Rupiah berhasil menembus kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 per Dolar AS, diperdagangkan di level Rp17.988,1. Penguatan ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah penundaan aksi militer AS terhadap Iran, yang memicu sell-off pada komoditas minyak mentah. WTI dan Brent masing-masing terkoreksi signifikan mendekati 5% ke level USD79,92 dan USD83,57 per barel.
Katalis utama pergerakan valas global hari ini adalah langkah historis otoritas moneter AS dan Jepang yang melakukan coordinated FX intervention untuk mendukung Yen Jepang. Ini merupakan intervensi bersama pertama sejak 2011. Dampaknya langsung terasa di pasar finansial global; USD/JPY tertekan ke level 156,60, yang pada gilirannya menyeret Dollar Index (DXY) melemah hingga menembus ke bawah level psikologis 100 ke posisi 99,640. Pelemahan DXY ini memberikan ruang napas yang cukup besar bagi mata uang emerging markets.
Penurunan harga minyak mentah global tidak hanya meredakan kekhawatiran inflasi global, tetapi juga menurunkan beban fiskal APBN Indonesia terkait impor energi. Dengan berkurangnya tekanan pada neraca perdagangan, posisi cadangan devisa Bank Indonesia menjadi lebih solid untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus melakukan intervensi agresif di pasar spot maupun DNDF.
Meredanya ketegangan geopolitik dan intervensi valas global ini kembali memicu risk-on sentiment di kalangan pelaku pasar. Aset safe-haven seperti emas tetap mencatatkan apresiasi tipis ke USD4.064,82 per troy ounce, namun fokus pasar kini mulai beralih ke aset berisiko. Bagi Indonesia, kombinasi dari penguatan Rupiah dan penurunan harga energi memberikan double impact yang positif untuk menekan risiko imported inflation.
Secara keseluruhan, momentum ini membuka peluang terjadinya capital inflow yang lebih masif ke pasar saham (IHSG) dan pasar obligasi domestik dalam jangka pendek. Jika DXY tetap bertahan di bawah level 100, Rupiah berpotensi melanjutkan konsolidasi penguatannya menuju level support berikutnya.