Harita Jayaraya menguasai 79,8% saham. Likuiditas terbatas, dan pergerakan harga bisa sangat dipengaruhi oleh flow asing yang memang sudah beberapa bulan terakhir fluktuatif. Untuk investor yang sudah masuk, thesis-nya masih intact — tapi entry baru perlu mempertimbangkan bahwa sebagian upside bergantung pada eksekusi operasional yang belum sepenuhnya terbukti.