LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Peta Risiko Global Agustus 2026: Dari Hormuz ke Tarif

Agustus 2026 bukan bulan yang tenang untuk pasar. Setidaknya ada lima titik panas yang berpotensi menggerakkan harga aset secara signifikan — dan semuanya saling terhubung lewat satu benang merah: ketidakpastian kebijakan AS yang makin tidak terprediksi.

Yang paling kritis adalah situasi di Selat Hormuz. Ketegangan US-Iran belum mereda setelah serangkaian serangan militer di Juli dan reimposisi sanksi atas ekspor minyak Iran. Tidak ada sinyal bahwa salah satu pihak siap mundur. Yang memperparah situasi adalah blokade Houthi atas Arab Saudi yang diumumkan 20 Juli — mengancam terminal Yanbu di Laut Merah yang menangani sekitar 4 juta barel ekspor minyak dan kondensat per hari. Jika kedua jalur ini terganggu secara bersamaan, supply shock minyak bisa lebih dalam dari yang diperkirakan pasar saat ini. Normalisasi penuh infrastruktur — termasuk de-mining dan rekonstruksi terminal — diperkirakan baru terjadi 2027 ke atas.

Sementara itu, di front tarif, Trump administration bergerak cepat mengisi kekosongan setelah Section 122 global tariff 10% expired pada 24 Juli. Penggantinya: Section 301 tariff 10–12,5% atas lebih dari 60 negara, dengan investigasi ongoing atas 16 ekonomi manufaktur berat terkait "structural excess capacity." Ada juga beberapa Section 232 national security investigations dengan tanggal efektif tarif 31 Juli dan 29 September. Artinya, pressure terhadap mitra dagang AS tidak akan mereda — justru sebaliknya. Negara-negara yang belum deal bilateral akan terus berada dalam posisi negosiasi yang lemah.

Untuk investor yang memantau China, fokus utama Agustus adalah persiapan menuju Xi-Trump summit 24 September. Talks sedang berjalan di tiga jalur: Board of Trade, Board of Investment, dan perpanjangan Busan Agreement yang menunda berbagai economic restrictions hingga November 2026. AI dialogue juga masuk agenda — meski breakthrough besar tampaknya tidak realistis. Yang perlu dicermati: apakah ada sinyal dari Beidaihe retreat (pertemuan internal kepemimpinan China di awal Agustus) yang mengindikasikan pergeseran postur Beijing terhadap AS atau Eropa.

Di luar US-China-Iran, ada beberapa wildcard yang layak diperhatikan:

  • USMCA review: Negosiasi US-Mexico-Canada masih berlangsung dengan isu berat — automotive rules of origin, steel/aluminum, dan kini diperumit oleh tarif 50% AS atas sejumlah barang Kanada. Deadline cross-border agreement sudah diperpanjang ke 1 Agustus.
  • Referendum Iceland (29 Agustus): Voting soal apakah Iceland akan melanjutkan negosiasi aksesi EU. Polling ketat, 52% pro. Hasilnya bisa menjadi sinyal menarik tentang sentimen Eropa terhadap integrasi di tengah tekanan geopolitik.
  • G20 Finance Ministers (31 Agustus – 1 September): Pertemuan ini berpotensi gaduh. AS sebagai presidensi G20 fokus pada digital assets, debt transparency, dan deregulasi keuangan — sementara anggota lain masih ingin bahas debt relief negara berkembang dan climate finance. Pertemuan April lalu bahkan gagal menghasilkan joint communiqué.

Bottom line untuk investor: risk premium geopolitik tidak sedang turun. Energy exposure — terutama yang terhubung ke supply chain Timur Tengah — perlu direview ulang. Tariff uncertainty juga terus menekan cost of capital untuk sektor manufaktur global, termasuk yang supply chain-nya melewati Mexico, Canada, atau China. Dan dengan G20 yang kemungkinan besar tidak akan menghasilkan koordinasi bermakna, don't expect any policy backstop dari multilateral front.