LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Selat Hormuz: Negosiasi Iran-Oman Mandek

Kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz belum final. Pergeseran kekuatan di tubuh IRGC dan tuntutan baru Iran memperumit negosiasi yang sudah rapuh.


Negosiasi antara Iran dan Oman mengenai mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum mencapai titik final. Meski kabar yang beredar menyebut pembicaraan sudah berada di tahap akhir, berbagai sinyal kontradiktif dari Teheran membuat pasar energi global — dan siapa pun yang memantau dinamika geopolitik Timur Tengah — perlu memahami betapa kompleksnya situasi ini.

Apa yang Sebenarnya Sedang Dinegosiasikan?

Inti dari pembicaraan Iran-Oman bukan soal perdamaian komprehensif atau normalisasi hubungan Iran-Amerika. Lingkupnya jauh lebih sempit: sebuah mekanisme teknis yang akan memungkinkan kapal-kapal — baik inbound maupun outbound — untuk kembali melintas melalui Selat Hormuz. Menurut pihak Iran sendiri, pembukaan ini bersifat sementara, hanya untuk mengalirkan kembali tetesan ekspor minyak yang selama ini tersumbat di jalur perairan strategis tersebut.

Selat Hormuz adalah salah satu chokepoint energi paling kritis di dunia. Sekitar 20% dari total perdagangan minyak global melewati jalur ini setiap harinya. Ketika akses terganggu, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak di Asia, tetapi juga langsung tercermin pada harga minyak mentah di pasar berjangka. Setiap eskalasi atau de-eskalasi di sini adalah market-moving event kelas satu.

Tuntutan Iran yang Terus Bergeser

Salah satu hal yang mempersulit negosiasi adalah inkonsistensi posisi Iran sendiri. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa Teheran untuk saat ini menolak negosiasi lebih luas dengan Amerika Serikat. Ia juga menyebut bahwa pelanggaran berulang AS terhadap gencatan senjata yang disepakati pada Juni lalu menjadi hambatan utama bagi kemajuan diplomatik yang lebih substansial.

Namun di saat yang hampir bersamaan, muncul nama Mohamed Baqir Qalibaf — seorang tokoh garis keras dari IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) yang baru saja diangkat sebagai penasihat politik Pemimpin Tertinggi. Qalibaf sempat menyebut sejumlah konsesi yang bisa diterima Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, antara lain: pencabutan blokade angkatan laut AS, pengakhiran permanen perang terhadap Iran, pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, serta penghapusan sanksi minyak.

Namun hampir bersamaan, Kementerian Luar Negeri Iran merilis pernyataan resmi dengan framing yang sedikit berbeda — menekankan bahwa AS harus mengakhiri perang secara permanen dan memberikan kompensasi atas pelanggaran yang telah terjadi. Dua suara dari dua entitas berbeda dalam satu pemerintahan, dalam rentang waktu kurang dari beberapa jam. Ini bukan sekadar inkonsistensi komunikasi — ini mencerminkan adanya friksi internal di dalam struktur kekuasaan Iran itu sendiri.

Reshuffling IRGC: Sinyal Garis Keras?

Pergeseran komposisi di lingkaran dalam kekuasaan Iran yang terjadi akhir pekan lalu layak dicermati lebih dari sekadar rotasi biasa. Penunjukan figur berlatar belakang IRGC ke posisi penasihat Pemimpin Tertinggi secara historis kerap menjadi indikator bahwa pendekatan diplomasi akan bergeser ke arah yang lebih keras dan kurang fleksibel.

Dalam konteks negosiasi nuklir Iran di masa lalu — misalnya pada periode 2012-2013 sebelum JCPOA — dominasi figur militer dalam proses pengambilan keputusan selalu memperlambat kemajuan perundingan. Pola yang sama tampaknya berpotensi terulang. Jika IRGC semakin mengkonsolidasikan pengaruhnya dalam kebijakan luar negeri, maka ekspektasi terhadap pembukaan Selat Hormuz dalam waktu dekat perlu direvisi ke bawah.

Implikasi bagi Pasar Energi dan Investasi

Dari perspektif investasi, situasi ini menciptakan risk premium yang sulit dihitung secara presisi. Harga minyak mentah — baik Brent maupun WTI — selama ini sudah mengandung komponen geopolitical risk dari ketegangan di Timur Tengah. Namun ketidakpastian yang bersifat open-ended seperti ini, di mana tidak ada timeline yang jelas dan posisi negosiasi terus bergeser, cenderung menjaga volatilitas tetap tinggi.

Bagi investor yang terekspos pada saham-saham energi, khususnya emiten yang sensitif terhadap harga minyak global, dinamika ini perlu masuk dalam kalkulasi thesis investasi. Di pasar modal Indonesia, sejumlah emiten di sektor energi dan perkapalan memiliki korelasi yang cukup erat dengan pergerakan harga minyak dunia. Ketika Selat Hormuz kembali menjadi variabel ketidakpastian, earnings visibility emiten-emiten tersebut ikut terdiskon.

Satu hal yang tampak jelas dari keseluruhan situasi ini: jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz masih panjang dan berliku. Negosiasi Iran-Oman mungkin berada di tahap akhir secara teknis, tetapi dinamika politik internal Iran — ditambah absennya dialog langsung antara Teheran dan Washington — membuat setiap perkembangan positif rentan terhadap reversal mendadak. Pasar energi global akan terus memantau, dan volatilitas kemungkinan besar belum akan mereda dalam waktu dekat.