LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

PMI Manufaktur Indonesia Rebound ke 50.2, Inflasi Melandai

Rangkaian rilis data makroekonomi Indonesia terbaru menunjukkan sinyal pemulihan yang cukup solid di beberapa sektor utama. Sektor manufaktur kembali mencatatkan ekspansi, sementara tekanan inflasi domestik terpantau melandai di bawah ekspektasi pasar, memberikan ruang bernapas bagi kebijakan moneter Bank Indonesia.

PMI Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansif

S&P Global Indonesia Manufacturing PMI untuk periode Juli melonjak ke level 50.2, naik signifikan dari level kontraksi 46.9 pada bulan sebelumnya. Angka di atas ambang batas 50 ini menandakan aktivitas manufaktur kembali masuk ke expansionary territory. Pemulihan ini mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas produksi dan aliran pesanan baru (new orders) domestik setelah sempat mengalami perlambatan tajam pada periode sebelumnya.

Tekanan Inflasi Juli Lebih Rendah dari Konsensus

Dari sisi indeks harga, rilis data inflasi menunjukkan tren deselerasi. Headline CPI untuk bulan Juli tercatat tumbuh 2.88% YoY, lebih rendah dibandingkan konsensus pasar (survey) yang memperkirakan angka 3.20%, serta melandai dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 3.34%. Secara bulanan (MoM), terjadi deflasi sebesar -0.14% (vs konsensus 0.09%).

Sementara itu, CPI Core YoY tetap stabil di level 2.76%, sedikit di bawah estimasi survei yang berada di angka 2.79%. Terkendalinya core inflation mencerminkan bahwa meskipun daya beli masih terjaga, tidak ada tekanan demand-pull inflation yang agresif di pasar domestik saat ini.

Defisit Neraca Perdagangan Juni Menyusut

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada bulan Juni juga menunjukkan perbaikan. Neraca perdagangan (trade balance) mencatatkan defisit sebesar -$450 juta, menyusut signifikan dibandingkan dengan defisit bulan sebelumnya yang mencapai -$1.610 juta. Angka ini juga lebih baik dari perkiraan konsensus yang memproyeksikan defisit sebesar -$780 juta.

Penyusutan defisit ini ditopang oleh kinerja ekspor yang kembali tumbuh positif sebesar 8.84% YoY, jauh melampaui estimasi konsensus yang memperkirakan kontraksi sebesar -1.15%. Di sisi lain, impor melonjak cukup tinggi sebesar 34.27% YoY (vs konsensus 23.30%), mengindikasikan adanya peningkatan permintaan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas manufaktur domestik yang mulai menggeliat.

Outlook Pertumbuhan Ekonomi Q2

Pasar kini menantikan rilis data PDB (GDP) kuartal kedua. Konsensus memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 5.10% YoY, sedikit melambat dibandingkan pencapaian kuartal pertama yang tumbuh 5.61% YoY. Namun, secara kuartalan (QoQ), PDB diperkirakan tumbuh kuat sebesar 3.50% seiring dengan siklus musiman aktivitas ekonomi kuartal kedua.