Setelah underperformance berat sepanjang 1H26 — JCI turun sekitar 24.5% YTD per Agustus, worst performer di Asia — ada alasan untuk mulai melihat 2H26 dengan sedikit lebih optimis. Bukan bull market, tapi setidaknya risk-reward sudah membaik.
Target JCI end-2026 dipasang di 6.810 (upside ~4% dari level saat ini), dengan bull case 7.470 dan bear case 5.920. Untuk IDX80, target di 107 yang implies upside ~11% — lebih menarik karena earnings mix-nya lebih diversified dan tidak terlalu bergantung pada Big 4 banks saja. Key assumption-nya: IDR risk-free rate turun moderat dari ~7.0% ke ~6.80% di akhir tahun, dan equity risk premium mulai stabil seiring IDR/USD bertahan di bawah Rp18.000.
Yang menarik dari konstruksi earnings 2026-27F adalah strukturnya yang makin tidak monolitik. Dulu market earnings sangat didominasi perbankan besar dan FMCG. Sekarang kontribusi meaningful mulai datang dari Mining – Metal & Mineral, Coal, Oil & Gas, Poultry, dan Cigarettes. IDX80 EPS growth diproyeksikan tumbuh 10-11% di 2026-27F — angka yang cukup solid mengingat tekanan makro yang masih ada.
Dari sisi flows, pemulihan akan berlangsung gradual. SRBI rate masih di kisaran 7.0-7.4%, sementara 2Y Government Bond yield hovering di mid-to-high 7%. Di level ini, return hurdle untuk masuk equities menjadi lebih tinggi — terutama bagi institutional investors seperti dana pensiun dan asuransi yang equity mix-nya sudah turun drastis dari 20% di 2016 ke hanya 8% per Juni 2026. Mereka sudah bisa fulfill cash return mandate dari fixed income saja. Jadi alokasi incremental ke equities butuh trigger yang lebih konkret: dividend season di 4Q26 dan 1Q27, plus keputusan MSCI soal EM status Indonesia di November 2026.
Soal MSCI — ini salah satu overhang terbesar. Sejauh ini sudah 8 saham dikeluarkan dari MSCI Indonesia Global Standard Index, menyisakan hanya 9 konstituen. Index yang lebih lean seharusnya lebih replicable, yang artinya downside risk dari passive outflows makin terbatas untuk nama-nama seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan TLKM. Base case-nya index freeze masih akan diperpanjang, tapi perbaikan replicability sendiri sudah cukup untuk membuat risk-reward bluechip lebih menarik dari sebelumnya.
Sektor: Mana yang Overweight, Mana yang Dihindari
Positioning sektor untuk 2H26 cukup tegas. Overweight pada:
- Gold & Copper, Nickel, Oil & Gas — beneficiary langsung dari elevated commodity prices, national bullion industry growth, dan mineral downstreaming. Ini bukan tema jangka pendek; pembangunan infrastruktur baru dan unlocking reserves baru menciptakan multi-year value creation yang belum fully priced.
- Healthcare (MIKA) — defensive, earnings visibility tinggi, dan mendapat tailwind dari prioritas anggaran 2027F yang menekankan sektor kesehatan.
- Cigarettes (GGRM) — net cash position, dividend yield solid ~5.3%, dan justru beneficiary dari higher interest rate environment lewat net interest income.
- Telecom (ISAT) dan Financials (BBCA) — valuasi sudah compressed signifikan, dividend yield attractive, dan punya trading liquidity yang cukup untuk menarik global flows kalau sentimen membaik.
Neutral pada Internet, Media & Entertainment, Building Materials, Retail, dan Automotive. Sektor-sektor ini sebelumnya beneficiary dari fiscal spending frontloading di 1H26, tapi momentum tersebut akan meredup di 2H26 seiring fiscal spending growth melambat dari 18% YoY ke ~7% YoY.
Underweight pada Property, Towercos, dan Toll & Transportation. Ketiga sektor ini paling exposed ke higher interest rate — earnings downside bisa mencapai 3.6-3.9% untuk setiap 100bps kenaikan rate di 2027F. Leverage tinggi, cost of capital mahal, dan belum ada katalis jelas untuk re-rating.
Top 10 picks: AMMN, ANTM, ARCI, INCO, MEDC, GGRM, AMRT, ISAT, MIKA, BBCA.
Key risks yang perlu dimonitor: Fed Rate hike di 4Q26 yang bisa memaksa BI ikut naik lagi; fiscal revenue shortfall di 2H26 yang bisa spike IDR risk-free rate; dan first loan installment dari program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) via Agrinas yang jatuh tempo September 2026 — ini akan jadi test kredibilitas fiskal yang cukup signifikan bagi market confidence dan stabilitas rupiah.