LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Pasar Global: Hormuz, AI Trade, dan Earnings Eropa

Analisis pasar global: negosiasi Selat Hormuz, earnings Softbank dan Sandisk, saham Eropa, serta outlook Fed dan emerging markets dari Citi.


Pasar global hari ini bergerak di bawah tekanan dari beberapa arah sekaligus: perkembangan geopolitik di Timur Tengah, earnings tech yang mengecewakan dari Amerika Serikat, serta derasnya laporan keuangan korporasi Eropa. Kombinasi ini menciptakan dinamika yang cukup kompleks untuk dibaca dalam satu sesi trading.

Selat Hormuz: Deal Sementara, Ketidakpastian Permanen

Iran mengkonfirmasi telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait mekanisme jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Joint statement disebut masih dalam tahap finalisasi draft. Namun pihak Iran sendiri menegaskan bahwa ini bukan berarti Selat Hormuz akan segera dibuka kembali secara penuh — mereka menyebut perilaku Amerika Serikat sebagai variabel penentu, sementara AS masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dari sisi pasar, perkembangan ini sudah cukup untuk menekan harga minyak Brent ke bawah level $80 per barel. Sementara itu, emas justru naik ke atas $4.300 — gain terbesar dalam enam bulan terakhir — karena logika pasar sederhana: jika minyak mengalir kembali, inflasi mereda, tekanan rate hike berkurang, dan aset non-yielding seperti emas kembali menarik.

Analis dari Wisdom Tree menilai ketidakpastian di Selat Hormuz selama ini menjadi overhang yang signifikan bagi equity markets. Sebelumnya, 70% dari return MSCI Europe year-to-date terkonsentrasi di sektor AI dan capex-related — sebagian besar karena sektor lain tertahan oleh tekanan harga energi. Kini, dengan mulai adanya kejelasan di Hormuz, ada potensi broadening earnings ke sektor energi, semikonduktor, metals, mining, utilities, hingga finansial.

Namun dari perspektif geopolitik, situasi ini jauh dari stabil. Tidak ada trust antara Washington dan Tehran, keduanya menghadapi tekanan internal masing-masing, dan sejarah negosiasi yang on-again off-again membuat pasar tetap skeptis. Investor yang memposisikan diri terlalu agresif di sini perlu mempertimbangkan bahwa deal yang ada bersifat temporer dan bisa berbalik arah dengan cepat.

Sandisk dan Dampaknya ke Asia Tech

Overnight, Western Digital dan Sandisk merilis guidance yang mengecewakan pasar. Bukan dari sisi hasil aktual — keduanya bahkan membukukan median beat — tetapi revenue guidance ke depan yang menjadi masalah. Pasar saat ini sangat intoleran terhadap sinyal apapun yang menunjukkan deceleration dalam momentum AI dan memory demand.

Dampaknya langsung terasa di Asia: KOSPI tertekan, Samsung dan SK Hynix keduanya turun signifikan. Nasdaq futures juga menunjukkan tekanan. Bloomberg Intelligence membingkai ini sebagai normalisasi supply-demand di segmen memory — bukan krisis struktural, melainkan koreksi dari periode mismatch yang ekstrem sebelumnya.

Softbank: Profit Beat, Tapi Pertanyaan Tetap Ada

Softbank melaporkan net income Q1 sebesar ¥347 miliar, melampaui estimasi. Sales juga beat. Dividen full-year dikonfirmasi. Sekilas, ini terlihat sebagai validasi positif untuk AI trade — Softbank memiliki stake di ARM dan OpenAI, dua nama yang paling sering disebut dalam narasi AI global.

Namun di balik angka yang solid, ada pertanyaan yang lebih besar. Vision Fund 2 dilaporkan akan meminjam $10 miliar menggunakan stake Softbank di OpenAI sebagai kolateral. Ini memunculkan kekhawatiran soal circular funding dalam ekosistem AI — di mana valuasi saling menopang satu sama lain tanpa underlying cash flow yang jelas. Pertanyaan juga muncul: apa yang terjadi jika IPO OpenAI tertunda? Siapa yang datang ke pasar lebih dulu antara OpenAI dan Anthropic akan sangat menentukan valuasi keduanya.

Nikkei futures melemah setelah rilis, mencerminkan bahwa pasar fokus pada net income yang turun di beberapa lini, bukan hanya headline profit beat dari keuntungan investasi saham chip.

Earnings Eropa: Jerman Mendominasi

Hari ini menjadi hari besar bagi korporasi Jerman. Beberapa nama besar melaporkan hasil secara bersamaan:

  • Siemens menaikkan guidance EPS dengan kekuatan di segmen automation dan software. Order intake naik 11%, software tumbuh 11%. Namun saham turun lebih dari 5% — ekspektasi pasar sudah terlalu tinggi, dan segmen mobility mengecewakan. CEO Roland Busch terdengar sangat optimistis soal data center buildout dan kompetisi di China, tapi market memberikan reaksi sebaliknya.
  • Commerzbank mengumumkan buyback €1,2 miliar dan membuka pintu untuk kolaborasi strategis dengan UniCredit. CEO Bettina Orlov memilih kata-kata dengan hati-hati, tidak membocorkan detail negosiasi, namun tone yang lebih konstruktif terhadap UniCredit menjadi pergeseran yang dicermati analis. Saham relatif flat — earnings dinilai mixed, dengan net interest income sedikit di bawah ekspektasi sebagian analis.
  • Rheinmetall memangkas sales outlook setelah kehilangan kontrak kapal perang Jerman. Saham awalnya merah, kemudian kembali ke zona hijau — mengindikasikan sebagian bad news sudah priced in.
  • Deutsche Telekom menaikkan buyback hingga €3 miliar, mendorong saham naik 5,5%.
  • WPP menjadi kejutan positif terbesar hari ini — saham melonjak lebih dari 23% setelah first-half profit beat ekspektasi berkat program cost-cutting agresif CEO baru yang bergabung September lalu. Ini sinyal bahwa turnaround mulai terbentuk setelah bertahun-tahun kehilangan kontrak besar ke Publicis.

Data factory orders Jerman untuk bulan Juni juga keluar sangat kuat — jauh melampaui ekspektasi konsensus. Satu bulan data tidak cukup untuk menyimpulkan pembalikan tren, tapi setidaknya ini memberikan amunisi bagi mereka yang bullish terhadap pemulihan industrial Jerman.

Emerging Markets dan Narasi "Sell America"

Luis Costa dari Citi menyampaikan pandangan yang nuanced soal debat sell America dan dampaknya ke emerging markets. Menurutnya, global flows secara struktural masih mendukung dolar — investor dari Asia, Eropa, dan Americas semuanya terekspos ke US assets. Namun ada beberapa faktor yang melemahkan dolar secara marginal: ketidakpastian kebijakan tarif, ekspektasi bahwa Fed tidak akan hike di FOMC berikutnya, dan fiscal concerns yang belum selesai.

Kombinasi ini secara keseluruhan positif untuk EM carry trades. Costa menyebut bahwa flows ke EM dalam enam bulan terakhir sudah mulai kembali — meninggalkan Asia dan Emerging Europe, masuk ke Latin America dan Afrika. Ia secara spesifik bullish pada Turki dan Mesir sebagai bagian dari EM yang sensitif terhadap perkembangan Hormuz, dan justru di situlah ia melihat upside terbesar jika deal terealisasi.

Risiko El Niño juga masuk dalam radar. Beberapa central bank EM sudah mulai mempertimbangkan ini sebagai tail risk untuk inflasi pangan menjelang akhir 2026 dan awal 2027 — terutama untuk Peru, Colombia, Chile, dan sebagian Afrika. Ini menjadi alasan tambahan bagi central bank EM untuk bersikap cautious, dan pasar cenderung reward kehati-hatian itu.

Fed dan Outlook Suku Bunga

Beberapa Fed speaker dalam 24 jam terakhir memberikan sinyal yang beragam. Lisa Cook menyatakan siap menaikkan suku bunga jika inflasi tidak mereda. Mary Daly mendukung keputusan pertemuan terakhir, namun tidak menutup kemungkinan hike di masa depan. Sementara itu, Kepala Fed Kevin Warsh yang bergabung Juni lalu dinilai memiliki disposisi lebih hawkish dari yang diperkirakan pasar.

JP Morgan Private Bank memperkirakan Fed kemungkinan besar akan hike satu kali lagi — dengan September atau akhir tahun sebagai kandidat. Mereka tetap overweight US equities dengan argumen earnings momentum yang sangat kuat: tujuh kuartal berturut-turut double-digit earnings growth, 10 dari 11 sektor S&P 500 menunjukkan margin expansion, dan forward PE S&P di sekitar 20x — masih dalam rentang rata-rata lima tahun.

Argumen sell America untuk saat ini terbendung oleh kekuatan earnings story tersebut. Selama delivery earnings konsisten, alokasi ke US market tetap justified meski ada ketidakpastian dari sisi Fed dan geopolitik.

Alokasi Aset: Melampaui 60/40

Erik dari JP Morgan Private Bank menyoroti bahwa portofolio 60/40 konvensional sedang menghadapi tantangan struktural. Korelasi positif antara saham dan obligasi dalam beberapa tahun terakhir menggerus manfaat diversifikasi tradisional. Solusi yang ia rekomendasikan adalah alokasi lebih besar ke private infrastructure — aset yang menawarkan cash flow konsisten di level mid-to-high single digit, volatilitas rendah, dan korelasi mendekati nol terhadap pasar publik.

Menariknya, survei terbaru menunjukkan 79% dari family office community masih memiliki zero allocation ke infrastruktur — gap yang besar antara keyakinan dan eksekusi, yang sekaligus menjadi potensi tailwind inflows ke asset class ini ke depan.

Risiko Siber dan AI sebagai Senjata Baru

Bloomberg melaporkan gelombang serangan siber sophisticated yang menargetkan firma-firma Wall Street besar, termasuk Point72, Millennium, dan Citadel. Metode yang digunakan mencakup voice phishing berbasis AI — teknologi yang mampu meniru suara seseorang yang dipercaya untuk memfasilitasi akses ke sistem internal. Tidak ada indikasi data klien berhasil dicuri, namun skala serangan ini mengkhawatirkan.

Jika sebelumnya seorang hacker bisa menargetkan 50 entitas dalam satu kampanye, dengan bantuan AI jumlah itu bisa melonjak ke 1.000. Ini bukan sekadar risiko operasional — ini adalah perubahan struktural dalam threat landscape yang akan terus berkembang seiring kemampuan AI yang semakin canggih.