Ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pekan lalu di pasar global — dan bukan sekadar volatilitas biasa. Dalam 50 hari terakhir, Bitcoin naik 31.6%, Ethereum 53.5%, Silver 19.3%, dan Gold 14.3%. Sementara S&P 500 hanya naik 2.3% dan Nasdaq nyaris flat di 0.2%. Ini bukan rotasi sektor biasa. Ini adalah pergeseran narasi.
Yang paling mencolok minggu ini: dollar melemah justru di saat Treasury yields melonjak. Dalam kondisi normal, surging yields seharusnya jadi rocket fuel bagi greenback. Tapi tidak kali ini. Yield 30-year Treasury sempat menyentuh 5.3% — tertinggi sejak 2007 — sementara DXY malah turun. Divergensi ini adalah tell yang penting. Pasar mulai mempertanyakan kredibilitas fiskal Amerika secara lebih serius.
Konteks fiskalnya memang suram. US public debt baru saja melampaui $40 triliun, dengan gross interest expense mencapai sekitar $1.4 triliun per tahun — lebih besar dari GDP lebih dari 175 negara. Interest payments sudah menyentuh 20% dari total penerimaan pajak, dan CBO memproyeksikan angka itu bisa mencapai 30% pada 2036. Bukan karena interest rate-nya yang abnormal tinggi, tapi karena debt pile-nya yang sudah terlalu masif.
Respons Treasury? Mereka mengumumkan penggandaan buyback operasi untuk long-dated bonds, dari maksimum $2 miliar per operasi menjadi setidaknya $4 miliar, efektif September 2026. Mekanismenya menarik: Treasury menerbitkan lebih banyak short-term T-bills, lalu menggunakan dana itu untuk membeli kembali long-term bonds — mengurangi supply di ujung panjang kurva, menekan long-end yields. Ini terdengar sangat mirip Operation Twist 2011. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Yield Curve Control dengan nama yang berbeda.
Bond selloff minggu ini bukan cerita Amerika saja. Yield JGB Jepang 10-tahun menembus 2.95%, tertinggi sejak era 1990-an. Ini penting karena Jepang adalah salah satu pool kapital terbesar di dunia — higher domestic yields berarti insentif untuk hold Treasuries dan European debt berkurang. Dan memang, data menunjukkan Jepang menjual $26 miliar Treasuries di bulan Juni, China juga menjual $26 miliar, membawa holdings China ke $633 miliar — terendah sejak September 2008.
Di sisi lain, ada fenomena menarik di pasar obligasi China: meski yield-nya sangat rendah (10Y hanya 1.68%), foreign investors mulai masuk. Bukan karena yield-nya menarik, tapi karena diversifikasi dan perceived stability di tengah volatilitas US dan Japanese bonds. Ini adalah pergeseran struktural yang layak dicermati.
Di pasar saham, AI names yang selama ini jadi darling mengalami tekanan signifikan. Semua AI leaders turun dalam sepekan. Yang lebih mengkhawatirkan: Broadcom sedang menyiapkan SPV deal hingga $100 miliar untuk membiayai AI chip deal, dan CDS-nya meledak ke record wides. Hyperscaler credit spreads memburuk lebih cepat dari harga sahamnya. Free cash flow para hyperscaler tidak secantik reported earnings-nya. Di luar balance sheet resmi, ada sekitar $3 triliun off-balance-sheet commitments dari sembilan perusahaan tech besar — angka yang membuat analisis leverage tradisional menjadi tidak memadai.
Walmart menjadi corporate shock terbesar minggu ini. Meski beat earnings estimates dan menaikkan full-year outlook, comparable sales hanya tumbuh 2.6% — miss terbesar dalam lebih dari enam tahun dan pertumbuhan terlemah dalam periode tersebut. Sahamnya anjlok lebih dari 10% dalam sepekan, worst weekly drop sejak Mei 2022. Ini bukan sinyal baik untuk consumer spending narrative.
Kontras tajam datang dari biotech. Merck dan Moderna mengumumkan hasil positif dari late-stage trial personalized cancer vaccine pertama mereka. Moderna melesat 177% dalam satu hari — gain terbesar oleh saham S&P 500 mana pun di abad ini. Merck naik 12%. Ini mendorong Healthcare menjadi sektor terkuat minggu ini, mengalahkan bahkan Energy yang juga reli karena minyak.
Brent mendekati $94/barrel dan WTI melampaui $87 di tengah eskalasi ketegangan US-Iran. Yang lebih mengkhawatirkan: US diesel crack spread menyentuh rekor $102/barrel, sementara diesel inventories berada di level seasonal terendah sejak 1996. Higher diesel berarti higher freight costs, yang pada akhirnya akan menekan harga pangan dan barang konsumsi. Dan dengan producer prices sudah naik lebih cepat dari consumer prices, sebagian dari cost pressure itu belum sepenuhnya sampai ke konsumen.
Crypto adalah cerita tersendiri. Dalam sepekan di mana S&P 500 kehilangan $1.4 triliun market cap, total crypto market cap justru naik $291 miliar atau +13%. Bitcoin mendekati $80,000, Ethereum melampaui $2,400. Beberapa katalis bertumpuk: Treasury buyback plans memunculkan harapan likuiditas lebih longgar, dollar melemah, momentum regulasi crypto-friendly di Washington, ETF inflows yang akseleratif, dan short squeeze terbesar dalam sejarah crypto yang melikuidasi miliaran dolar posisi bearish. Decoupling antara crypto dan equities seperti ini sangat tidak biasa — dan bisa jadi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar mulai memperlakukan Bitcoin dan precious metals sebagai hedge terhadap fiscal debasement, bukan sebagai risk assets.
Satu data point yang cukup disturbing untuk outlook konsumen AS: hanya 8% konsumen yang mengharapkan income mereka bisa mengalahkan inflasi tahun depan. US saving rate sudah kolaps ke 2.6%. Ketika konsumen tidak punya buffer dan tidak optimis terhadap purchasing power mereka, consumer spending — yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi AS — bisa menjadi pressure point berikutnya.