LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Rogoff: Krisis Fiskal AS Tinggal Menunggu Waktu

Ken Rogoff bicara jujur soal utang AS, Social Security, dan skenario krisis yang bisa memaksa Washington bertindak. Analisis mendalam untuk investor global.


Ken Rogoff tidak sedang berspekulasi. Ekonom Harvard yang pernah memimpin riset di IMF ini punya track record panjang dalam membaca siklus krisis — dan saat ini, ia melihat Amerika Serikat sedang berjalan menuju sebuah titik patah yang hanya bisa dicegah oleh tindakan politik yang, ironisnya, hampir mustahil terjadi sebelum krisis itu sendiri meledak.

Pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah krisis fiskal AS akan datang, melainkan apa yang akan memicunya — dan seberapa siap portofolio Anda menghadapi skenario itu.

Dari 1999 ke 2026: Bagaimana Kita Sampai di Sini

Ada sebuah foto yang cukup ikonik — era Clinton, surplus fiskal, dan optimisme bahwa Amerika bisa mengelola keuangannya secara bertanggung jawab. Rogoff menyebut dua catastrophe besar yang mengubah segalanya: global financial crisis 2008 dan pandemi COVID-19. Keduanya memaksa pemerintah membuka keran fiskal lebar-lebar, dan keduanya meninggalkan warisan utang yang belum pernah benar-benar diselesaikan.

Tapi ada faktor yang lebih dalam dari sekadar krisis. Selama bertahun-tahun, ada semacam konsensus quasi-religius di kalangan ekonom akademis bahwa suku bunga akan terus turun secara struktural — sehingga beban utang dianggap tidak relevan. Kalau bunga mendekati nol, siapa yang peduli berapa banyak yang Anda pinjam? Logika ini, sebut Rogoff, mendominasi wacana kebijakan dan memberi legitimasi intelektual bagi pengeluaran yang tidak terkendali.

Suku bunga sudah berbalik. Washington belum.

Supply-Side Illusion

Salah satu argumen yang beredar di lingkaran kebijakan saat ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat akan menyelesaikan masalah fiskal secara organik — lebih banyak output, lebih banyak penerimaan pajak, rasio utang terhadap PDB turun sendiri. Rogoff tidak sepenuhnya menolak kemungkinan itu, tapi ia menunjukkan beberapa lubang dalam logika tersebut.

Pertama, AS sudah sangat kaya. Bahkan dengan pertumbuhan lambat sekalipun, secara teori negara ini mampu membayar tagihannya — masalahnya bukan kapasitas, melainkan political will. Kedua, pertumbuhan yang lebih cepat kemungkinan besar akan mendorong suku bunga lebih tinggi, yang justru meningkatkan debt servicing cost. Ketiga, labor share dalam ekonomi terus menurun, sementara capital semakin sulit untuk dikenai pajak secara efektif — artinya windfall dari pertumbuhan tidak otomatis berakhir di kas negara.

Ada juga dimensi geopolitik yang sering diabaikan dalam model pertumbuhan optimistis ini. Konflik di kawasan Timur Tengah, eskalasi antara China dan Taiwan, atau bahkan serangan siber berskala besar — semua ini bisa mendorong yield obligasi naik secara tiba-tiba dalam skenario yang tidak bisa dikendalikan oleh Fed maupun Treasury.

Social Security dan Paradoks Demokrasi

Rogoff sangat eksplisit soal ini: reformasi entitlement — terutama Social Security — hampir tidak mungkin dilakukan sebelum ada krisis yang cukup menyakitkan untuk menggerakkan opini publik. Ini bukan pesimisme murahan. Ini adalah observasi empiris tentang bagaimana demokrasi bekerja.

Lihat apa yang terjadi di Prancis ketika Macron mencoba mereformasi sistem pensiun. Atau di negara-negara lain yang mencoba menyentuh program sosial yang sudah terlanjur dianggap sebagai hak. Reaksi publik hampir selalu sama: penolakan keras, tekanan politik yang besar, dan akhirnya kebijakan yang setengah-setengah atau dibatalkan sama sekali.

Di AS, dinamikanya tidak berbeda. Siapapun yang mencoba menjadikan reformasi Social Security sebagai platform kampanye 2028 akan menghadapi keheningan — atau lebih buruk, backlash. Rogoff menyebutnya dengan jelas: "people's eyes glaze over." Mata pemilih langsung kosong begitu topik ini muncul.

Ini adalah paradoks demokrasi yang paling klasik: masalah jangka panjang yang membutuhkan tindakan jangka pendek, tetapi insentif elektoral selalu mendorong politisi untuk menunda.

Skenario Krisis: Bukan Soal Yield, Tapi Soal Shock

Banyak investor yang bertanya: di level yield berapa krisis akan terjadi? Rogoff menjawab pertanyaan itu dengan cara yang lebih nuanced. Bukan angka yield-nya yang menentukan — melainkan kombinasi antara level utang yang sudah tinggi dan datangnya sebuah shock eksternal yang tidak terduga.

Ketika Anda sudah tidak punya ruang fiskal, bahkan shock yang relatif kecil pun bisa menjadi katalis. Rogoff menyebut beberapa skenario: eskalasi konflik bersenjata, cyber warfare skala besar, atau krisis AI yang spektakuler. Dalam kondisi seperti itu, Fed tidak bisa sekadar memotong suku bunga jika pasar obligasi yang mendorong yield naik. Pemerintah tidak bisa sekadar mencetak uang jika inflasi sudah menjadi constraint.

Ini adalah perbedaan mendasar antara krisis 2008 dan skenario yang Rogoff gambarkan. Pada 2008, ruang fiskal masih ada — pemerintah bisa melakukan stimulus besar-besaran. Dalam skenario berikutnya, ruang itu sudah jauh lebih sempit.

Implikasi untuk Investor

Rogoff sendiri mengakui bahwa timing adalah hal yang paling sulit dalam analisis semacam ini. Shiller dan Greenspan pernah memperingatkan overvaluation pasar saham ketika indeks masih di 4.000 — dan mereka benar, tapi indeks sempat naik ke 8.000 sebelum akhirnya koreksi. Benar dalam arah, salah dalam timing, dan itu cukup untuk menghancurkan portofolio jika Anda keluar terlalu awal.

Pelajaran yang lebih praktis: bukan tentang kapan keluar dari aset berisiko, melainkan tentang memastikan portofolio cukup resilient menghadapi skenario rate yang lebih tinggi untuk lebih lama. Dalam konteks Indonesia, ini berarti memperhatikan sensitivitas IHSG terhadap pergerakan yield US Treasury, dinamika rupiah di tengah tekanan eksternal, serta memilih instrumen yang memberikan buffer — baik melalui dividend yield yang solid maupun diversifikasi ke aset yang tidak berkorelasi langsung dengan risk appetite global.

Rogoff tidak menyarankan kepanikan. Ia menyarankan kejujuran — tentang seberapa rapuh fondasi fiskal yang selama ini kita anggap sebagai given. Dan kejujuran itu, dalam konteks investasi, selalu lebih berharga daripada optimisme yang tidak berakar.