Penjualan SIDO turun 20% YoY di H1 2026, margin kotor ambles ke 51%. EPS dipangkas 29% untuk FY26. Apakah harga Rp358 sudah cukup murah?
Sido Muncul ($SIDO) menutup paruh pertama 2026 dengan hasil yang sulit dibantah: total penjualan turun 20% YoY, dan segmen Herbal — tulang punggung bisnis ini — anjlok 41% YoY. Bukan sekadar perlambatan, ini adalah kontraksi yang cukup tajam untuk perusahaan yang selama beberapa tahun terakhir terbiasa tumbuh konsisten.
Yang menarik adalah dinamika di level distribusi. Sell-in ke distributor memang kolaps sekitar 32% YoY di Q2, tapi sell-out ke konsumen akhir justru tumbuh 8% YoY di periode yang sama. Artinya, permintaan konsumen tidak benar-benar hilang — yang terjadi adalah proses normalisasi stok di level distributor yang sudah berlangsung cukup lama. Inventory distributor kini sudah turun ke rentang bawah target 19–25 hari, yang secara teknis berarti channel reset sudah hampir selesai.
Tapi masalah tidak berhenti di situ. Margin compression yang terjadi di H1 2026 cukup signifikan: gross margin turun dari 57% ke 51%, dan operating margin ambles dari 41% ke 29%. Tekanan datang dari kombinasi kenaikan biaya input — gula, taurin, asam sitrat, dan kemasan — sementara penurunan harga patchouli oil, jahe, dan vitamin C belum cukup mengimbangi. Di atas itu, anggaran A&P untuk FY26 diproyeksikan di kisaran 10–12% dari penjualan, yang wajar untuk menjaga brand equity Tolak Angin, tapi tetap menekan bottom line di tengah revenue yang sedang turun.
Guidance FY26 kini direvisi menjadi sekitar -10% YoY untuk revenue, jauh dari proyeksi flat sebelumnya. Estimasi laba FY26 dipangkas 29% — dari Rp41 ke Rp29 per saham — sementara konsensus masih duduk di Rp41. Gap antara estimasi terbaru dengan konsensus ini cukup lebar dan kemungkinan akan memicu downward revision dari analis lain dalam waktu dekat.
Dari sisi valuasi, saham diperdagangkan di Rp358 versus 52-week high Rp580 — sudah turun lebih dari 38% dari puncaknya. Pada harga ini, P/E FY26E berada di 12,4x dengan dividend yield sekitar 7,4%. EV/EBITDA di 8,7x dan FCF yield mendekati 10% — angka-angka yang mulai terlihat menarik untuk perusahaan dengan ROIC historis di atas 50% dan posisi kas bersih yang masih solid (net cash Rp603 miliar proyeksi FY26E).
Tolak Angin mempertahankan market share Nielsen sekitar 71%, dan penjualan internasional tumbuh 28% YoY di H1 2026 (berkontribusi 12,5% dari total revenue) — dua sinyal bahwa fundamental brand masih kuat. Pertanyaannya bukan apakah SIDO akan recovery, tapi seberapa cepat sell-in akan kembali normal setelah channel sudah bersih, dan apakah margin bisa rebuild ke level historisnya ketika tekanan input cost mulai mereda.
Target price direvisi ke Rp380 dengan rating Neutral — upside dari harga saat ini hanya sekitar 6%, terlalu tipis untuk mengambil posisi agresif. Tapi untuk investor yang sudah hold dari level lebih tinggi, thesis jangka panjang belum rusak. Yang berubah hanyalah timeline recovery-nya.