Kenapa DJIA terus cetak rekor meski deal AS-Iran tak kunjung terwujud? Analisis optimism bias pasar dan dampaknya ke harga minyak global.
Dalam beberapa pekan terakhir, ada pola yang terus berulang di pasar global: pejabat senior AS memberikan sinyal positif soal kemajuan negosiasi dengan Iran, harga minyak langsung turun, saham-saham melonjak, dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor baru — lalu tidak ada deal yang diumumkan. Siklus ini terjadi lagi minggu ini, dan pasar tetap bereaksi seolah setiap headline adalah sinyal nyata.
Treasury Secretary Scott Bessent sempat menyatakan bahwa kesepakatan untuk memastikan freedom of movement di Selat Hormuz bisa terwujud dalam hitungan jam. Reaksi pasar langsung terasa: harga crude oil turun tajam, indeks saham AS melesat, dan bond yields menarik diri. Optimisme itu kemudian dipertebal oleh momentum rally di sektor teknologi yang dipicu AI. Hasilnya? Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi, bahkan dua hari berturut-turut.
Optimism Bias yang Sudah Terlembaga
Yang menarik bukan reaksi pasarnya — tapi konsistensinya. Meski Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak sedang bernegosiasi langsung dengan AS (melainkan dengan Oman sebagai mediator), ekuitas global tetap reli. Ini bukan sekadar noise jangka pendek. Ini mencerminkan sesuatu yang lebih struktural: pasar sudah mengembangkan optimism bias yang cukup dalam terhadap skenario resolusi diplomatik.
Pasar tampaknya memandang setiap sinyal deal sebagai semacam time machine — seolah kesepakatan apa pun akan langsung mengembalikan kondisi Selat Hormuz ke status quo sebelum perang, di mana 20% pasokan minyak dunia melintas bebas tanpa hambatan. Namun asumsi itu sangat problematis. Bahkan jika negosiasi menghasilkan sesuatu, perbedaan fundamental antara kedua pihak masih sangat lebar: Iran ingin mengenakan service fee atas lalu lintas di selat, sementara AS ingin perairan internasional dikembalikan sepenuhnya ke kondisi bebas-tol seperti sebelum konflik dimulai.
Selat Hormuz: Leverage Geopolitik yang Nyata
Selat Hormuz bukan sekadar titik geografis — ini adalah chokepoint energi global. Sebelum konflik, sekitar seperlima dari seluruh pasokan minyak dunia melintas di sana setiap harinya. Ketika Iran secara efektif menutup akses ke selat, dampaknya langsung terasa: harga BBM naik, inflasi meningkat, dan cadangan minyak strategis mulai terkuras. AS Strategic Petroleum Reserve (SPR) dilaporkan terus menyusut, yang menjadi sinyal bahwa buffer global semakin tipis.
Saat ini, lalu lintas kapal di selat masih jauh di bawah rata-rata sebelum perang. AS mengklaim kontrol penuh atas selat lewat blokade naval di pelabuhan-pelabuhan Iran di kawasan Teluk, tapi kenyataan di lapangan lebih kompleks dari narasi itu.
Kapan Pasar Mulai Berhenti Percaya?
Pertanyaan yang kini mulai diajukan oleh para analis adalah: sampai kapan pasar akan terus bereaksi terhadap setiap headline negosiasi yang belum tentu menghasilkan apa-apa? Setiap kali harapan deal muncul, harga minyak turun sementara — yang secara paradoks mengurangi tekanan bagi kedua pihak untuk benar-benar menyelesaikan konflik. Ini menciptakan spiky muddle-through dynamic: pasar memantul antara optimisme dan kekhawatiran eskalasi militer, tanpa resolusi yang jelas.
Risiko downside-nya cukup serius. Jika eskalasi militer tidak bisa dikontrol, atau jika inventory de-stocking terus berlanjut hingga mengikis optimisme yang sudah tertanam dalam, harga minyak bisa dengan cepat kembali ke level puncak sebelumnya — bahkan melampaui. Dalam skenario itu, tekanan inflasi akan kembali, dan outlook earnings korporasi global akan langsung terdampak.
Implikasi untuk Investasi Saham
Dari perspektif portfolio management, situasi ini menghadirkan beberapa poin penting:
- Energy sector tetap menjadi area yang volatile dan headline-driven. Setiap sinyal deal akan menekan harga minyak dan saham-saham energi jangka pendek, tapi potensi rebound juga besar jika negosiasi gagal.
- Equities secara umum — terutama di AS — sedang riding dua narrative sekaligus: AI-driven tech rally dan harapan de-eskalasi geopolitik. Keduanya mendorong buying, tapi keduanya juga rentan terhadap sentiment reversal.
- Safe haven assets seperti gold dan bond belum menunjukkan tekanan beli yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa institutional money belum benar-benar masuk ke mode defensif.
- Bagi investor yang aktif di pasar saham, penting untuk membedakan antara headline-driven momentum dan perubahan fundamental yang nyata dalam supply-demand minyak global.
Selama perbedaan mendasar antara AS dan Iran soal status Selat Hormuz belum dijembatani — dan saat ini gap itu masih sangat lebar — setiap reli yang dipicu oleh sinyal diplomatik sebaiknya diperlakukan sebagai trading opportunity jangka pendek, bukan sebagai konfirmasi bahwa risiko geopolitik sudah mereda secara struktural. Pasar boleh saja optimis, tapi investor yang disiplin perlu tetap mengukur antara narrative dan data yang sebenarnya.