Bernard Baruch pernah bilang bahwa manusia sebagai individu cukup rasional, tapi begitu masuk kerumunan, ia berubah jadi blockhead. Ironi terbesar di pasar modal adalah bahwa harga saham — yang notabene merupakan agregat dari jutaan keputusan individu — justru sering kali lebih akurat dari pendapat seorang analis tunggal manapun. Tapi di sisi lain, pasar juga bisa go completely bonkers. Boom dan bust bukan anomali; itu bagian dari sistemnya.
Pertanyaannya bukan apakah crowd bisa wise atau mad — jawabannya sudah jelas: bisa dua-duanya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah kapan crowd jadi wise, dan kapan kondisi itu runtuh.
Ada tiga syarat utama agar collective intelligence bisa bekerja: diversity, aggregation, dan incentives. Diversity di sini bukan soal gender atau etnis — tapi cognitive diversity: seberapa berbeda cara masing-masing partisipan memproses informasi, membangun mental model, dan mengambil keputusan. Aggregation adalah mekanisme bagaimana pandangan-pandangan berbeda itu dikompilasi jadi satu harga atau probabilitas. Dan incentives memastikan bahwa hanya mereka yang benar-benar punya edge yang mau masuk dan bertaruh besar.
Scott Page, peneliti dari University of Michigan, memformulasikan ini dengan elegan dalam apa yang ia sebut diversity prediction theorem: collective error = average individual error minus prediction diversity. Artinya, akurasi kolektif bukan cuma soal seberapa pintar rata-rata individunya, tapi seberapa beragam cara mereka berpikir. Crowd yang homogen — meski terdiri dari orang-orang pintar — bisa lebih salah dari crowd yang beragam secara kognitif.
Di sinilah pasar saham punya kelemahan struktural yang unik. Investing adalah aktivitas sosial. Harga bukan hanya sinyal informasi — ia juga jadi sumber pengaruh. Ketika semua orang melihat harga naik dan ikut beli, bukan karena analisis fundamental, tapi karena takut ketinggalan (FOMO), kondisi diversity mulai runtuh. Beliefs jadi correlated. Dan dari situlah bubble terbentuk.
Menarik untuk membandingkan pasar saham dengan prediction markets dan sports betting, karena keduanya punya karakteristik serupa — banyak partisipan, akses informasi luas, insentif finansial nyata — tapi dengan satu perbedaan krusial: ada outcome yang terukur dalam waktu tertentu. Pemilu selesai. Pertandingan berakhir. Hasilnya jelas. Ini membuat diversity breakdown jauh lebih sulit dipertahankan di prediction markets dibanding di pasar saham, karena manipulasi harga kontrak prediksi akan segera terbongkar begitu hasilnya keluar.
Data dari Kalshi — lebih dari 72 juta trades — menunjukkan bahwa contract prices sangat dekat dengan actual win rates. Hampir sempurna di 45-degree line. Ada sedikit favorite-longshot bias (underestimating high-probability outcomes, overestimating long shots), tapi secara keseluruhan pasar ini remarkably efficient. Hal serupa berlaku untuk soccer betting dengan dataset ~400.000 pertandingan dari 6.000+ liga.
Namun efisiensi bukan berarti semua orang bisa profit. Di Polymarket, dari 2,4 juta users, 69 persen rugi. Di antara yang untung, top 1 persen menangkap 77 persen dari total gains. Di sports betting, hanya sekitar 3-5 persen bettor yang profitable jangka panjang — dan bahkan mereka sering dibatasi bet size-nya oleh bookmaker karena dianggap terlalu sharp.
Ini paralel langsung dengan pasar saham. Excess returns itu zero-sum sebelum biaya. Yang membedakan adalah pasar saham punya positive expected return secara absolut karena saham secara historis naik — sehingga bahkan investor dengan negative excess return pun masih bisa punya positive absolute return jangka panjang. Ini yang membuat saham berbeda fundamental dari betting market yang murni zero-sum.
Grossman-Stiglitz paradox juga relevan di sini: pasar tidak bisa perfectly efficient karena kalau begitu, tidak ada insentif untuk mengumpulkan informasi. Tapi informed traders butuh insentif untuk terus mencari edge — dan dari proses itulah pasar menjadi lebih efisien dari waktu ke waktu. Lasse Pedersen menyebutnya efficiently inefficient: cukup efisien sehingga sulit dipukul secara konsisten, tapi cukup tidak efisien sehingga skilled participants masih bisa earn excess returns.
Bottom line-nya: pasar — baik saham, prediction market, maupun betting — bekerja paling baik ketika cognitive diversity terjaga, mekanisme aggregasi berfungsi, dan insentif cukup kuat untuk menarik partisipan berkualitas. Begitu salah satu kondisi ini runtuh, terutama diversity, crowd bisa berubah dari wisdom menjadi madness dengan cepat. Dan di pasar saham, tidak ada tanggal settlement yang memaksa koreksi — yang artinya irrasionalitas bisa bertahan jauh lebih lama dari yang kebanyakan investor perkirakan.