LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Siapa Pemegang Terbesar Utang AS $40 Triliun?

Utang nasional AS melampaui $40 triliun. Jepang memimpin sebagai pemegang terbesar, sementara China terus memangkas kepemilikannya separuh dari puncak 2013.


Total utang nasional Amerika Serikat kini resmi melampaui $40 triliun — angka yang sulit dibayangkan skalanya, tapi implikasinya sangat konkret bagi pasar global. Pertanyaan yang lebih menarik bukan seberapa besar utangnya, melainkan siapa yang memegangnya dan apa motivasi di balik kepemilikan itu.

Jepang duduk di posisi puncak dengan $1,1 triliun U.S. Treasuries — jauh meninggalkan negara lain. Posisi ini bukan kebetulan. Jepang mengambil alih peringkat pertama dari China sejak 2019, dan sejak saat itu gap-nya makin melebar. Yang menarik, pertengahan 2026 ada dinamika baru: AS dilaporkan membantu memperkuat yen untuk membatasi potensi Japanese sell-off of U.S. Treasuries. Ini sinyal bahwa kepemilikan Jepang yang masif bukan sekadar investasi pasif — ia punya dimensi geopolitik dan kurs yang kompleks.

Di posisi kedua, Inggris mencatat $940 miliar, angka yang cukup mengejutkan mengingat skala ekonominya relatif lebih kecil dibanding China. Ini sebagian besar mencerminkan peran London sebagai pusat keuangan global, di mana banyak fund manager dan institusi internasional menyimpan Treasuries melalui rekening kustodian di sana.

Bicara soal China — inilah yang paling menarik secara strategis. Kepemilikan Beijing saat ini hanya $633 miliar, turun hampir 50% dari posisi puncaknya di 2013–2014. Diversifikasi cadangan devisa China dari U.S. Treasuries ke aset lain (termasuk emas) sudah berjalan satu dekade, dan trennya konsisten. Meski begitu, dengan $633 miliar, China masih masuk tiga besar — cukup besar untuk tetap relevan sebagai faktor risiko jika Beijing memutuskan untuk mempercepat divestasi.

Ada dua nama dalam daftar ini yang perlu dipahami konteksnya: Belgia ($483 miliar) dan Kepulauan Cayman ($453 miliar). Keduanya bukan mencerminkan kekuatan ekonomi domestik mereka, melainkan fungsi sebagai custody hub. Data Treasury AS mencatat lokasi rekening kustodian, bukan pemilik akhir sebenarnya. Artinya, Treasuries yang "dipegang" Belgia dan Cayman kemungkinan besar milik investor dari negara lain yang menyimpan aset melalui infrastruktur keuangan di sana — termasuk offshore hedge funds.

Dari perspektif fixed income global, dominasi U.S. Treasuries sebagai safe haven asset masih tidak tertandingi. Pasar ini tetap yang paling dalam dan paling likuid di dunia. Tapi dengan utang yang terus membengkak dan beberapa holder besar — terutama China dan Jepang — menunjukkan sinyal pergeseran, pertanyaan soal sustainability of demand untuk Treasuries jadi semakin relevan bagi investor jangka panjang.

Bagi investor Indonesia, perkembangan ini punya dampak tidak langsung yang nyata: pergerakan yield U.S. Treasury adalah salah satu penentu utama arah capital flow ke emerging markets, termasuk Indonesia. Ketika yield naik karena demand melemah atau supply membanjir, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi domestik hampir pasti mengikuti.