LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Q2 2026: Earnings Kuat, Tapi Tech Mulai Jadi Beban

Ada pergeseran besar yang terjadi diam-diam di pasar global sepanjang paruh kedua 2026 ini. Tech — yang selama bertahun-tahun jadi mesin utama return S&P 500 — mulai berbalik arah. Kontribusinya terhadap index return di H2 2026 sudah negatif, kontras tajam dibanding H1 di mana sektor ini jadi driver utama. Tapi di balik rotasi ini, ada cerita yang lebih menarik: earnings secara keseluruhan justru sangat kuat.

Q2 2026 tracking di angka 24% YoY EPS growth — jauh di atas konsensus awal yang sudah cukup tinggi di 22%. Beat rate-nya mencapai 86%, hampir menyamai rekor Q1–Q2 2021. Yang lebih penting, forward guidance juga lebih positif dari rata-rata historis. Artinya ini bukan sekadar earnings yang bagus di atas kertas — perusahaan-perusahaan sendiri optimis soal outlook ke depan. Bahkan 12-month earnings estimates untuk S&P 500 naik hampir 6% hanya dalam satu bulan terakhir, dan untuk mega-cap top 50, angkanya melonjak dari 19.8% ke 28.2%.

Yang menarik adalah siapa yang mendorong pertumbuhan ini. Sekelompok kecil AI-linked stocks — sekitar 49 perusahaan dari S&P 500 — menyumbang 65% dari total Q2 earnings growth, padahal market cap-nya hanya 48% dari index. Sektor energi dan banks + capital markets juga berkontribusi signifikan. Sisanya — majority of S&P 500 — hanya menyumbang 2% dari earnings growth meski mewakili 42% market cap. Konsentrasi earnings ini bukan hal baru, tapi skalanya makin ekstrem.

Di sisi inflasi, data Juni cukup mengejutkan. Headline CPI turun 0.4% MoM — penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Core CPI turun 0.02%, dengan penurunan yang broad-based. Ini membalikkan tren kenaikan yang dipicu energi sejak Maret. Fed di bawah Warsh saat ini masih hold, sambil membentuk lima task force baru yang fokus pada komunikasi kebijakan, balance sheet, kualitas data ekonomi, dampak AI terhadap produktivitas dan employment, serta reassessment framework inflasi. Gerak Fed ke depan akan sangat bergantung pada dinamika oil — yang masih volatile akibat tensi geopolitik Timur Tengah.

Emerging markets punya cerita tersendiri yang cukup compelling. Return YTD EM sudah solid, tapi yang membedakan: kenaikannya bukan karena multiple expansion. P/E forward EM justru terkompresi — harga naik, tapi earnings tumbuh lebih cepat. Ini adalah rally berbasis fundamental, bukan sentiment. Earnings growth 12-bulan ke depan untuk Asia ex-Japan diestimasi 36.9%, EM secara keseluruhan 36.2% — angka yang jauh lebih tinggi dibanding U.S. (21.5%) maupun Euro area (15.8%).

Dari sisi fixed income, Treasury yields sudah mulai decoupled dari harga minyak. Setelah sempat bergerak seiring Brent crude di awal konflik Timur Tengah, fokus pasar kini kembali ke ekspektasi kebijakan Fed. Implied probability rate hike Desember 2026 sempat melonjak dari 16% ke 35% dalam satu minggu — sinyal bahwa pasar mulai pricing in skenario yang lebih hawkish jika inflasi kembali naik.

Dalam konteks ini, ada beberapa implikasi portofolio yang layak dipertimbangkan. Pertama, stay invested in equities — earnings momentum masih kuat dan guidance positif. Kedua, follow the earnings: AI capex beneficiaries dan sektor finansial masih jadi engine pertumbuhan. Ketiga, EM patut dapat alokasi lebih — valuasi masih wajar, earnings acceleration nyata, dan AI tailwind mulai masuk ke ekosistem Asia. Keempat, diversifying alternatives mulai menunjukkan value nyata sebagai ballast — pada minggu-minggu di mana S&P 500 negatif, liquid alts rata-rata masih flat hingga sedikit positif.