LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Rupiah Menguat, IHSG Tertahan di 6.400

Rupiah menguat 0,7% ke 17.762 didorong data tenaga kerja AS yang lemah. IHSG naik 2,1% MTD tapi gagal breakout 6.400. Apa impikasinya?


Rupiah ditutup menguat 0,7% ke level 17.762 pada Senin (10/8), membawa total penguatan sejak awal Agustus ke 1,3%. Katalisnya cukup jelas: data Non-Farm Payrolls Juli AS yang dirilis jauh di bawah ekspektasi — hanya turun 23.000, versus konsensus yang memperkirakan tambahan 80.000 lapangan kerja. Angka ini langsung memukul probabilitas kenaikan suku bunga The Fed di September, dari 67% menjadi 44% dalam sepekan.

Yang menarik bukan sekadar angka payroll-nya, tapi komposisi di baliknya. Tingkat pengangguran memang membaik ke 4,1%, tapi bukan karena lebih banyak orang bekerja — melainkan karena 264.000 orang keluar dari angkatan kerja. Labor force participation rate turun ke 61,4%, level terendah dalam 5,5 tahun. Ini bukan tanda pasar tenaga kerja yang sehat; ini tanda kelemahan struktural yang lebih dalam. Pasar membaca ini sebagai sinyal bahwa Fed punya ruang — dan tekanan — untuk mulai melonggar.

Dollar Index merespons dengan turun ~0,4% ke 99,6. Emas melonjak +2% ke sekitar US$4.340/oz, melanjutkan tren bullish-nya di tengah ekspektasi suku bunga yang semakin dovish. Dalam konteks ini, penguatan Rupiah dan aset-aset komoditas berjalan beriringan.

Di sisi domestik, IHSG naik 2,1% secara month-to-date, dengan sektor Basic Materials memimpin penguatan sebesar +6,2% — didorong oleh saham-saham logam dan pertambangan yang ikut terdongkrak momentum emas dan komoditas global. Tapi ada satu hal yang patut dicatat: IHSG gagal menembus resistance 6.400. Penguatan ada, tapi belum cukup kuat untuk breakout dari level psikologis tersebut.

Ada juga faktor domestik yang sedang diperhatikan pasar. Pencalonan tunggal Destry Damayanti sebagai Gubernur BI permanen oleh Presiden Prabowo memberikan sedikit kepastian arah kepemimpinan bank sentral. Destry membawa pengalaman lebih dari tiga dekade di riset ekonomi dan tata kelola sektor keuangan. Tapi pasar belum sepenuhnya tenang — revisi UU P2SK memunculkan pertanyaan soal independensi BI ke depan. Chief Economist Permata Bank mengingatkan bahwa risk premium bisa meningkat jika BI memotong suku bunga terlalu cepat atau mulai menyuntikkan likuiditas untuk mendanai program fiskal. Ini bukan kekhawatiran yang berlebihan — ini adalah pertanyaan struktural yang wajar ditanyakan investor jangka panjang.

Dua tanggal yang layak diperhatikan dalam waktu dekat: rilis CPI AS pada 12 Agustus, dan pidato kenegaraan Presiden pada 14 Agustus yang akan memberikan gambaran arah anggaran 2027. Keduanya berpotensi menjadi katalis lanjutan — atau justru menjadi rem — bagi pergerakan Rupiah dan IHSG.