LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Pasar Global 2026: Setelah Euforia, Kini Realita

Ekuitas global sempat rally hampir 20% di 2025. Kini konflik Iran, lonjakan energi, dan yield obligasi yang merangkak naik mengubah semua kalkulasi.


Tahun 2025 terasa seperti cerita yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan — dan memang begitulah adanya. Setelah kepanikan akibat tarif "Liberation Day" yang sempat menghantam harga aset secara brutal, pasar ekuitas global berbalik arah dan ditutup hampir 20% lebih tinggi dari awal tahun. Ekonomi AS booming. Bank sentral di seluruh dunia memangkas suku bunga untuk meredam dampak tarif. Inflasi seolah jinak. Tech stocks, AI plays, crypto, private credit — semuanya terbang.

Tapi 2026 membawa narasi yang berbeda.

Konflik militer antara AS dan Israel dengan Iran bulan lalu memicu guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global. Penutupan Selat Hormuz — jalur yang menanggung hampir 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia — menjadi shock terbesar dalam sejarah pasar minyak modern. Intraday swings harga minyak yang ekstrem dan pelepasan cadangan strategis skala besar hanya menggambarkan betapa dalamnya pasar kehilangan pijakan.

Lonjakan harga energi ini bukan sekadar masalah komoditas. Ini membalik seluruh asumsi makro yang menjadi fondasi rally 2025. Inflasi yang sempat mereda kini berpotensi sticky kembali. Akibatnya, pasar mulai pricing rate rises di kawasan Euro dan Inggris — bukan pelonggaran. Di AS, tidak ada sinyal easing dalam waktu dekat. Yield obligasi tenor panjang merangkak naik, memperketat kondisi moneter di sepanjang kurva.

Dampaknya paling terasa di segmen aset yang paling frothy selama 2025. AI stocks, crypto, private credit, dan leveraged loans — yang valuasinya sudah berjalan jauh melampaui fundamental — kini menghadapi tekanan ganda: cost of capital yang naik dan retaknya standar underwriting yang selama ini menopang ekspansi kredit. Retreat dari aset-aset ini bukan sekadar profit-taking biasa; ini adalah repricing risiko yang lebih sistemik.

Di sisi lain, belanja pertahanan yang melonjak akibat eskalasi geopolitik menambah tekanan fiskal yang sudah berat di banyak negara. Kombinasi antara energy inflation, higher-for-longer rates, dan fiscal drag berpotensi menekan permintaan global secara signifikan ke depan.

Emas, yang sempat rally keras saat risk appetite jatuh bebas setahun lalu, kembali relevan sebagai instrumen lindung nilai dalam skenario stagflasi parsial seperti ini.

Satu hal yang jelas: era di mana likuiditas berlimpah dan risiko terasa murah sudah berakhir. Pasar yang bergerak naik hampir 20% dalam setahun dengan backdrop pelonggaran moneter adalah satu kondisi. Pasar yang kini menghadapi supply shock energi, inflasi yang kembali mengancam, dan siklus pengetatan yang baru dimulai — itu kondisi yang sama sekali berbeda. Kalkulasi portfolio yang bekerja di 2025 mungkin tidak lagi relevan untuk 2026.