LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Rate Hike Overpriced? Peluang di Obligasi Global

Ada satu tema besar yang konsisten muncul dari lanskap fixed income global saat ini: pasar sedang overpricing rate hike di developed markets. Bukan sedikit — bond market AS saat ini mendiskon hampir 2,5 kali kenaikan Fed lagi, padahal fundamental inflasi justru mengarah ke disinflasi yang berlanjut. Ini gap yang menarik, dan di situlah potensi return-nya berada.

Di AS, tekanan harga di sektor goods tetap terkendali, shelter inflation melambat secara year-on-year, dan labor market bergerak menuju equilibrium yang stabil — low-hire, low-fire. Domestic demand tumbuh di bawah potensinya. Dalam kondisi seperti ini, Fed kemungkinan besar akan memilih hawkish communication sebagai senjata pertama, bukan actual rate hike. Artinya, jika disinflasi terus berjalan sesuai ekspektasi, hike premium yang saat ini tertanam di pasar akan terkikis — dan itu jadi tailwind yang cukup signifikan untuk front-end dan intermediate duration bonds.

Di Eropa, ceritanya sedikit lebih rumit. Kenaikan harga gas akibat konflik Timur Tengah mendorong ECB kembali mempertimbangkan hike September, dan pasar sudah price in sekitar 2,5 kenaikan tambahan. Tapi underlying inflation dynamics — khususnya productivity-adjusted wage growth — masih konsisten dengan target inflasi jangka menengah. Pandangan kami: kalau ECB atau BoE akhirnya hike di musim panas ini, probabilitas hike tersebut di-reverse di 2027 cukup tinggi. Front end European government bonds, terutama di tenor 5–7 tahun, terlihat menarik. Long-end? Kurang compelling — term premium masih belum cukup mengkompensasi risiko supply obligasi pemerintah yang terus membesar, ditambah tekanan fiskal struktural dari aging demographics, defense spending, dan transisi energi.

Untuk posisi rates, stance-nya: neutral untuk AS, Eropa, UK, dan Australia. Overweight Chinese government bonds — kombinasi kebijakan makro yang supportif, domestic demand yang relatif lemah, dan ekspor yang kuat mendorong permintaan ke CGBs. Underweight JGB — yield 10-tahun sudah sentuh rekor 2,90% di awal Juli, didorong program fiskal masif pemerintah Jepang senilai JPY 370 triliun selama 15 tahun. Momentum pertumbuhan solid, inflasi sticky, dan BoJ masih dalam jalur normalisasi. Balance of risks di Jepang justru condong ke hiking cycle yang lebih cepat dan lebih dalam dari yang sudah dipriced market.

Di sisi currency, USD dan RMB jadi pilihan overweight. Dollar didukung growth differential yang persisten dan narasi AI-linked growth. Renminbi mendapat dukungan dari surplus perdagangan yang besar dan sinyal dari PBoC bahwa China tidak akan menggunakan depresiasi sebagai alat kompetitif. EUR dan GBP underweight — growth lackluster, rate differential tidak mendukung, dan risiko fiskal UK belum akan hilang setidaknya sebelum budget Oktober/November pemerintahan Burnham.

Satu bagian yang menarik adalah narasi EM resilience. Empat negara jadi ilustrasi menarik:

  • Argentina — turnaround story paling dramatis. Defisit fiskal yang dalam berhasil dibalik ke surplus, inflasi turun dari triple-digit ke sekitar 25–30% annualized, dan sovereign bond yields sudah masuk single digit. Moody's baru upgrade ke B3 dengan outlook positif. Risikonya: refinancing needs masih besar dan policy continuity adalah syarat mutlak.
  • South Africa — SARB jadi EM first-mover dengan hike 25 bps Mei ini, inflasi target diturunkan ke 3%, dan commodity tailwind dari rally precious metals memperkuat current account. Resiliensi currency dan local bonds terjaga di tengah oil shock.
  • Romania — front-loaded fiscal consolidation yang outpace ekspektasi. Defisit Jan–Mei 2026 hanya 1,7% GDP vs 3,4% di periode yang sama tahun lalu. Kalau tren ini berlanjut, full-year deficit bisa di bawah target 6,2%.
  • Indonesia — paling challenging. Current account deficit yang sempit tapi persisten, dikombinasikan dengan capital outflows yang meningkat pasca regime change 2024, menghasilkan tekanan pada rupiah. Otoritas mulai bergeser ke arah lebih ortodoks: BI mulai reverse easing, bond yields dibiarkan naik sesuai kondisi pasar. Risiko utama: agenda belanja presiden yang dipindahkan ke Danantara melemahkan komitmen fiskal, dan BI masih lebih nyaman dengan liquidity management temporer ketimbang outright rate hike.

Satu tema tambahan yang layak diperhatikan: spread widening di segmen hyperscaler bonds. Ini masih lebih bersifat teknikal — pasar harus menyerap volume issuance yang belum pernah sebesar ini, tied to AI infrastructure capex yang terus naik tiap earnings season. Fundamentals issuer-nya sendiri masih solid: balance sheet kuat, leverage dalam batas investment grade, cash flow sehat. Tapi kalau supply terus bertambah tanpa diimbangi demand yang cukup, spillover ke broader investment grade market hanya soal magnitude, bukan arah.